Selasa, 22 November 2016

Hukum Pygmalion

*Hukum Pygmalion : Hukum Berpikir Positif*

Pygmalion, figur seorang pemuda dgn bakat seni memahat. Ia sungguh piawai memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus.Tetapi bukan karena kecakapannya itu, menjadikan ia dikenal dan disenangi teman2 dan tetangganya.

*Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif.*

Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.

# Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel.Tetapi Pygmalion berkata, *_"Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini."_*

# Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik: "Kikir betul orang itu." Pygmalion berkata, *_"Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu."_*

# Ketika anak-anak mencuri apel di kebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, *_"Kasihan, anak2 itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya."_*

Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia coba membayangkan hal-hal baik di balik perbuatan buruk orang lain.

Suatu hari, Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, "Ah, sebagus-bagusnya patung, itu kan cuma patung, bukan isterimu..." Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya.

Para Dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion itu. Mereka memutuskan untuk memberi Anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. *_Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh Negeri Yunani._*

Nama Pygmalion dikenang hingga kini, untuk menggambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.

*Misalnya,*
# Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itu pun akan menjadi *Ramah* terhadap kita.
# Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi *Cerdas.*
• Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan *Separuh Keberhasilan.*

Dampak pola berpikir positif itu disebut *Dampak Pygmalion.*

Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak *_fulfilling prophecy_* (ramalan tergenapi), baik positif maupun negatif.

# Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi *judes.*
# Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi *tidak jujur.*
# Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan *gagal.*

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.

Sebaliknya, Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika berpikir buruk, kita akan menjadi curiga, *"Barangkali ia sedang mencoba membujuk," atau kita mengomel, "Ah, hadiahnya cuma barang murah."*

Yang rugi dari pola pikir seperti itu, yah diri kita sendiri. Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur : *"Ia begitu murah hati. Walaupun sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita."*

Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik.

*Berpikir Baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.*

Dampaknya akan segera terasa. *Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah.*

Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar