Kamis, 20 Juni 2019

Berapa lama handle good quality complain?


Berapa lama handle good quality complain?
Scale up yang cepat tanpa di barengi dengan kemampuan building capasity maintain quality, akan jadi bencana bertubi tubi.
Kebanyakan UKM yang heroik berangkat dari nol, dengan modal dua kompor lalu beranak pinak besar sering abai dengan upaya yang harusnya lebih banyak menghabiskan energy bukan hanya manajerial tapi juga kesadaran menjadi kan quality sebagai komando bisnis kuliner.
Quality adalah kesepakatan yg diterima konsumen, karena bisnis makanan adalah foodsafety, maka itu sudah menjadi hak konsumen untuk makan dengan aman sehat dan layak . Ini pekerjaan bukan hanya butuh ke ahlian tapi komitmen moral. Saya menyebut nya culture yg paham food quality yg jadi roh bisnis kuliner.
Kadang dalam perjalanan, scale yg berlebihan membuat struktur Organisasi begitu rumit dan abai terhadap titik kritis food quality apa lagi dengan promise dan standard basic penyajian makanan. Gak enak bikin mual perut orang gak bakal balik beli. Pastikan bahwa struktur organisasi bisnis kuliner anda menempatkan food quality sebagai layer Paling basic dan fast respon terhadap foodsafety complaint.
Pada satu bisnis kuliner yg sudah besar beranak pinak, sy pernah mendapat kan satu moment bahwa struktur organisasi yg besar dan rigid dengan balutan prosedur malah terlambat memahami komplaint.
Complain food quality terutama food safety itu 24 hours dan wajib di handle hari itu juga. Dan CEO atau siapapun harus yg punya otorisasi tinggi wajib tahu.
Prosedur komplain tentang food quality harus handle cepat sehingga anda memahami titik kritisnya.
Pada sebuah kejadian, ketika sambal tidak enak atau kuah bakso soto yg tidak panas atau ayam yg berdarah saat di goreng, diabaikan karena dianggap tidak significant, hal biasa atau karena prosedur komplain yg harus di verifikasi secara bertubi tubi oleh quality control, kumpulin data rapat ambil tindakan bla bla bla meeting dan seterusnya, berarti perubahan tersebut kehilangan sensitivity memahami titik kritis bisnis nya.
Jadi maksud gimana bu yuyun?
Saya mungkin appreciate owner yg cerewet dan ngomel setiap hari begitu melihat karyawan jorok, emang tidak efek, energy nya habis tapi kemarahan owner menimbulkan fear sehingga karyawan takut jorok. Dari pada organisasi usaha kuliner besar dg struktur lengkap tapi tidak punya culture food quality sebagai komando nya. Ya, ada yg fokus omzet tapi abai quality. Hiks, padahal sustainable omzet is sustainable quality.
Ada rasa sedih, ketika melihat teman teman yg sudah besar kok tetiba kehilangan sensitivity memahami titik kritis bisnis nya. Proses yg lama handle food quality complaint karena struktur organisasi yg rumit.
Sedang melow, gini deh bisnis kuliner yg dibangun dari nol bukan dari pre requisite program. Ayo kita redefine kembali.
Berapa lama anda memutuskan handle komplain? Semenit? 25 menit atau tiga bulan nunggu proven. Do it, dan biarkan net citizen menyebar berita makanan anda gak enak. Ini era nyinyir loh. (termasuk tulisan ini nyinyir)

Ingin tahu gimana set up foodsafety dari perusahaan kecil atau dari nol menuju standar kelas dunia, tanpa kehilangan sensitivity nya, boleh join dan diskusi dengan saya di kelas FRM bulan juli. Jangan lupa daftar nya di mas kasim.

Basicnya bisnis kuliner ya food quality dasar dari food quality ya food safety. Monggo yg mau diskusi pas di kelas boleh bawa masalahnya. Mau cloud kitchen, mau dine in, mau take away, katering apapun, rohnya food safety. Soalnya saya kebagian ngajari soal.
Saya jamin loh baru workshop ini bahas ilmu aplikatif termasuk food safety nya.
Siapa yg kepo bagaimana saya terapkan foodsafety yg high impact terhadap perkembangan nya?
Ada yang kepo?

Selasa, 11 Juni 2019

WILL A START-UP LEADER SURVIVE IN A "MATURED" BUSINESS?

WILL A START-UP LEADER SURVIVE IN A "MATURED" BUSINESS?

(Apakah seorang start-up leader bisa terus sukses pada saat bisnisnya menjadi besar?)

Beberapa tahun lalu saya sempat pergi ke Fontaineblue,
sebuah kota kecil di pinggir Paris. Di sana, salah satu acara saya adalah mengikuti kuliah leadership dari seorang profesor INSEAD.

Ketika banyak profesor menerangkan leadership style yang harus diterapkan pada orang yanv berbeda-beda, profesor ini menjelaskan leadership style yang harus digunakan pada phase perkembangan  bisnis yang berbeda-beda. Ini menarik, karena memang saat ini banyak start-up business yang sedang lahir dan tumbuh. Dan kadang-kadang ini menjadi ancaman tersendiri bagi business atau perusahaan yang sudah dewasa).
Berarti perusahaan itu sedang   berada di phase yang berbeda beda. Ada perusahaan kecil yang masih start-up dan baru memulai, dan ada perusahaan  besar yang sudah "matured". Dan seringkali perusahaan yang start-up lama kelamaan bisnisnya akan sukses menjadi perusahaan yang besar.
Pertanyaannya adalah ada styles yang berbeda untuk phase business yang berbeda? Apakah seorang leader start-up company bisa juga sukses menjadi seorang leader perusahaan yang matured? Bayangkan, apakah seorang leader dari start-up company (yang mungkin anakbuahnya hanya 12) bisa menjadi leader sebuah perusahaan yang  besar (dengan 2000 karyawan dan revenue 12 juta dollar?).
Is it possible? Kalau mungkin, apakah dia harus menyesuaikan diri dan bagaimana? Pertanyaan menarik.

Pertama, Mari kita bahas  berbagai phase business dan leadership style yang dibutuhkan ....

⁃ Phase 1 (Start-Up)
Sebuah business akan dimulai dengan phase awal, start up. Pada phase ini peusahaan sedang sibuk mendesign sebuah product dan memperkenalkan kepada masyarakat.
Berarti kita perlu seorang leader yang mampu mendengarkan customer, memprediksi apa yang diinginkan customer, mendevelop product, berexperimen, mencoba-coba, mengambil resiko, mengajak anakbuahnya untuk berexperimen, mengajak anakbuahnya untuk mengambil resiko dan mengijinkan anakbuahnya untuk melakukan kesalahan.
(Kalau anak buah gak boleh salah, nanti mereka gak bereksperimen dan productnya gak akan pernah jadi).
Nah, itu tadi adalah leadership stye yang dibutuhkan di phase itu.

⁃ Phase 2, Growth
Pada phase ini, productnya sudah jadi dan mulai diterima oleh customer.
Berarti fokus perusahaan sudah  berganti dari develop product menjadi sell product (jualan). Berarti style leadernya harus sales oriented, execution disipline dan sangat berfokus pada hasil). We need a strong executor.
Penjualan menjadi fokus utama bagi perusahaan.
Di sinilah kita harus mulai mengerti bahwa leader (atau leadership style) yang diperlukan berbeda beda untuk setiap phase bisnis yang berbeda.

⁃ Phase 3: Matured

Pada saat businessnyap sudah tumbuh dan menjadi "dewasa", berarti productnya sudah jadi, customernya banyak, dan angka penjualan sudah tinggi.
Apakah yang menjadi focus berikutnya? Keuntungan ! Profit!
Berarti leader di sini harus mampu mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Caranya bagaimana? Dengan mengontrol secara serius semua pemasukan dan pengeluaran.
Dengan sangat logis, menganalisa data, dimana saja sumber pemasukan, di mana saja sumber pengeluaran, dan bagaimana mengoptimasikan profit.
Dengan memotong cost yang tidak perlu dan membuat perusahaan lebih efficient.
Di sinilah biasanya terjadi masalah, karena pemilik modal mulai tidak sabar dan menagih kepada start-up company dan menanyakan,"Mana profitnya?"
Dan ternyata beberapa
leader start up company tidak mampu menjawab itu (tidak mampu mendatangkan profit).
Seringkali ini terjadi karena leadernya adalah orang yang jago menciptakan product dan bukan orang yang jago mendatangkan keuntungan (remember. they are 2 different things!).

Hal ini seringkali terjadi apabila leadernya tidak mampu mengubah stylenya dari satu style ke style lain. Dan ini yang mungkin terjadi:
- perusahaan melangkah dari phase start-up ke growth, tapi leadernya masih aja focus ke design.
When you are in start-up, your customers accept your product already, forget about the design, focus on the sales.
Kalau leadernya gagal move on yang akan terjadi adalah productnya makin lama makin bagus, tapi jualannya gak naik naik.
Nah pada phase Start-Up kita memerlukan seorang Innovator, tapi pada phase Growth kita membutuhkan seorang salesman.
Seorang leader yang baik harus mampu menyesuaikan diri dari satu leadership style ke style berikutnya.
Itulah makanya ada banyak perusahaan yang memutuskan untuk mengganti leadernya dari satu phase ke phase  berikutnya.
Kadang yang nggak ngerti akan nanya, "Leader bagus kok diganti mengapa?"
Mungkin leadernya bagus tapi dia adalah seorang innovator sejati (yang jago bikin product dan gak jago jualan!).

Atau sebuah perusahaan sudah move dari phase growth ke matured. Berarti jualannya sudah tinggi, nah sekarang berarti fokus berikutnya adalah mencari keuntungan yang tinggi.
Ingat biasanya pemilik modal  berinvestasi pada banyak project, dan hanya sebagian kecil yang  berhasil, ide inovative lain banyak yang gagal di pasar (itu sudah menjadi aturan tak tertulis kalao berinvestasi di star up).
Maka harapan mereka pada product yang  berhasil juga tinggi, artinya product ini diharapkan menghasilkan keuntungan setinggi tingginya.
Nah kadang kadang ada juga tuh leader yang jago jualan, tapi gak bisa mendapatkan untung yang banyak? Mengapa? Karena keuntungan sama dengan pendapatan dikurangi pengeluaran. Ada yang jago jualan banyak, tapi cost nya juga tinggi banget (operasional cost, marketing, iklan, gaji karyawan ... dll) sehingga keuntungannya kecil.
Di sini fokusnya harus pada memaksimalkan pendapatan dan meminimalkan pengeluaran. Makanya kita perlu seorang "controller" yang  baik.
Dan tugas seorang controller selain mendatangkan keuntungan yang maksimal adalah juga menjaga long-term success of the  business. Bagaimana bisnisnya bisa berjalan selama mungkin.

Sayangnya, sehebat apapun productnya , biasanya lama kelamaan angka penjualan akan menurun karena trend yang berganti.
Lihat contoh contoh di bawah ini:
- maskapai penerbangan turun pendapatannya karena ada budget airlines
- perusahaan minyak turun pendapatannya karena trend lingkungan hidup yang berkembang di Eropa dan Amerika
- taxi yang turun pendapatannya karena adanya taxi online
... dll
Jadi mau gak mau kita akan memasuki phase  berikutnya , phase Decline ....

⁃ Phase 4: DECLINE (menurun)
Suasana di sini sangat challenging. Terutama karena motivasi para karyawan sedang turun (seiring dengan turunnya business performance). Para karyawan resah, harga diri mereka tertampar dan pride mereka  berada pada posisi rendah. Mengapa? Karena  mereka  merasa dulunya jagoan dan ternyata sekarang mereka turun. Harus ditangani dengan hati hati dan serius. Kalau enggak bisa bahaya dan mengikuti nasib Kodak atau Nokia Phones.
Terus gimana dong? Leadership Style apa yang dibutuhkan? ENERGIZER!
Seseorang yang mampu mengembalikan energy, spirit , confidence dan teamwork seluruh karyawan. Seorang leader yang mampu....
- mengingatkan bahwa ini dulunya adalah perusahaan yang hebat dan akan kembali hebat lagi
- mengajak seluruh karyawan untuk men-challene status quo
- mengajak seluruh karyawan untuk mencari ide ide  baru
- mendorong (dan menghargai) seluruh karyawan untuk  bereksperiman (dan mencoba coba)
- mengijinkan karyawan untuk melakukan kesalahan (pada saat mereka  berexperimen), ingat kalau mereka takut salah mereka tidak akan mencoba (tentu saja saya ngomong tentang kesalahan yang dihasilkan dari niat yang baik, kalau niatnya jelek
seperti korupsi ya nggak boleh ditolerir)
- seorang leader yang mampu memotivasi karyawan-karyawannya meskipun di masa masa sulit sekalipun

Di sinilah pentingnya peran seorang "energizer" dalam menaikkan motivasi karyawan, mendorong inovasi di perusahaan, dan meningkatkan performance bisnis perusahaan.

Sekarang sudah jelas kan, bahwa perusahaan membutuhkan leader yang  berbeda style nya di phase business yang berbeda beda (start up, growth, mature dan decline).
Dan jawaban dari pertanyaan di atas, apakah seorang leader dari sebuah start up business mampu terus sukses pada saat perusahaannya sudah mature?
Jawabannya iya, dia akan mampu, asalkan dia menyadari bahwa dia harus mengubah leadership stylenya.

Jadi sebagai ringkasan, inilah phase business yang berbeda dan leadership style yang diperlukan ....

⁃ During start-up, you need an "entreprenneur" (seorang explorer, suka berexperiment, mengambil resiko, mengijinkan kesalahan, dan men-support anakbuahnya)
⁃ During growth pase, you need an "executor" (sangat  berorientasi pada hasil, execution disiplinnya tinggi, serius dan productive)
⁃ During maturity phase, you need a "controller" (yang berorientasi pada  keuntungan, sangat fokus pada analisa data, sangat logis dan sangat teliti)
⁃ Before your business decline, you need create a new team lead by an "energizer" (sangat terbuka, informal, adaptive dan motivating)
⁃ Then your business should run in parallel, where you will have revenue from "matured" business (which you cannot avoid that one day , it will decline), and from your "new" business (which hopefully the revenue will increase aggressively and compensating or even bypassing your decline of revenue from your matured business)

Pertanyaan bagi perusahaan adalah, di mana phase business anda, apakah anda mempunyai leader yang style nya cocok, atau bisakah dia beradaptasi dengan berbagai phase business.

Pertanyaan bagi kita sebagai individu adalah apakah leadership style kita yang paling dominan (entreprenneur, executor, controller atau energizer)? Dan apakah kita bisa  beradaptasi dari satu style ke style yang lain sebagaimana dibutuhkan oleh perusahaan?
Sekali lagi, terbukti bahwa salah satu kemampuan kita yang paling penting adalah kemampuan untuk menjadi "flexible" dan "agile" mengahadapi perkembangan bisnis yang berbeda-beda.

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Sabtu, 08 Juni 2019

Customized halal bihalal

Customized halal bihalal
Yuk nambah pundi pundi.

Karena milenial kill the kitchen dan rumah udah gak ada pendopo buat pertemuan, trust me permintaan paket halal bihalal akan meningkat.
Sudah kah dipersiapkan program nya?
Ini revenue stream ritual yg harus dikelola dengan baik loh?. Saatnya menambah omzet. Ingat ini ritual loh.

Program paket halal bihalal apa yg cocok?. Dine in atau take away. Keduanya harus di optimal kan.

Bagaimana agar program halbil menarik, apa cukup enak dan murah?.

Pahami karakter pembeli dan ritual halbil. Kegiatan halbil itu istimewa sebagai ritual setahun Sekali dengan moment tak terlupakan. Jadi selain makanan enak beri more add value sehingga experience nya dapat, ingat orang hanya beli experience Selebihnya baru produk.

Membuat menu tematik bisa jadi sangat menarik sehingga customization bisa dilakukan. Kalau yg halbil itu klub eighty yg suka dawet pasar misal nya kenapa tidak di tampil disitu. Kalau yg halbil anak ITS surabaya harus ada rujak dong, pun kl yg hal bil orang padang pariman kenapa tidak angkat tema padang.

Loh tapi saya jualan nya ayam goreng, trus yg halbil arema di jakarta, kenapa tidak sediakan bakso malang aja.

Dan saya jualan sate madura, yang halbil orang palembang, please deh sedia kan pempek.

Makanan apa yg terenak sih? Moments bahagia ada lah saat orang ingin mengenang yg enak juga. Memorable food.

Gimana dengan yg take away?.  Tetap tematik gpp tapi siapkan pasukan katering yg canggih sehingga siap melayani kantor, perusahaan atau komunitas yg ingin halbil di lokasi nya sendiri.

Loh pastinya kebutuhan halbil meningkat. Dalam sebulan ini undangan halbil saya aja reuni SMP, arisan keluarga besar bapak saya,arisan keluarga ibu saya, keluarga suami, komunitas sma di jakarta, komunitas masak, komunitas mantan pegawai xxx, komunitas frozenfood..... Hahaha serius....

Sudah punya program halbil kah?

Virtual Kitchen, Kapan Re modeling Bisnis Kuliner?

Virtual Kitchen, Kapan Re modeling Bisnis Kuliner?

Bicara industri 4.0 seperti nya bakal ketinggalan banget. Sebentar lagi Industry 6.0 dimana kecepatan koneksi lebih cepat dan terintegrasi dengan semua lini.
Mungkin unicorn start up IT doang sudah diganti kan oleh startup food chain, iya saya sebut food chain aja karena bentuk nya bukan jasa service makanan, mendekati food supply.  Virtual kitchen atau ghost resto adalah bentuk re modeling Bisnis resto yang memang menjawab tantangan food demand yang leisure convinienience dan terjangkau. Disebut re model, bisa jadi virtual kitchen memangkas standard dan requirement resto. Dalam bayangan semacam dapur besar yg bakal memsupply kebutuhan makan sehari hari me lalui online delivery channel. Start up ghost kitchen semacam Keatz mencapai €12M, membuktikan re model resto ini mulai terasa geliatnya. Ubereats, kitchen united, chef meals atau delivero di luar negeri mulai merubah konsep dine in menuju delivery.
Apa sih Virtual kitchen /ghost kitchen?
1. Resto baru atau yg ada bisa  leverage bisnis delivering makanan.
2. Low risk, new cheap cost, flexibility (modal sedikit, potong biaya jasa service, bisa berganti variasi menu yg simple)
3. Bagi yg order makanan experience nya sama, bagi resto yg ada tidak perlu nambah tenaga kerja lagi, buat makanan tambahan dan packing. Optimalisasi dapur yg sama.
4. Multiple concept dan multiple kitchen.
5. Made by order, no waste
6. No need more space, kadang tidak perlu lokasi strategis yg mahal.

Bagaimana UKM?
Saya tidak bicara gofood dan grabfood, beberapa resto kecil food startup Indonesia mulai re model bisnis nya. Contoh kepiting nyinyir atau semangkuk berkah yg optimalisasi ke food supply. Itu sepenggal yg saya kenal.

Siapa yg jadi leader?
Di benak memang sedang berkecamuk membuat bisnis proses penyajian yg cepat efisien, peralatan yg serbaguna dan tehnologi yg tepat untuk cloud/virtual kitchen.
Ya, seperti UKM yg pinter IT dan kreatif akan bisa jadi pemimpin nya. Eh tapi siapa ya itu?

Are you serious being virtual kitchen? Re modeling mu kapan?  Atau ini Sebenarnya semacam new revenue stream baru untuk antisipasi keadaan?
Mau apa pun modelnya, nge ghost atau engga, bisnis kuliner basic nya ada lah quality n service. Percaya deh.

Penyebab” karyawan keluar dari pekerjaan

Penyebab” karyawan keluar dari pekerjaan:

1. “Job description” kagak jelas
2. “Poor” orientation saat mulai kerja
3. “Poor people practices” nggak 
      ngehargain mereka
4. Nggak jelas karirnya
5. Leadership style - gaya
    kepemimpinan supervisor, restoran
    manager, tmsk owner nya
6. Suasana kerja
7. Gaji / benefit

Kita bahas satu persatu: ( kalau cukup waktunya )

Ad 1. Job description nggak jelas.

Karyawan suka bingung, sebetulnya saya ini harus ngerjain apa sih...?

Lebih parah lagi, kerjaan resto dicampur suruh ngerjain urusan pribadi...(nganter anaknya bos, dll)

Sebetulnya yg dibutuhkan karyawan itu,
Saya harus ngerjain apa aja dan UKURAN KERJAAN SAYA BERES APA NGGAK ITU APA?

Bahasa keren nya “tolok ukur kinerja” / KPI (key performance indicator)

Sudah punya blom SOP dan Tolok ukur kinerja mereka.

Yg simple itu contohnya, kalau bikin nasi goreng itu harus ngikutin SOP masak nya dan selesai dalam waktu 3 menit misalnya.

Kasir itu harus ngikutin sop; tampil rapi sesuai foto, smile, tau urut”an sistem kasir, dst.
Secondary duty: CAYG, bantu nyiapin minuman, manasin roti, clear up table, dll.

KPI nya: Cashier time tercapai,  & tidak boleh over/short, dst.

Semua ini jelas saat di orientasi/ training
Dan di verifikasi agar sesuai standard.

Ad 2. Poor orientation (pengenalan tempat kerja, visi/misi , aturan/policy perusahaan/tempat kerja yg kurang baik)

40% karyawan langsung keluar setelah bbrp hari kerja karena nggak di orientasi secara bener.

Biasanya karyawan setelah di rekrut, langsung dicemplungin di tempat kerja tanpa orientasi yg komplit.

Malah temen” nya bikin taruhan: biarin aja ampe mana kuat nya dia, bisa survive nggak? 🙈🙈

Padahal HRD dah invest waktu utk interview, training dll., setelah masuk malah di biarin. Dgn dalih latihan mental.

Kalau dah keluar masuk gini berapa cost yg dan waktu yg hilang

Ad 3. Poor people practices alias nggak jelas unggah ungguh nya bekerja sesuai  aturan / kultur perusahaan

Contoh riil nya:
“Ask don’t tell” ( minta tolong, jangan nyuruh )

Bisa TOLONG mindahin krat teh botol itu ke area service? THANKS yaa..

Ini 👆lebih ngehargain org lain di banding👇🏻:

Krat teh botol nya pindahin ke service area! cepetan yaa..! Semuanya!

Pada dasarnya org pengin dihargain baik sesama temen maupun dari atasan dan ke bawahan...

Rumusnya:

“Treat other people the way you want to be treated”

“Perlakukan orang lain seperti kamu ingin mereka memperlakukan kamu.”

Hal” kecil gini apalagi buat anak millenials sensi banget..

Salah satu yg bikjn karyawan kesel adalah tidak ada nya “kepastian”.

Semuanya dibikin jadi “kebijakan”, nah kebijaksaan pimpinan inilah yg bikin tidak adanya kepastian sehingga kerap nimbulin kecemburuan maupun persepsi: “like & dislike” pimpinan pd bawahanya..

Kalau yg dimaksud adalah THR, maka itu wajib diberikan karena peraturan bunyinya gitu:

Karyawan yg baru 2 bln kerja ya ngitung THR nya: 2/12 X 1bulan gaji nya

Itu namanya proporsional.

Kalau yg dimaksud bonus atau bingkisan, nah itu policy perisahaan aja.

