Kamis, 20 Juni 2019

Berapa lama handle good quality complain?


Berapa lama handle good quality complain?
Scale up yang cepat tanpa di barengi dengan kemampuan building capasity maintain quality, akan jadi bencana bertubi tubi.
Kebanyakan UKM yang heroik berangkat dari nol, dengan modal dua kompor lalu beranak pinak besar sering abai dengan upaya yang harusnya lebih banyak menghabiskan energy bukan hanya manajerial tapi juga kesadaran menjadi kan quality sebagai komando bisnis kuliner.
Quality adalah kesepakatan yg diterima konsumen, karena bisnis makanan adalah foodsafety, maka itu sudah menjadi hak konsumen untuk makan dengan aman sehat dan layak . Ini pekerjaan bukan hanya butuh ke ahlian tapi komitmen moral. Saya menyebut nya culture yg paham food quality yg jadi roh bisnis kuliner.
Kadang dalam perjalanan, scale yg berlebihan membuat struktur Organisasi begitu rumit dan abai terhadap titik kritis food quality apa lagi dengan promise dan standard basic penyajian makanan. Gak enak bikin mual perut orang gak bakal balik beli. Pastikan bahwa struktur organisasi bisnis kuliner anda menempatkan food quality sebagai layer Paling basic dan fast respon terhadap foodsafety complaint.
Pada satu bisnis kuliner yg sudah besar beranak pinak, sy pernah mendapat kan satu moment bahwa struktur organisasi yg besar dan rigid dengan balutan prosedur malah terlambat memahami komplaint.
Complain food quality terutama food safety itu 24 hours dan wajib di handle hari itu juga. Dan CEO atau siapapun harus yg punya otorisasi tinggi wajib tahu.
Prosedur komplain tentang food quality harus handle cepat sehingga anda memahami titik kritisnya.
Pada sebuah kejadian, ketika sambal tidak enak atau kuah bakso soto yg tidak panas atau ayam yg berdarah saat di goreng, diabaikan karena dianggap tidak significant, hal biasa atau karena prosedur komplain yg harus di verifikasi secara bertubi tubi oleh quality control, kumpulin data rapat ambil tindakan bla bla bla meeting dan seterusnya, berarti perubahan tersebut kehilangan sensitivity memahami titik kritis bisnis nya.
Jadi maksud gimana bu yuyun?
Saya mungkin appreciate owner yg cerewet dan ngomel setiap hari begitu melihat karyawan jorok, emang tidak efek, energy nya habis tapi kemarahan owner menimbulkan fear sehingga karyawan takut jorok. Dari pada organisasi usaha kuliner besar dg struktur lengkap tapi tidak punya culture food quality sebagai komando nya. Ya, ada yg fokus omzet tapi abai quality. Hiks, padahal sustainable omzet is sustainable quality.
Ada rasa sedih, ketika melihat teman teman yg sudah besar kok tetiba kehilangan sensitivity memahami titik kritis bisnis nya. Proses yg lama handle food quality complaint karena struktur organisasi yg rumit.
Sedang melow, gini deh bisnis kuliner yg dibangun dari nol bukan dari pre requisite program. Ayo kita redefine kembali.
Berapa lama anda memutuskan handle komplain? Semenit? 25 menit atau tiga bulan nunggu proven. Do it, dan biarkan net citizen menyebar berita makanan anda gak enak. Ini era nyinyir loh. (termasuk tulisan ini nyinyir)

Ingin tahu gimana set up foodsafety dari perusahaan kecil atau dari nol menuju standar kelas dunia, tanpa kehilangan sensitivity nya, boleh join dan diskusi dengan saya di kelas FRM bulan juli. Jangan lupa daftar nya di mas kasim.

Basicnya bisnis kuliner ya food quality dasar dari food quality ya food safety. Monggo yg mau diskusi pas di kelas boleh bawa masalahnya. Mau cloud kitchen, mau dine in, mau take away, katering apapun, rohnya food safety. Soalnya saya kebagian ngajari soal.
Saya jamin loh baru workshop ini bahas ilmu aplikatif termasuk food safety nya.
Siapa yg kepo bagaimana saya terapkan foodsafety yg high impact terhadap perkembangan nya?
Ada yang kepo?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar