Minggu, 13 November 2016

Evaluasi Diri

EVALUASI DIRI .

Seorang dosen tengah berjalan  santai bersama salah seorang mahasiswa nya di sebuah taman.
Sedang asyik berjalan sambil bercerita, keduanya melihat sepasang sepatu yg sudah usang lagi lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang bekerja di sana, yg sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya.

Sang mhs melihat dan kepada dosennya dia berkata :
_Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dg menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi dibelakang pepohonan, nanti ketika dia datang untuk memakai sepatunya kembali, ia akan kehilangan. Kita lihat bgmn dia kaget dan cemas_

*Dosen itu menjawab*

_Mhsku, tidak pantas kita menghibur diri dg mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yg kaya, dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan utk dirinya. Sekarang  coba kamu memasukkan beberapa  lembar uang kertas ke dlm sepatunya, kemudian saksikan bagaimana respon dari tukang kebun miskin itu_?

Sang mhs sangat takjub dg usulan dosennya. Dia langsung berjalan dan memasukkan bbrp lembar uang ke dlm  sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak2 bersama dosennya sambil mengintip apa yg akan terjadi dg tukang kebun.
Tak brp lama datanglah pekerja miskin itu sambil mengibas2 kan kotoran dari pakaiannya. Dia menuju tempat sepatunya yg ia tinggalkan sblm bekerja.

Ketika ia memasukkan kakinya ke dlm sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu yg mengganjal di dalamnya.
Saat ia keluarkan ternyata…....uang..!
Dia memeriksa sepatu yg satunya lagi, ternyata juga berisi uang..!

Dia memandangi uang itu berulang-ulang seolah ia tidak percaya dg penglihatannya. Setelah ia memutar pandangannya ke segala penjuru ia tidak melihat seorangpun.

Selanjutnya ia memasukkan uang itu ke dlm sakunya, lalu ia berlutut sambil menengadah ke ke langit dan menangis. Dia berbicara dg suara tinggi, Ia bicara kepada Allah :

“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah, Tuhanku yg maha Pengasih dan Penyayang. Wahai Yang Maha Tahu bahwa istriku lagi sakit dan anak-anak ku lagi kelaparan. Mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak-anak ku dan istriku dari penderitaan...”

Dia terus menangis dalam waktu cukup lama sambil memandangi langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah.
Sang mhs sangat terharu dgn pemandangan yg ia lihat di balik persembunyiannya. Air matanya meleleh tanpa dapat ia bendung.
Ketika itu dosen yg bijak tsb menesahati mhsnya :

“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yg lebih dari pada kamu melakukan usulan pertama dg menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”

Sang mhs menjawab:

“Aku telah mendapatkan pelajaran yg tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku baru paham makna kalimat yg dulu belum aku pahami dalam hidupku bahwa :

“Lebih berbahagia kita memberi, daripada menerima”.

Sang dosen melanjutkan nasehatnya.
Dan ketahuilah bahwa pemberian itu bermacam2 :

• Memaafkan kesalahan orang di saat kamu mampu melakukan balas dendam,... adalah suatu pemberian.

• Mendo’akan temanmu tanpa sepengatahuannya itu adalah suatu pemberian.

• Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk, juga suatu pemberian.

• Menahan diri dari membicarakan aib sesama kita, juga adalah pemberian.
Karena sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang lain perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka, supaya kamu berbahagia.  ��������

Tidak ada komentar:

Posting Komentar