Kalau blom punya, yg dibikin skrg juga.

Yg penting jelas aturannya bagi karyawan.

Tapi kalau krn anda lihat yg satu kerjanya bagus, trus anda kasih bingkisan dan yg satunya kerjanya nggak bagus maka gak dapaet bingkisan...

Ya dua” nya bisa keluar kerjaan..., semua merasa nggak nyaman...

Uji kadaluarsa dan uji pangan lainnya

Uji kadaluarsa dan uji pangan lainnya bisa dilakukan di BBIA (Balai Besar Industri Agro) Kementrian Perindustrian lokasi di samping Kebun Raya Bogor. Info layanan dan harga bisa ke website BBIA

cara menjamin ketersediaan bahan baku

Kali Ini topik nya…kita bahas tentang  cara menjamin  ketersediaan  bahan baku…terutama bagaimana sih cara nya yg jitu ….supaya bahan baku selalu ada saat diperlukan ada seperti dengan janji Supply Chain….

masih ingat kan  jani supply chain  6 R …

1Right Product, 2Right Place, 3Right Amount , 4Right Time, 5 Right Price ,6 Right Condition( Quality).

Restoran diwajibkan punya target sales,  seperti yang diajarkan di workshop , bahwa restoran   sebagai  entitas  bisnis  harus selalu ada target salesnya….baik bulanan maupun tahunan….yang kita petakan dengan apa yang  sebut dg  Marketing Calender

Target Sales perusahaan   kemudian di petakan dalam bentuk perencanaan 3 tahun ke depan,  detailkan  rencananya dalam  tahun berjalan  , detailkan lagi rencana eksekusi sampai  dapat angka TC & AC nya yang kemudian di terjemahkan lagi menjadi program marketing  dan jangan lupa  kemudian setiap 3 bulan kita review. Semua ini dipelajari di workshop basic FRM sebagai  Marketing Calender.

Nah dari banyak  tugas supply chain  di bisnis restoran , antara lain adalah menyediakan bahan bakunya ….tanpa bahan baku yang selalu ada ….bisa gawat ..no raw product no cooking…., no cooking  no sales,….. no sales no profit…no profit…kalo terus terusan.....ya...bangkrut lah …..

Untuk diketahui bahwa konsep Resto Yang  dimaksud   di FRM adalah  lebih pada resto yang disiapkan sejak awal  utk bisa buka banyak cabang dengan mudah dan sustain ( scale up) ,   atau yg  sedang diajarkan utk siap  scale up, resto yang konsepnya  disiapkan  utk bisa  buka banyak cabang  dengan cepat dan dengan mudah….dan…harus sustain atau langgeng bertahan lama…karena profitnya juga bertambah setiap ada penambahan  cabang……konsep yang terbukti digunakan resto2 kelas dunia

Kembali ke topic utama….bagaimana cara nya menjamin bahan baku selalu tersedia

Umumnya , cara lama / cara jadul adalah  biasanya atau jika baru buka satu Resto  biasanya bahan bakau  beli sendiri kepasar…pemilik Resto belanja ke pasar  ….

Untuk  jaminan supaya selalu ada bahan baku ya…..beli yang banyak kemudian  ditumpuk / disimpan

dismpan bisa bentuk kering, sejuk atau beku....ya kan ?

Kemudian  ….jika resto berkembang salesnya yang artinya volumenya bahan baku meningkat  makin tambah menu nya,,,makin banyak jenis bahan baku mesti dibeli....…..biasanya  pemilik mulai kewalahan  dan mulailah menuruh orang alias .....  pake pemasok …….cara mudah nya  mulai  di ikat pakai kontrak dagang…supaya terjamin ketersediaan bahan bakunya.

Kedua cara ini....beli sendiri tiap hari atau  kontrak pemasok  tentu  bisa saja dilakukan, namum ada cara lebih jitu yang ditawarkan dengan cara mempersipakan secara  system, dengan konsep supply chain…., karena menumpuk bahan baku pasti mahal dan bisa jadi  rusak kalo tidak cepat digunakan, sedangan kan dengan cara kontrak dagang….kalo tidak perform ujung ujung nya…bisa terjadi “ dispute”/ perselisihan/ pertengkaran dsb ….. lari ke pengadilan dagang…biasanya ini  gak praktis, butuh waktu , berbiaya pula, belum tentu menang malah keluar uang……,,jadi ini ,bukan solusi jitu dan saya anggap pendekatan jadul….

ES GEL

ES GEL BY YUYUN ANWAR CARA MURAH MENJAGA RANTAI DINGIN COLD CHAIN UNTUK FROZEN FOOD

Rantai dingin penting. Untuk UKM yang ingin menjaga rantai dingin dengan cara murah bisa dengan membuat es gel sendiri di rumah.
Keunggulan :
Lebih murah karena dari tapioka dan air, dibanding beli gel pack ice atau dry es.
Bisa digunakan berkali kali, cair dibekukan lagi
Tidak kontaminasi dan tidak cair seperti es batu.
Suhu bertahan di 0 derajat c.

Cara membuat :
Masak 1 kg tapioka / kanji dengan 5-6 liter air sampai jadi bubur. Angkat tambah kan cuka makan 250 ml, aduk dan dingin kan.
Kemas bubur tapioka dalam kantong plastic PE dan seal rapat.
Simpan bubur tapioka dalam freezer sampai beku. Es gel beku siap digunakan untuk menjaga produk frozen tetap dingin.

Fungsi es gel ala yuyun_anwar
1. Menjaga tetap dingin produk atau adonan yg sedang dikerjakan.
2. Pengganti blue ice dan dry es untuk kirim products frozen lebih dari 2 hari di stereofoam box.
3. Mengantikan es batu tanpa cair untuk menjaga agar tidak mudah busuk untuk salad, es krim keliling, susu bayi, makanan mudah busuk dll. Semacam suhu kulkas berjalan.
Es gel ini hasil pemikiran sederhana saya. Semua boleh bikin untuk menjaga agar rantai dingin dengan cara mudah murah sederhana bisa dilakukan semua  UKM bisnis frozen food retail dan kuliner.

CARA MENGIRIM PRODUK FROZEN BEKU ALA YUYUN ANWAR DENGAN MASA SIMPAN LEBIH 2 HARI

Setelah bisa membuat es gel dengan tapioka. Berikut cara mengirim produk beku dengan biaya murah untuk ukm yg belum memiliki transportation rantai dingin.
1. Siapkan esgel beku dan produk beku beserta stereofoam dan lakband.
2. Masukjan es gel pada bagian dasar sterefoam, lalu masuk kan produj beku. Banyak tidak nya es gel tergantung resiko produk. Makin tinggi protein makin harus tetap dingin, banyakin es gel. Saya biasanya menggunakan 10-20 % es gel dari total berat barang yg dikirim.
3. Tutup lagi bagian atas dengan es gel.
4. Tutup stereofoam dengan menggunakan penutup dan dilapisi dengan lakband agar udara dingin tetap terjaga di dalam box stereofoam.
5. Produk Frozen siap dikirim antar kota atau antar pulau.  Pastikan kirim produk di malam hari atau pagi sehingga tidak terkena sinar matahari. Pengalaman saya bisa bertahan dingin 2 sampai 3 hari.
Selamat mencoba. Selamat berhemat.

Ya solusi murah. Bagi yg jual salad untuk weeding misalnya dr pada pakai es batu, pakai ini bisa.
Kirim bahan atau bikin promo cae free day yg gak mungkin bawa freezer, es gel jadi solusi. Semacam kulkas berjalan. Kalo sudah lembek bekukan lagi, setelah beku pakai ulang.
Gerobak bakso gak perlu bakso nya dimasak semua di dandang, simpan di box atau stereofoam isi es gel, biar bakso tetap beku aman jika tidak laku. Stay frozen

Durian pancake, coklat atau kue ulang tahun yg gampang leleh , cheese cake, es krim.... Gunakan es gel