Rabu, 30 Mei 2018

Visualisasi?

Visualisasi secara umum dipercaya sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Namun, mengamati beberapa hasil riset berikut, kita perlu memikirkan ulang kembali kepercayaan ini.

Riset Lime Pham & Shelley Taylor di Universitas California.

Setiap hari mahasiswa diminta membayangkan diri mereka memperoleh nilai tinggi dalam sebuah UTS yang akan dilaksanakan.

Mereka diminta membayangkan dengan jelas dan merasakan betapa menyenangkannya pengalaman tersebut.

Mahasiswa lainnya digunakan sebagai kelompok kendali (control group). Mereka diminta melakukan kegiatan seperti biasa.

Kedua kelompok diminta mencatat jumlah jam yang digunakan untuk belajar.

Hasilnya, kelompok mahasiswa yang melakukan visualisasi belajar lebih sedikit dan mendapatkan nilai yang lebih rendah.

Mungkin latihan ini membuat mereka merasa lebih baik dengan diri sendiri, namun tidak mencapai apa yang mereka inginkan.

Penelitian Gabriele Oettingen & Thomas Wadden dari Universitas Pennsylvania:

Mereka mengikuti para wanita yang sedang mengikuti program penurunan berat badan. Selama latihan mereka diminta membayangkan bagaimana mereka akan bersikap dalam berbagai skenario yang berhubungan dengan makanan.

Misal saat mereka tergiur es krim, pizza dan semacamnya.

Setiap tanggapan mereka dikategorikan dalam dua kelompok:

1. Tanggapan positif (misal: "saya akan menjauh dari es krim tersebut")
2. Tanggapan negatif (misal: "saya akan lahap semuanya, bahkan saya akan lahap jatah teman saya)

Setelah satu tahun, apakah kelompok dengan tanggapan positif lebih berhasil dalam menurunkan berat badannya?

Ternyata tidak. Kelompok tanggapan negatif berhasil menurunkan berat badan 12 kg lebih banyak dibandingkan kelompok tanggapan positif.

Visualisasi positif mereka tidak membantu mencapai sasaran mereka.

Efek yang sama pun terjadi pada kehidupan karier.

Oettingen meminta mahasiswa tahun terakhir mencatat seberapa sering mereka berkhayal mendapatkan pekerjaan yang mereka idam-idamkan sesudah lulus universitas.

Dua tahun kemudian ditemukan, mahasiswa yang sering bervisualisasi kesuksesan justru lebih sedikit membuat lamaran kerja, menerima jumlah tawaran kerja lebih sedikit dan mendapatkan gaji lebih sedikit dibandingkan lainnya.

Penelitian Richard Wiseman.

Wiseman melakukan penelitian pada 5000 orang yang sedang berusaha mencapai tujuan.

Dia membuat daftar 10 metode yang paling sering dipakai dalam mewujudkan tujuan/impian.

Peserta diberi waktu 6 bulan s/d 1 tahun untuk mencapai tujuan mereka.

Di akhir periode, mereka diminta melaporkan tingkat keberhasilan mereka dan metode apa saja yang mereka gunakan untuk meraih tujuan mereka.

Dari 5000 peserta, hanya sekitar 10% peserta yang berhasil mencapai tujuan mereka. Metode apa saja yang mereka gunakan? Nanti kita lihat.

Berikut kuisioner yang dibagikan oleh Wiseman.

Pada waktu berusaha untuk mengubah sebuah aspek penting dalam hidup saya, biasanya saya akan:

1. Menyusun rencana langkah demi langkah
2. Memotivasi diri sendiri dengan mengarahkan perhatian ke figur yang saya kagumi karena kesuksesannya
3. Menceritakan cita-cita saya kepada orang lain
4. Memikirkan hal buruk yang akan terjadi bila saya tidak berhasil mencapai cita-cita saya
5. Memikirkan hal-hal yang menyenangkan yang akan terjadi bila saya berhasil mencapai cita-cita saya
6. Berusaha menekan pikiran-pikiran yang tidak berguna
7. Memberi penghargaan kepada diri sendiri atas kemajuan yang berhasil dicapai dalam meraih cita-cita
8. Mengandalkan tekad dan kemauan (willpower)
9. Membuat catatan tentang kemajuan yang saya capai (misal dalam bentuk jurnal atau bagan)
10. Membayangkan betapa hebatnya kehidupan saya bila berhasil meraih cita-cita

Menariknya, peserta yang memilih nomor genap cenderung gagal mencapai tujuan mereka

Sementara peserta yang memilih nomor ganjil lebih cenderung berhasil mencapai tujuan mereka

Jadi, cara yang terbukti berhasil dalam mewujudkan tujuan adalah:

1. Membuat rencana langkah demi langkah
2. Menceritakan cita-cita/tujuan ke orang lain
3. Memikirkan manfaat yang akan didapat bila kita berhasil
4. Membuat catatan tentang kemajuan yang saya capai
5. Memberi penghargaan atas kemajuan yang terjadi

Lalu, apakah semua visualisasi berdampak negatif? Ternyata kita masih dapat memperoleh manfaat positif dari visualisasi.

Masih menurut Oettingen, kita bisa mendapatkan manfaat positif visualisasi dengan melakukan visualisasi dua langkah.

Pertama:

Bayangkan hasil akhir yang Anda inginkan.
Bayangkan upaya yang dilakukan untuk mencapai hasil akhir tersebut.
Catat dua manfaat terbesar yang akan diperoleh dari pencapaian itu.
Bayangkan hambatan yang mungkin terjadi saat mereka berusaha mencapai tujuan tersebut.
Catat dua hambatan terbesar.

Kedua:

Bayangkan manfaat terbesar pertama yang mereka dapatkan, bayangkan bagaimana manfaat tersebut akan membuat hidup mereka lebih menyenangkan.
Bayangkan hambatan pertama dan langkah yang akan Anda lakukan untuk menanganinya.
Bayangkan hambatan kedua dan langkah yang akan Anda lakukan untuk menanganinya.

Ulangi untuk manfaat terbesar kedua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar