Minggu, 10 Februari 2019

JENIS JENIS PENDEKATAN PRICING MENU MANA YANG COCOK BUAT ANDA


JENIS JENIS PENDEKATAN PRICING MENU
MANA YANG COCOK BUAT ANDA /

1. Subjective Price, menetapkan harga berdasarkan intuisi dan pengetahuan kebutuhan konsumen. Seolah memahami kebutuhan dan wants konsumen akan harga menu yang akan di jual. Beberapa sering kali rugi atau bahkan untung karena terjadi kesenjangan akan realita. Ada yang dengan heroik menjual ayam harga 10K atau sepotong dorry  dengan harga 70 K.  Kadang seorang marketer yang tahu kebutuhan konsumen memakai cara ini.
2.Reasonable Price, menganggap nilai adil dan setara terhadap value yang diberikan. Jadi jika memang kwalitas ayam yang dijual adalah ayam kampung maka fairness dan equitable nya memang mahal. Ayam kampung sangat langkah dan sehat sebagai alasan nya.
3.Highest Price , menetapkan harga tertinggi dimana konsumen rela membayarnya. Pada produk fish n chip misalnya, ketika resto Internasional menetapkan menu dengan price 90 K, maka jika kelas diturunkan ke segment midlle, kira kira level willing highest price konsumen bisa jadi di angka 45 or 50 K.
4. Intuitif Price, yakni menetapkan harga menu dengan cara tebakan, asumsi dan dugaan.
5. Loss Leader price, adalah menetapkan harga rendah yang tidak wajar dengan tujuan bring in/ mendatangkan konsumen sehingga restaurantnya ramai. Metode price sangat populer digunakan UKM yang terutama main di red ocean. Pada Ayam geprek metode ini paling favorite sehingga muncul menu harga murah banget yang tidak masuk akal. warung mie, bakso dan nasi padang sering dijumpai harga yang murah pakai banget. Misal Rp 5000, 6000,7000 dan lebih murah lagi. Tujuannya agar konsumen datang dan ramai.
6. Analisa base on activity, sebenarnya  cara keenam ini adalah methode pendekatan yang sering kali saya ajarkan di kelas saya karena mengingat terjadi perubahan model bisnis dunia usaha kuliner yang tidak sekedar sebuah warung kecil yang masak pagi tutup sore hari, tapi jaringan resto yang kompleks melibatkan supply chain dari farmer to fork. Semua activitas dianggap biaya yang akan dibebankan pada harga pokok produk sehingga perhitungannya benar benar aman dari potensi missing dan tebak tebakan. Analisa ini juga dibuat agar key performa usaha kuliner dengan indikator cepat,efisien dan manfacturable bisa dipenuhi. Tiap tahapan berdampak terhadap harga disertai asumsi dan dasar setiap unit bisnis memiliki optimal/maksimal kapasitas yang harus dipenuhi. Penetapan biaya bisa berupa biaya tetap dan variable.
Memang cara ini agak sedikit ruwet di awal, tapi pada akhirnya semua memahami performa pricing dan tingkat efisiensinya. Jika cara ini digunakan maka data real harga produk terdokumentasi dengan baik. Contoh, karena ayam bakar prosesnya  butuh membakar yang lama, maka ayam bakar harus lebih mahal dari ayam goreng. Menyajikan sambal mentah perlu ketepatan holding time sehingga diperlukan sense khusus pembuat sambal, maka bisa jadi sambal mentah harganya lebih mahal, karena konsep resto yang diusung adalah fine dining maka pricingnya juga tidak boleh sama dengan menu paketan yang kenyang karena ada beda servis. Ataupun jualan kopi dengan take away harus dibebankan biaya kemasan.
Dengan cara ini tiap Produk punya rendemen sendiri

Yuyun Anwar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar