HOW TO AVOID COMFORT ZONE (PART 3)
BAGAIMANA SEANDAINYA ANDA GAGAL DAN JATUH DELAPAN KALI?
Sabtu pagi, seorang sahabat datang bertamu ke rumah saya jam 7 pagi.
Sebut saja namanya Anton.
Anton sudah 5 tahun yang lalu berusaha memasuki discomfort zone dan mulai membuka usahanya sendiri.
Sayangnya setiap kali mencoba bisnisnya dia selalu gagal.
Bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi DELAPAN KALI.
Dan tentu saja Anton berada di kondisi yang sulit sekali, baik secara ekonomi maupun tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.
Untunglah istri Anton bekerja dan berpenghasilan lumayan di sebuah perusahaan asing di Indonesia.
Tetapi tetap saja , istrinya mempertanyakan tanggung jawab Anton sebagai kepala rumah tangga (at least secara financial).
Nah ... dengan 8 kegagalannya itu, istrinya bilang bahwa seharusnya Anton berhenti saja berbisnis dan mencari pekerjaan lain (padahal usianya mendekati angka 50).
Anton sendiri bertanya-tanya, apa yang harus dia lakukan?
Dan itulah yang ditanyakan Anton pada Sabtu pagi itu , sambil minum jamu beras kencur yang disediakan di rumah saya.
Wah menarik juga kasus ini. Coba kita bahas yuk.
Pertama , bahwa pengalaman itu adalah sebuah guru yang berharga.
Jadi semakin banyak pengalaman, mestinya Anton semakin bertambah ilmu dan pengetahuannya.
Jadi setelah berpengalaman delapan kali, bayangin betapa banyaknya pengalaman Anton.
Jadi sayang banget kalau Anton harus berhenti berusaha. Dia sudah banyak pengalaman, ilmu dan pengetahuan.
He should not stop.
He should continue!
Tapi tunggu bentar, pengalaman itu hanya berharga kalau kita belajar dari situ.
An experience is only valuable when we learn from it.
Jika anda tidak belajar, ya percuma , semua pengalaman itu akan lewat begitu saja tak berbekas, and you don't improve.
Sama seperti buku kan? Satu buku yang dibaca lebih baik daripada seribu buku yang tidak dibaca.
Anda bisa aja punya ribuan buku, tapi kalau tidak dibaca ya tidak ada gunanya kan?
Jadi jangan pernah berbangga dengan puluhan tahun pengalaman anda.
Masalahnya, apakah anda belajar dari pengalaman pengalaman itu.
Did you improve because of them.
Were you promoted?
Did you get better result (achievement or financially)?
That's the question!
Nah ternyata Anton (dan mungkin juga kita semua) lupa belajar dari pengalaman-pengalamannya.
Pantes saja pengalamannya nambah tapi kemampuannya gak nambah.
Mestinya kalau semakin bertambah pengalaman, semakin tinggi kemampuan, mestinya semakin tinggi chance (probability) untuk bisnisnya bisa berhasil.
Jadi anggap kalau di awal, peluang bisnisnya berhasil 50 persen dan gagal di percobaan pertama. Berarti di percobaan kedua peluangnya mungkin 60. Peluang ketiga 70 persen ... dan seterusnya.
Intinya kita mengerti bahwa di awal peluangnya untuk sukses itu 50-50 tapi kalau dia gagal dan mencoba dan mencoba lagi, peluangnya untuk berhasil akan terus menerus naik.
Sampai pada akhirnya misalnya peluangnya 90 persen.
Memang tidak akan pernah sampai 100 persen, tetapi kalau sudah sampai 90 persen kan kemungkinannya besar.
But then again, itu kalau kita mau belajar dari pengalaman pengalaman itu.
Maka yang harus dilakukan oleh belajar dari pengalaman pengalaman sebelumnya.
Tapi sebelumnya Anton harus memotivasi diri dulu.
Anton gagal 8 kali di usianya yang hampir 50, jadi wajar kalau Anton motivasinya sekarang rendah.
But that's ok. Hidup ini adalah lomba marathon, bukan sprint.
Kalau di akhir hidupnya (di usia 70 tahun), Anton ternyata menutupnya dengan kesuksesan, tentunya tidak akan pernah ada yang bilang bahwa dia dulu pernah gagal.
Seandainya seorang pelari marathon tertatih tatih di babak awal tapi ternyata berhasil mengejar ketinggalan, kita hanya akan teringat oleh medali emasnya kan?
Gak ada yang ingat apa yang terjadi di awal pertandingan.
So, jangan menyerah.
Jangan putus asa.
Coba lagi. Kerjakan lagi.
Explore and experiment!!!
Maka yang seharusnya dilakukan Anton adalah:
1. MENULISKAN OBITUARY NYA
Tuliskan catatan apa yang dia ingin orang-orang terdekatnya ingin mengenalnya.
Misalnya
"Anton adalah seorang lelaki yang terus menerus berusaha tapi sayangnya gagal terus. Dan meskipun dia adalah orang yang baik sayangnya Anton gagal memenuhi tanggung jawabnya senagai ayah dan suami."
Enggak kan? Tidak ada yang mau obituarynya tertulis begitu kan?
Bagaimana dengan in
"Anton adalah seorang yang pantang menyerah. Meskipun dia gagal berusaha 8 kali dalam berbisnis, tetapi dia terus menerus bangkit. Dan akhirnya dia menjadi pengusaha yang sukses dan berhasil meninggalkan bekal yang lebih dari cukup untuk anak istrinya.
Selain itu, Anton adalah seorang muslim yang baik dan menjadi tauladan bagi anak anak dan orang orang terdekatnya ...dst"
You see the difference? Yang mana yang anda lebih suka? Yang kedua kan?
Makanya jangan menyerah.
Coba dan coba lagi.
Bangkit dan bangkit lagi.
2. LEARN FROM THE PAST FAILURES OR EXPERIENCES
Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.
- Apa saja yang sudah dilakukan dengan baik dan membawa hasil positif (What went well?)
Catat dan teruskan hal-hal itu.
- Apa saja yang masih salah dan masih bisa diperbaiki (What went wrong and could be done differently?)
Catat, dan UBAH ATAU JANGAN LAKUKAN LAGI!
Kedua hal itu akan membantu untuk memperbaiki diri kita, dan menambah peluang kita untuk lebih sukses di masa depan.
3. LAKUKAN ASSESSMENT RESIKO
Gambarlah sebuah kwadran.
Di sumbu X adalah resiko, kemudian tuliskan Low and High di bawahnya (dari kiri ke kanan).
Sumbu ini melambangkan resiko yang hadapi untuk ide bussiness anda.
Biasanya berhubungan dengan nilai investasi yang anda perlu gelontorkan, tetapi bisa juga resiko resiko operasional yang lain.
Kemudian di sumbu Y adalah peluang (chance to succeed).
Dan disebelah kirinya tuliskan low and high (dari bawah ke atas).
Ini berhubungan dengan berapa besar kemungkinan anda untuk sukses di ide bisnis itu.
Berarti sekarang anda punya empat kotak.
Nah... sekarang masukkan ide ide business anda di dalam salah satu kotak ini.
(Gunakan objective judgement anda untuk ini, atau kalau perlu validasikan juga dengan pendapat orang lain):
- High Risk High Chance
- High Risk Low Chance
- Low Risk Low Chance
- Low Risk High Chance
4. IMPLEMENTASIKAN IDE BUSINESS YANG LOW RISK AND HIGH CHANCE
Di titik ini, Anton sudah gagal 8 kali. He cannot afford to invest too much. He has to get back his own (and others) confidence.
Itulah mengapa dia harus memilih ide business yang di kwadran High Chance and Low Risk.
5. FOCUS ON THE RESULT
Saya kadang-kadang merasa iri kepada atlet menembak. Karena mereka begitu fokus dan jelas jelas mempunyai sasaran (target) yang dituju.
Akibatnya mereka begitu fokus dan berkonsentrasi menembak target itu. Kalau ada gangguan atau hambatan mereka tidak perduli, karena mereka hanya perduli dan sangat fokus kepada sasaran itu (titik merah yang dikelilingi oleh lingkaran lingkaran hitam).
No wonder they can shoot on target.
Pertanyaan saya kepada anda, apakah anda bisa se-fokus para atlet menembak itu?
Apakah anda mempunyai target yang sangat jelas dan membuat anda terobsesi dengan itu.
Kalau anda terobsesi dengan target anda, anda akan melakukan semua usaha untuk mencapai target itu.
Dan seandainya ada halangan, itu tidak akan mengecilkan hati anda, karena anda begitu TAKUT UNTUK TIDAK MENCAPAI TARGET ITU.
Make it real. Make it clear. Make it that you are obsessed with it.
Jadi ingat ya ... ini yang harus anda lakukan pada saat anda gagal dan jatuh-jatuh berkali-kali.
1. TULIS OBITUARY ANDA
2. BELAJARLAH DARI KEGAGAL ANDA DI MASA LALU
3. LAKUKAN RISK ASSESSMENT
4. PILIH BISNIS YANG BERESIKO RENDAH DAN MEMPUNYAI CHANCE YANG TINGGI
5. FOKUS PADA HASIL
Anton, selamat mencoba lagi. Saya yakin usaha kamu yang kesembilan akan berhasil.
Dan sehingga kamu bisa menuliskan di batu nisanmu nanti, "ANTON, JATUH 8 KALI, BANGKIT 9 KALI"
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar