Sabtu, 02 September 2017

Fakta dan Fenomena Disruptive pada PT di Indonesia

*Fakta dan Fenomena Disruptive pada PT di Indonesia*

1. Perguruan Tinggi (PT) di indonesia ternyata sudah "tersesat", jumlahnya terlalu banyak.

2. Indonesia mempunyai 4529 PT, di eropa tidak sampai 2000 PT, dan di cina yang penduduknya 5x lipat dari indonesia, jumlah PT nya hanya 2824.

3. 60%-70% PT di indonesia ternyata kampus kecil2, dengan 1 prodi dan mahasiswa sekitar 15 orang.

4. Mutu PT di indonesia ternyata masih jauh dari harapan, akreditasi A masih 750 PT.

5. Di negara maju perbandingan PT Vokasi dan non Vokasi minimal adalah sama, sedangkan di indonesia jumlah vokasi hanya 222 PT dari total 4529 PT

6. Ternyata dalam 1 tahun jumlah penelitian dosen ada 14rb - 17rb buku yang kalau dikumpulkan bisa memenuhi seluruh gedung ristekdikti. Dosen harus kembali ke khittah menjadi pengajar dengan skill terupdate dan bukan hanya mementingkan riset dan publikasi.

7. Anggaran untuk penelitian, publikasi internasional, paten dan prototype dalam 1th sekitar 1.5-2 T. Apakah ini yang diharapkan dari para dosen kita.

8. Di Malaysia, kalau ada prof yang melakukan penelitian level TRL 9 tidak boleh mengkomersilkan sendiri, harus diserahkan pada ahlinya (orang bisnis)

9. Langkah pemerintah menggabungkan Ristek dan Dikti, bertujuan agar penelitian bisa menjadi inovasi adalah langkah positif, dengan membentuk Pusat Unggulan Iptek (PUI) dan Pusat Unggulan Teknologi (PUT) di kampus. Kita tunggu hasilnya, semoga optimal.

10. Inkubator bisnis di kampus harus didukung, STP (Science Techno Park) harus dibangun. di Taiwan, STP yang didalamnya ada banyak industri, mereka (kampus dan inkubator) mendapatkan revenue sampai 60M US per tahun.

11. Sudah mulai bermunculan perusahaan besar yang tidak mewajibkan memiliki ijazah PT sebagai syarat menjadi pekerja.

12. Semakin banyak alumni PT yang tidak bekerja sesuai kompetensi yang dipelajari dan jurusan yang dipilih. Bahkan beberapa lebih memilih menikmati kerja sebagai driver online daripada kerja di gedung perkantoran.

Kesimpulannya:

Pendidikan Kita Memang Tertinggal dari Negara Lain, Tapi Ternyata Teknologi Transfer dan Inkubasi Bisnis Kita Jauh Lebih Tertinggal.

PT di indonesia harus berbenah, dan berusaha menjadi "imam" perubahan peradapan manusia dalam menghadapi era industri 4.0 dan menjadi penghasil inovator yang memimpin perubahan tersebut.

Mari kita dukung lahirnya startup berbasis teknologi yang berkualitas di indonesia, agar bisa menjadi raja di negeri sendiri.

*Achmad Zulkarnain Al Jufri*
_CEO Pens Sky Venture, CEO & Co Founder Trustmedis_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar