Kamis, 31 Mei 2018

Psycho-Cybernetics

Psycho-Cybernetics karya Maxwell Maltz. Buku ini merupakan buku klasik terbitan tahun 1969.

Maxwell Maltz adalah seorang dokter bedah. Dia banyak melakukan bedah wajah untuk kecantikan. Dia mengamati, orang-orang yang sudah dibedah wajahnya, menjadi jauh lebih percaya diri. Sikap, perilaku bahkan cara berpikirnya pun berubah. Namun dia menyimpulkan, perubahan itu bukan terjadi karena perubahan image luar-nya saja, perubahan itu terjadi karena self-image dari orang tersebut berubah. Dari sinilah dia kemudian tertarik untuk mendalami psikologi Self-Image untuk kehidupan yang lebih baik.

Bila kita amati, perilaku kita, apa yang sering kita temui dan hasil-hasil yang sering kita dapatkan itu bisa diprediksi. Memiliki semacam kecenderungan. Seperti ada polanya.

Mereka yang sering terlambat masuk kantor, biasanya cenderung untuk selalu terlambat. Bahkan ketika dia berniat untuk tidak terlambat, seakan-akan alam semesta berkonspirasi untuk membuat dia tetap terlambat.

Demikian pula mereka yang sering kehabisan uang di tengah bulan. Berapapun yang dihasilkan, uangnya cenderung akan habis di tengah bulan. Bahkan ketika ada sisa pun, entah apa yang terjadi tiba-tiba ia menemukan cara untuk kehabisan uang di tengah bulan itu.

Keberutungan pun sama. Mereka yang sering sial, cenderung selalu sial. Sementara mereka yang sering beruntung, cenderung selalu beruntung. Seakan-akan ada sebuah servomechanism yang mengatur itu semua.

*Servomechanisme = mekanisme otomatis untuk mengoreksi jika sebuah tindakan keluar jalur.

Bayangkan sebuah peluru kendali. Saat dia sudah disetting untuk menghancurkan target tertentu, maka ia akan bergerak menuju target tersebut. Namun, apakah dia selalu bergerak lurus menuju targetnya? Tidak. Kadang ia sedikit melenceng, entah karena tekanan udara, angin dsb. Namun, di dalam peluru kendali tersebut terdapat servomechanism yang dapat mengoreksi arah peluru. Sehingga setiap kali dia melenceng, servomechanisme-nya akan mengoreksi supaya peluru kendali kembali ke jalur sebelumnya. Perilaku kita pun sama.

Itulah sebabnya, kita cenderung menemui hal-hal yang memang kita sering temui. Itulah sebabnya kita cenderung mendapatkan hasil sesuai dengan hasil-hasil yang sering kita dapatkan. Tentu saja, jika hal yang sering kita temui positif, itu oke. Jika hasil yang sering kita dapatkan bagus dan luar biasa, itu oke. Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika yang sering kita temui justru kesialan? Bagaimana jika hasil yang sering kita dapatkan adalah kegagalan?

Dan bila kita amati, semakin sering kita mendapatkan satu hal, semakin “terlatih”-lah kita mendapatkan hal yang sama.

Semakin sering sakit, kita semakin terlatih untuk sakit. Mulai dari sakit yang ringan, lama-lama menjadi terlatih dengan sakit yang lebih berat.

Semakin sering berhutang, semakin berbakat kita melakukannya. Sehingga kita menjadi ahli dalam berhutang.

Inilah servomechanism.

Saat ini terjadi, seakan-akan “nasib” kita terkunci. Semua perilaku dan lingkungan kita mengarahkan kita ke “nasib” tersebut.

Lalu, bagaimana memutus rantainya? Bagaimana pula membentuk servomechanism yang memberdayakan hidup kita?

Maltz menjelaskan bahwa servomechanism ini tidak terbentuk begitu saja. Setiap servomechanism memerlukan “settingan awal” yang jelas. Settingan awal dari servomechanisme dalam hidup kita adalah Self-Image.

Self-Image adalah cara kita melihat dan menilai diri kita sendiri. Self-Image terbentuk dari kumpulan keyakinan (belief) tentang diri kita, orang lain dan cara dunia bekerja. Self-image ini akan mengendalikan sikap, pemikiran, perasaan dan perilaku kita.

Jika kita memiliki self-image: “saya orang yang tidak menarik”. Lalu kita hadir di sebuah pesta dan berniat untuk berkenalan dengan orang baru. Maka self-image kita akan segera menghapus niat kita dengan memunculkan self-talk: “ah, orang-orang hanya akan mau berkenalan dengan orang yang menarik. Kamu itu nggak menarik. Nggak akan ada yang mau berkenalan denganmu.” Maka, kita pun cenderung menyendiri dan “gagal” berkenalan dengan orang baru.

Demikian pula sebaliknya, bila kita berpikir: “ah, paling nanti juga nggak ada yang memperhatikan saya.” Maka self-image kita akan menguatkan dengan memunculkan self-talk: “betul. Untuk orang tidak menarik seperti kamu, lebih baik kamu menyendiri saja. Masih banyak hal lain yang lebih menarik dibandingkan dengan berkenalan dengan orang baru.”

Apapun yang kita pikirkan, self-image kita seakan-akan menyetel servomekanisme ke setelan awal.

Maka, jika kita melihat diri kita sebagai orang yang sial, servomekanisme kesialan lah yang akan aktif.

Jika kita melihat diri kita sebagai orang yang beruntung, servomekanisme keberuntungan lah akan aktif.

Bagaimana jika tercampur? Kadang kita melihat diri sebagai orang sial kadang beruntung? Di sinilah servomekanisme kita akan mengalami kebingungan. Pada akhirnya dia akan bergerak ke arah yang lebih kita yakini.

Jika kita ingin menjadi orang yang beruntung namun self-image kita bertentangan – dalam hati kita meyakini bahwa itu tidak mungkin, maka servomekanisme yang berjalan adalah servo kesialan.

Jika kita ingin menjadi orang yang sukses namun self-image kita bertentangan – dalam hati kita meyakini bahwa itu tidak mungkin, maka servomekanisme yang berjalan adalah servo kegagalan.

Lalu, bagaimana solusinya? Solusinya adalah membentuk self-image baru. Caranya?

Pertama, tulis dengan detail apa yang Anda inginkan. Misal, Anda ingin menjadi pribadi yang beruntung. Seperti apa kelihatannya? Seperti apa kedengarannya? Seperti apa perasaannya?

Kedua, bayangkan Anda melihat diri Anda yang sudah menjadi pribadi yang beruntung di depan sana. Apa yang Anda lihat? Apa yang Anda dengar? Apa yang Anda rasakan?

Ketiga, biarkan ide-ide muncul dari pikiran kreatif Anda.

Keempat, lakukan tindakan-tindakan spontan terkait dengan ide kreatif tersebut.

Kelima, praktikkan keempat hal di atas berulang-ulang setiap hari dengan santai dan tanpa beban (effortless).

Bagaimana bila self-image lama masih muncul dan self-talk negatif datang mengganggu?

Praktikkan metode CRAFT

Misal Anda ingin mengubah pola sakit yang Anda miliki dan menjadi pribadi yang lebih sehat.

CANCEL
Saat tiba-tiba muncul pikiran “duh, naga-naganya mau sakit nih, sudah bersin tiga kali” segeral lakukan cancel. Katakan “cancel, batal!” atau Anda bisa gunakan kode yang Anda buat sendiri (misal mengatakan “Wuzzz” atau membayangkan menekan tombol “Ctrl + Z”)

REPLACE
Ganti dengan pemikiran yang lebih memberdayakan. Misalnya: “Allah memberi saya karunia tubuh yang sehat dan mampu menyembuhkan diri sendiri”

AFFIRM
Kuatkan dengan mengatakan kalimat afirmasi Anda. Misalnya: “semakin hari saya semakin sehat, bugar dan kuat” – katakan berulang-ulang dengan mantap.

FOCUS
Luangkan setiap hari untuk melakukan visualisasi – membayangkan diri Anda yang sehat, bugar dan kuat

TRAIN
Jangan bosan melatihnya. Meskipun Anda belum sehat, bergayalah seakan-akan Anda sehat. Seperti kata pepatah Barat “fake it till you make it” – berpura-puralah sampai pura-pura itu menjadi nyata!

Pertanyaannya: self-image seperti apa yang ingin Anda bentuk? Mulailah membentuknya, sekarang!

CHANGEOLOGY

CHANGEOLOGY: 5 Langkah Merealisasikan Goal dan Resolusi Anda. Penulisnya John C  Norcross, PhD. Beliau ini expert di bidang perubahan perilaku. Juga mantan presiden APA - Asosiasi Psikologi Amerika.

Pernah dengar resolusi tahun baru kan?

- Turun berat badan
- Lebih sering berolahraga
- Rutin membaca buku
- Lebih sering bermain dengan anak
- Menabung lebih teratur
Dsb

Berapa banyak yg resolusinya kemudian benar-benar terwujud? Sedikit.

Mengapa? Karena semua orang ingin berubah. Namun hanya sedikit yang tahu cara berubah secara efektif.

Buku ini menawarkan cara melakukan perubahan yg efektif berdasarkan sains yg sudah teruji.

Penulis mengatakan sebuah proses perubahan yg permanen memerlukan 5 tahap.

1. Persiapan
2. Perencanaan
3. Pelaksanaan
4. Pemantapan
5. Pemeliharaan

Mari kita bahas satu per satu.

Tahap pertama: persiapan.

Tahap ini memerlukan waktu 7-14 hari.

Di tahap ini kita perlu menetapkan goal dan sub goal.

Goal adalah hasil akhir yg ingin Anda capai.

Sub goal adalah perilaku-perilaku yg perlu dilakukan utk mencapai goal tersebut.

Misal goal Anda: mengurangi lingkar pinggang dari 120 cm menjadi 95 cm dalam 3 bulan.

Sub goalnya bisa jadi:
1. Nge-gym 2 x 30 menit per pekan
2. Jalan kaki 1000 langkah per hari
3. Zero gula tiap senin dan kamis

Goal dan subgoal tersebut perlu memenuhi kriteria:
- positif
- spesifik
- terukur
- realistis
- actionable

Setelah menetapkan goal dan subgoal, kita perlu mulai melacak dan mengukur pencapaian goal dan subgoal kita secara harian/pekanan. Tujuannya agar kita selalu ingat dengan goal kita. Jika menggunakan contoh di atas Anda perlu mengukur dan mencatat:

- lingkar pinggang secara pekanan
- nge-gym secara pekanan
- jumlah langkah setiap hari
- yes/no zero gula setiap senin dan kamis

Langkah ketiga di tahap pertama adalah meningkatkan motivasi diri. Caranya dg membayangkan konsekuensi negatif yg akan terjadi bila masalah yg kita miliko tidak terselesaikan. Lalu memvisualisasikan apa manfaat yg akan terjadi bila goal kita tercapai.

Terakhir, nyatakan niat (goal dan subgoal Anda). Pahami bahwa rasa ragu dan takut adalah normal. Tetapkan sebuah slogan yg dapat memotivasi Anda, misalnya: "Dimana ada kemauan, di sana ada jalan"

Nah, kita tahap pertama dulu ya. Besok insyaallah kita lanjut tahap kedua. Silakan dihayati sambil dipraktikkan dulu 🙏

Tambahan materi untuk Tahap Pertama

Ada bahasan yang terlewat saat membahas tahap pertama. Saya tambahkan sekarang ya.

Tiga strategi untuk menyiapkan perubahan:

Pertama, munculkan kesadaran
-  Terima kenyataan bahwa Anda punya masalah, hadapi faktanya
-  Ajukan pertanyaan kepada sekitar Anda. Apa perilaku yang benar-benar perlu Anda ubah dari diri Anda?
-  Ajukan pertanyaan pada ahli. Bila pertanyaan pada orang dekat mungkin terkesan bias dan subyektif, Anda bisa ajukan pertanyaan kepada ahli: nutrisionis, konselor, psikolog, dokter dsb.
-  Lihat/bayangkan diri Anda di layar. Apa perilaku yang bermasalah dan perlu segera Anda hilangkan dari diri Anda?

Kedua, munculkan emosi untuk berubah
-  Apa yang Anda rasakan terhadap masalah Anda?
-  Pikirkan konsekuensi negatif dari masalah Anda? Apa yang Anda rasakan saat Anda memikirkan konsekuensinya?
-  Bayangkan masalah Anda sudah menghilang. Apa konsekuensi positif yang mungkin akan Anda dapatkan? Apa yang Anda rasakan saat Anda membayangkannya?

Ketiga, nyatakan niat Anda
-  Katakan keras-keras niat Anda. Apa yang ingin Anda lakukan.
-  Ulang-ulang slogan Anda
-  Bayangkan role model Anda. Orang yang ingin Anda teladani perilakunya.
-  Bulatkan komitmen perubahan Anda, tidak apa ada sedikit keraguan. Keraguan adalah bumbu dalam perubahan.

Tahap Kedua: perencanaan.

Di tahap ini kita perlu menuliskan rencana kita. Setidaknya dengan menuliskan goal dan subgoal kita, bagaimana mengukurnya dan kapan rencananya kita akan mulai menjalankannya.

Lalu kita merekrut tim pendukung untuk membantu kita tetap ‘on the track’ pada rencana yang kita buat. Tim ini boleh dari keluarga atau teman. Bisa juga mentor atau coach yang kita libatkan secara profesional.

Terakhir, umumkan rencana kita kepada orang-orang yang kita percaya. Tujuannya adalah agar Anda semakin berkomitmen pada rencana Anda.

Tahap ketiga: pelaksanaan.

Ada empat strategi yang dapat Anda gunakan agar Anda benar-benar melaksanakan rencana yang sudah Anda buat.

Pertama, rewarding – memberi reward pada diri Anda sendiri.
Reward yang dapat Anda gunakan bisa berbentuk:
-  Makanan/minuman (jika Anda tidak sedang dalam prodgram diet): kopi, kue dll.
-  Aktivitas: nonton TV, menelpon teman, ke spa dll.
-  Pujian dari orang lain
-  Self-talk positif: pujian ke diri sendiri, afirmasi
-  Token: stiker, bintang dll
Berikan reward untuk kemajuan sekecil apapun menuju goal Anda.

Kedua, countering (counter conditioning)– melakukan sesuatu untuk “melawan” perilaku yang tidak diinginkan.
Taktik yang dapat dipakai misalnya:
-  Diversion – melakukan aktivitas untuk mengalihkan perhatian. Misal, bila kita sering cemas, kita bisa lakukan diversion dengan: menyibukkan diri, jalan-jalan, melakukan hobi dsb.
-  Olahraga dan relaksasi
-  Imagery: membayangkan perilaku yang diinginkan
-  Healthy Thoughts: berpikir secara logis

Ketiga, atur lingkungan untuk mendukung perilaku baru Anda

Keempat, bantuan orang lain (mentor, coach, komunitas)

Tahap keempat: Pemantapan

Tahap ini adalah tahap untuk memastikan Anda tetap menjalankan rencana Anda dan menghindari potensi “terpeleset” – keluar dari jalur yang sudah Anda buat.

Strategi yang dapat Anda gunakan di tahap ini:

Pertama, menghindari pemicu beresiko tinggi

Pemicu beresiko tinggi adalah segala pemicu dari dalam maupun dari luar yang mendorong Anda melakukan perilaku/kebiasaan lama (yang ingin Anda hilangkan).
Bentuknya bisa berupa waktu, tempat, orang, aktivitas, perasaan, atau pikiran tertentu.
Misal, Anda ingin menghilangkan kebiasaan ngemil. Apa saja pemicu yang mungkin mendorongnya? Jawaban setiap orang berbeda, misalnya: saat sendiri dan merasa bosan.
Kita perlu mengidentifikasi pemicu-pemicu apa saja yang mungkin terjadi dan memikirkan perilaku untuk menghadapi pemicu tersebut.

Kedua, berlatih mengatakan tidak

Ketiga, menolak dorongan awal untuk terpeleset/keluar jalur

Taktik yang dapat Anda gunakan:
-  Tarik napas
-  Interupsi pikiran yang memicu
-  Afirmasi: “saya mampu menolaknya”
-  Jalan cepat. Yup, setiap kali ada dorongan untuk melakukan kebiasaan lama, bergeraklah dari tempat Anda dan lakukan jalan cepat.
-  Lakukan perilaku berlawanan yang lebih sehat.
-  Hubungi mentor/konselor/coach Anda
-  Alihkan perhatian
-  Kabur! Lakukan sesuatu yang lain
-  Beri reward pada diri Anda saat Anda dapat menolaknya
-  Gali diri Anda. Temukan kebutuhan yang belum terpenuhi, temukan ‘secondary gain’ (keuntungan sampingan) dari kebiasaan lama Anda dan cari cara lain untuk memenuhinya.

Keempat, merespon secara konstruktif saat Anda terpeleset/keluar jalur

Yakini bahwa terpeleset bukanlah kegagalan permanen. Salahkan perilakunya, bukan orangnya. Ambil pelajaran darinya dan segeralah kembali ke jalur yang benar.

Kelima, membuat rencana bila suatu saat Anda kembali keluar jalur

Istilahnya ‘slip plan.’ Isinya:
-  Apa yang perlu dipikirkan
-  Apa yang perlu dilakukan
-  Apa yang perlu dirasakan
-  Siapa yang perlu dihubungi
Saat Anda keluar dari jalur Anda

Tahap kelima: Pemeliharaan

Jadikan lima langkah ini sebagai gaya hidup. Lakukan perubahan demi perubahan setiap waktu. Selangkah demi selangkah. Anggap lima langkah ini sebagai sebuah siklus berkelanjutan. Proses dari langkah pertama sampai langkah kelima secara umum memerlukan waktu 90 hari. Yup, perubahan perilaku memerlukan waktu supaya permanen. Nikmati prosesnya, rayakan keberhasilan Anda, rasakan kepercayaan diri (self efficacy) Anda semakin meningkat dari waktu ke waktu. Izinkan diri Anda menjadi pribadi yang benar-benar Anda inginkan.

7 Habits

Ada 7 Kebiasaan agar kita menjadi manusia yg efektif.

Kebiasaan 1-3 terkait kemenangan pribadi. Kebiasaan 4-6 terkait kemenangan publik. Kebiasaan 7 terkait "memelihara angsa" kita.

7 Kebiasaan:

1. Menjadi Proaktif
2. Mulai dari akhir di dalam pikiran
3. Dahulukan yg utama
4. Berpikir menang/menang
5. Pahami orang lain dulu, baru minta dipahami
6. Bersinergi
7. Asah gergaji

Kebiasaan #1
Menjadi Proaktif

Ada dua pilihan dalam hidup:

1. Reaktif
2. Proaktif

Reaktif artinya membiarkan orang lain, lingkungan dan masa lalu mempengaruhi kita. Percaya bahwa diri kita saat ini adalah bentukan dari orang tua, gen, tanggal lahir, shio dan kita tidak punya kuasa sedikitpun utk mengubahnya.

Sementara proaktif adalah menyadari bahwa selalu ada pilihan dalam hidup. Kita hidup menurut bayang-bayang dan cetakan orang lain atau kita memilih untuk memenuhi takdir kita sendiri.

Orang yg reaktif meyakini bahwa respon mereka dikendalikan oleh stimulus yg mereka terima.

Sementara orang yg proaktif meyakini bahwa di antara stimulus dan respon terdapat sebuah ruang kebebasan untuk memilih. Ruang inilah yg membuat manusia unik. Ruang ini yg membuat seseorang memiliki responsibility - ability to choose response.

Kita memiliki ruang kebebasan memilih karena kita memiliki

1. Kesadaran diri - kemampuan utk melihat dan mengevaluasi diri sendiri
2. Imajinasi - kemampuan berpikir kreatif dan menciptakan sesuatu yg belum ada
3. Conscience - hati nurani utk membedakan baik dan buruk
4. Independent will - kehendak bebas yg membuat kita mampu menentukan perilaku kita sendiri

Orang proaktif menjadi subyek dan pelaku dalam hidupnya. Sementara mereka yg reaktif merasa menjadi obyek dan korban.

Perhatikan perbedaan bahasa orang reaktif dan proaktif:

Reaktif: tidak ada yg bisa kita lakukan
Proaktif: mari kita cari alternatif lain

Re: saya harus melakukannya
Pro: saya memilih utk melakukannya

Re: dia membuat saya marah
Pro: tidak ada yg dapat membuat saya marah tanpa izin saya

Orang reaktif fokus pada lingkar kepedulian mereka. Orang proaktif fokus pada lingkar pengaruh mereka.

Lingkar kepedulian: apapun yg kita pedulikan

Lingkar pengaruh: apa yg dapat kita lakukan dan pengaruhi

Perhatikan kehidupan kita, sudahkah kita menjadi pribadi yg proaktif?

Kebiasaan  #2
Mulai dari akhir di dalam pikiran

Segala sesuatu diciptakan dua kali. Pertama secara mental (di dalam pikiran), kedua secara fisik (diwujudkan).

Ada dua pilihan menjalani hidup

1. By design (berdasarkan rencana) - secara proaktif mendesain hidup kita. Menetapkan kemana hidup kita akan diarahkan.
2. By default - reaktif, mengikuti rencana orang lain. Menjalani hidup tanpa kesadaran akan tujuan.

Mulai dari akhir di dalam pikiran berarti menyadari tujuan - hasil akhir yg diinginkan sebelum menjalani/melakukan sesuatu.

Salah satu bentuknya adalah dengan merancang Misi Hidup. Sebuah pernyataan yg menjawab tentang siapa kita, apa makna keberadaan kita, apa yg kita wujudkan di muka bumi ini.

Beberapa orang mengistilahkannya dengan Visi Hidup. Mau dibawa kemana hidup kita dan mengapa kita ingin ke sana.

Pikirkan karakter, kontribusi, dan pencapaian yg ingin Anda wujudkan di tiap peran.

Langkah berikutnya adalah menetapkan peran dan tujuan yg ingin dicapai di masing-masing peran.

Bagi rekan-rekan yg tertarik lebih mendalam terkait hal ini bisa merujuk ke buku ketiga saya juga: Life by Design.

Kebiasaan #3
Dahulukan yang Utama

Kebiasaan #3 adalah buah dari kebiasaan #1 dan #2

Kebiasaan #1 berkata bahwa kita bertanggungjawab terhadap kehidupan kita. Kita desainer hidup kita.

Kebiasaan #2 adalah penciptaan secara mental - desain awal di dalam benak kita.

Kebiasaan #3 adalah penciptaan secara fisik - pewujudannya di dunia nyata.

Dahulukan yang utama - prioritaskan aktivitas-aktivitas yg selaras dan paling berdampak terhadap misi dan visi kita.

Di kebiasaan #3 kita diminta untuk mengevaluasi aktivitas kita. Tindakan harian kita. Sudahkah selaras dengan misi dan visi hidup kita?

Kuadran aktivitas.

Kita dapat membagi aktivitas dalam hidup dengan dua kriteria:

- Berdasarkan tingkat kepentingan
- Berdasarkan tingkat kemendesakan

Dari dua kriteria ini, kita dapat bagi aktivitas hidup kita dalam empat kategori:

1. Penting dan mendesak: deadline, krisis, masalah mendesak.
2. Penting namun tidak mendesak: perencanaan, pencegahan, perawatan, pengembangan diri.
3. Tidak penting namun mendesak: interupsi, telp mendesak, rapat tak penting dll.
4. Tidak penting dan tidak mendesak: scrolling timeline FB, chit chat tanpa tujuan, dsb.

Bila kita menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk aktivitas kuadran I, hidup kita akan stressful. Kita dihantui okeh deadline, kita mengerjakan sesuatu menunggu batas akhir.

Bila kita meluangkan sebagian besar waktu di kuadran III, hidup kita seperti dikendalikan pihak luar. Kita mengerjakan sesuatu sekadar karena itu mendesak. Bukan karena itu penting.

Bila waktu kita habis di kuadra III, kita tidak akan menghasilkan apa-apa.

Idealnya, kita luangkan waktu khusus utk kuadran II: aktivitas yg penting namun belum mendesak. Ini akan membuat Anda merasa dalam kendali, seimbang, disiplin dan minim krisis.

Pertanyaannya, di kuadran mana sebagian besar waktu Anda habiskan?

Bagaimana praktik dari kebiasaan #3 ini?

1. Petakan peran-peran Anda
2. Tentukan tujuan pekanan dari masing-masing peran
3. Jadwalkan aktivitas kuadran II dari masing-masing peran dalam jadwal pekanan Anda

Kebiasaan 1-3 adalah tentang kemenangan pribadi. Kemenangan pribadi mendahului kemenangan publik. Inilah paradigma kesalingbergantungan. Kesalingbergantungan (interdependence) yg sebenarnya lahir dari pondasi kemandirian (independence).

Inilah sebabnya, sepasang suami-istri yg sama-sama kuat akan saling menguatkan. Dan bila sama-sama lemah akan saling melemahkan. Ingat, tugas seorang pasangan bukanlah menutupi kelemahan pasangannya. Tugas masing-masing adalah menjadi pribadi yg kuat agar saat berpasangan kita menjadi saling menguatkan.

Setelah melalui kebiasaan 1-3 barulah kita masuk ke kebiasaan 4-6. Kebiasaan 4-6 ini terkait hubungan kita dengan orang lain. Agar kita mampu memahami, memimpin dan memengaruhi mereka.

Rekening Bank Emosional (RBE) adalah metafora yg menggambarkan kondisi hubungan kita dengan orang lain.

Persis seperti rekening bank pada umumnya, hubungan kita dengan orang lain ada saldonya. Bedanya, saldo RBE bisa plus, bisa juga minus.

Kita dapat menambah saldo (deposit) dengan berbuat baik, mendengarkan saat mereka bicara, jujur, memberikan perhatian tulus dsb.

Kita pun dapat menarik saldo saat kita berbohong, menunjukkan sikap tak hormat, mengabaikan dsb.

Hubungan penting kita dengan orang lain (pernikahan, atau hubungan dg anak misalnya) memerlukan deposit yg terus menerus. Menyuruh, memerintah, dan meminta terus menerus menghasilkan efek sebaliknya - ini akan mengurangi saldo RBE Anda.

Ada 6 cara deposit utama untuk meningkatkan saldo RBE Anda

1. Memahami keunikan individu
2. Memperhatikan hal-hal kecil
3. Menjaga komitmen
4. Mengklarifikasi harapan/ekspektasi
5. Menunjukkan integritas pribadi
6. Meminta maaf dengan tulus saat kita melakukan penarikan (penarikan saldo RBE)

Intisari dari buku ini:

1. Perubahan dimulai dari dalam. Bila kita ingin mengubah hasil-hasil yg kita dapatkan maka kita perlu mengubah tindakan kita. Dan untuk mengubah tindakan kita, kita perlu mengubah cara berpikir kita.

2. Untuk memimpin orang lain secara efektif, kita perlu memimpin diri sendiri secara efektif terlebih dulu. Sukses dengan diri sendiri mendahului sukses dengan orang lain.

3. Kebiasaan kita menentukan nasib kita. Awalnya adalah pikiran, lalu berubah menjadi perasaan, perasaan menjadi tindakan, tindakan menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter, karakter menjadi nasib.

Maka, untuk menjadi pribadi yg efektif kita perlu mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yg mendukung ke arah sana. Covey merumuskan setidaknya ada 7 Kebiasaan yg perlu dilatih dan dijadikan bagian dalam hidup kita.

7 Kebiasaan tersebut adalah:

1. Jadilah proaktif
2. Mulai dari tujuan akhir
3. Dahulukan yang utama

Tiga kebiasaan ini menjadikan kita pribadi yg mandiri, pemimpin diri.

4. Berpikir menang menang
5. Berusaha memahami dulu baru minta dipahami
6. Bersinergilah

Tiga kebiasaan berikutnya menjadikan kita sebagai pribadi yg efektif dalam berhubungan dengan orang lain. Memimpin orang lain.

7. Asah gergaji

Kebiasaan terakhir ini tentang mengembangkan diri. Memastikan sumberdaya yg kita miliki (fisik, mental, emosional, spiritual) selalu terawat dan terbaharui.

Kebiasaan 1 - Jadilah Proaktif, adalah tentang bertanggungjawab terhadap respon kita sendiri. Lawannya adalah reaktif, menyalahkan orang lain atau lingkungan atas apa yg terjadi pada hidup kita.

Kebiasaan 2 - mulai dari tujuan akhir, adalah tentang penentuan tujuan sebelum melakukan segala sesuatu. Maka, setelah kita proaktif - bertanggungjawab dengan diri, kita perlu menentukan tujuan kita, arah hidup kita, ingin menjadi pribadi seperti apa ke depannya.

Kebiasaan 3 - dahulukan yg utama, adalah tentang mengambil tindakan. Karena orang yg proaktif bertanggungjawab dengan diri dan nasibnya (kebiasaan 1), maka ia menentukan tujuan/arah hidupnya (kebiasaan 2). Ia pun memastikan setiap tindakannya selaras dengan tujuannya (kebiasaan 3). Percuma memiliki visi besar jika setiap hari ia hanya melakukan hal-hal remeh yg tak penting, jika tindakan hariannya tidak mengarahkan dia ke visinya.

Kebiasaan 1, 2, 3 memastikan kita menjadi pribadi yang mandiri. Menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Tanpa hal ini, kita tidak akan mungkin mampu memimpin orang lain.

Kebiasaan 4 - berpikir menang/menang. Ini adalah tentang niat pada saat kita berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain.

Saat membangun hubungan atau berkomunikasi dengan orang lain pastikan kita awali dengan niat baik: menang/menang. Orang lain menang, kita pun menang.

Bukan menang/kalah yg membuat kita ingin mendominasi/mengalahkan orang lain.

Bukan kalah/menang yg membuat kita didominasi orang lain.

Bukan pula kalah/kalah yg membuat kita dan orang lain sama-sama menjadi abu.

Kebiasaan 5 - berusaha memahami dulu baru minta dipahami adalah tentang mendengarkan. Mendengarkan untuk memahami. Mendengarkan apa yg penting bagi orang lain. Apa yg dianggap baik dan benar oleh mereka. Tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum kita menyodorkan sudut pandang kita.

Kebiasaan 6 - bersinergilah adalah tentang menemukan cara yg lebih baik utk bekerjasama dengan orang lain. Bukan caraku, bukan caranya melainkan cara kita yg lebih baik.

Saat niat kita baik (kebiasaan 4), kita akan mau berusaha memahami sudut pandang orang lain (kebiasaan 5). Ini semua memudahkan kita menemukan cara untuk bekerjasama secara sinergis dengan mereka (kebiasaan 6). Ini adalah kunci dalam mempengaruhi dan memimpin orang lain.

Kebiasaan 7 - mengasah gergaji, adalah tentang merawat aset yg kita punya: fisik, mental, emosional, spiritual.

Setiap pekan usahakan utk merawat dan mengasah aset kita ini.

Dengan berolahraga, membaca, bercengkerama, mengkaji ayat-ayat-Nya dsb.

Tanpa kebiasaan ini, aset kita menjadi tumpul. Kita menjadi kurang peka terhadap diri sendiri dan orang lain. Kita menjadi tidak efektif melakukan kebiasaan 1-6.

3 konsep

3 konsep

Konsep #1: Inside Out (see, do, get)

Untuk mengubah hasil-hasil yg kita dapatkan kita perlu mengubah apa yg kita lakukan. Untuk mengubah apa yg kita lakukan maka kita perlu mengubah cara pandang kita (mindset; belief; paradigma)

See --> Do --> Get

Konsep #2: Kemenangan pribadi mendahului kemenangan publik.

Kelola diri dulu baru kelola orang lain. Pengaruhi diri dulu baru pengaruhi orang lain.

Konsep #3: Angsa dan telur emas.

Jika kita ingin mendapatkan telur emas secara berkesinambungan jangan sembelih angsanya.

Jika kita ingin mendapatkan hasil-hasil terbaik dalam hidup jangan korbankan aset utama kita.

Your spacious self

Clearing (bersih-bersih) diawali dengan awareness (kesadaran). Menyadari bahwa bukan kekacauan yang menjadi masalah, melainkan bagaimana kita terhubung dengan kekacauan itulah masalahnya.

Dunia luar adalah proyeksi dari dunia dalam kita.

Rumah yang berantakan adalah proyeksi dari pikiran dan emosi kita.

Maka, tidak hanya kekacauan fisik yg perlu kita bersihkan. Namun juga kekacauan mental dan emosional.

Mari kita lakukan sedikit tes kecil.

- saya hidup dalam kehidupan terbaik saya.
- saya menerima diri saya apa adanya.
- saya melakukan apa yg saya cintai.
- saya menerima dan mencintai pasangan saya apa adanya.
- saya menjalani hari saya tanpa kekhawatiran dan ketakutan.

Bila Anda menjawab 'tidak' pada salah satu pernyataan di atas, ada kemungkinan Anda memiliki kekacauan (yg terlihat maupun tak terlihat) dalam hidup Anda.

Rumah yg berantakan, ketakutan tak beralasan, situasi overwhelmed (kewalahan), penyangkalan, keterikatan pada sesuatu, keengganan melepaskan masa lalu adalah kondisi-kondisi kekacauan yg perlu dibersihkan.

Clutter is a state of mind, clearing is a way of being...

Ada 4 kunci agar kita dapat menjadikan clearing sebagai jalan hidup.

1. Intention - niat.
2. Action - tindakan.
3. Non-identification - melihat tanpa melabeli.
4. Compassion - rasa welas asih.

Keempat kunci tersebut perlu secara sadar kita munculkan selama menjalani hari.

10 Paradigma Lama dan 10 Paradigma Baru tentang Bersih-Bersih

1. Kekacauan itu bersifat materil: fisik dan terlihat.

👉 kekacauan adalah energi yg terhambat. Termanifestasi awalnya dalam bentuk pikiran, kata-kata, lalu tindakan.

2. Kekacauan/kondisi berantakan tak terhubung/terpisah dari diri kita.

👉 kekacauan adalah perluasan/cermin dari diri kita

3. Kekacauan tumbuh seperti gulma.

👉 kekacauan tumbuh sebagai hasil dari ketidaksadaran manusia.

4. Kekacauan itu buruk, gangguan, sesuatu yg memalukan.

👉 kekacauan itu guru; mencerminkan ruang dalam diri yg memerlukan cinta dan penyembuhan.

5. Bersih-bersih itu proses linear.

👉 bersih-bersih itu sebuah perjalanan.

6. Bersih-bersih itu mendorong diri melewati perlawanan dan membuang sesuatu.

👉 bersih-bersih adalah menenangkan perlawanan dan melepaskan diri.

7. Bersih-bersih itu aktivitas yg membosankan.

👉 bersih-bersih itu latihan hadir utuh di sini, saat ini.

8. Bersih-bersih itu tentang membuat perubahan.

👉 bersih-bersih itu tentang mengizinkan perubahan.

9. Bersih-bersih dapat digunakan utk mengubur dan menyangkal perasaan.

👉 bersih-bersih itu dapat digunakan utk mengizinkan dan mengalami perasaan.

10. Bersih-bersih menciptakan jalan menuju pintu kita.

👉 bersih-bersih menciptakan jalan menuju diri terlapang kita: jiwa yg penuh kasih sayang.

The Money-Making Power of Tidying Up karya Yon Soo Hyun.

Apa yg menyebabkan kita malas beres-beres? Satu sebab utama adalah karena banyaknya barang yg menumpuk. Lalu, apa penyebab barang menumpuk? Penyebab utamanya adalah pembelian impulsif. Mendadak ingin beli saat melihat barang. Sehingga kita banyak membeli barang yg sebenarnya tidak kita butuhkan.

Intinya adalah sikap boros.
Boros bukanlah membeli barang mahal. Boros adalah membeli barang yg tidak kita butuhkan.

Sikap boros ini membuat pola konsumsi kita menjadi tak logis. Akibatnya kita tidak punya uang utk ditabung. Padahal bila konsumsi kita logis, kita bisa menyisihkan uang untuk ditabung dan diinvestasikan.

Impulsif = keinginan sesaat.

Ruangan di rumah kita memiliki nilai uang. Bila kita menggunakan ruang untuk menyimpan barang yg tidak diperlukan itu artinya pemborosan ruang. Pemborosan ruang berarti pemborosan uang.

Bayangkan bila kita punya ruangan dg harga Rp.5juta/meter persegi. Bila kita gunakan ruangan seukuran 1 meter persegi itu utk menyimpan barang yg tidak diperlukan, artinya kita sedang menyia-nyiakan uang 5juta tsb.

Kaya bukanlah memiliki banyak barang mahal (tapi kemudian kita tidak punya uang cash). Kaya adalah memiliki uang cash meskipun tdk punya barang mahal.

Ada sebuah kesimpulan menarik dari Osamu Haneda: orang yg kamarnya berantakan cenderung telat membayar sewa.

Sementara menurut Mitsuhiro Masuda: kamar yg kotor menarik aura negatif yg menarik kesialan. Sementara kamar yg bersih menghilangkan aura negatif ini dan memperbaiki nasib.

Berbenah mengubah kebiasaan dan akhirnya akan mengubah pribadi kita.

Berbenah memiliki efek kupu-kupu. Perubahan kecil ini akan memicu perubahan besar di masa datang.

Mengapa kita senang menyimpan barang?

Secara psikologis:

1. Endowment Effect
Kondisi ketika kita menganggap semua barang yg kita miliki sangat tinggi nilainya (padahal nyatanya tidak). Ini menciptakan keterikatan.

2. Sunk-cost Falacy
Merasa sayang membuang barang karena biaya yg sudah kita keluarkan di masa lalu.

3. Status Quo Bias
Malas berubah.

Membuang barang tidak berarti membuang kenangan. Membuang barang artinya melepaskan masa lalu.

Kriteria menentukan apakah barang tsb perlu disimpan:

1. Kebutuhan: apakah saya menggunakannya sekarang? (Jangam terjebak pada 'nanti')
2. Waktu: apakah saya punya waktu utk menggunakannya?
3. Perasaan: apakah memunculkan rasa bahagia saat memegangnya?
4. Nilai: apakah meningkatkan nilai diri kita?
5. Tempat: apakah kita memiliki ruang untuk menyimpannya?

Tahu, Paham, Bisa

Tahu, Paham, Bisa

Kalau teman-teman pernah belajar taksonomi Bloom, saya yakin teman-teman familiar dengan istilah: knowing, understanding, applying, analyzing, evaluating, creating. Saya akan bahas sedikit tiga level pertamanya:

•  Tahu
•  Paham
•  Bisa

Tahu tentang coaching berbeda dengan paham tentang coaching. Paham tentang coaching, belum tentu bisa melakukan coaching. Ketiga hal tersebut berada di level kemampuan yang berbeda. Untuk bisa melakukan coaching, kita perlu paham bagaimana melakukan coaching terlebih dulu. Dan untuk paham, kita perlu tahu apa itu coaching terlebih dulu. Ini adalah sunnatullah dalam belajar. Belajar memerlukan tahapan: tahu, paham, baru bisa.

Tahapan ini berlaku pada pengetahuan dan skill apapun. Facebook Marketing misalnya. Orang banyak yang tahu tentang Facebook Marketing. Berapa banyak yang paham bagaimana melakukannya? Kemudian mereka yang sudah paham, apakah pasti bisa melakukannya? Belum tentu. Karena paham dan bisa berada di lapisan yang berbeda. Bisa ada di level di atas pemahaman.
Nah, terkait ini, banyak orang yang salah menempatkan ekspektasi saat belajar. Entah saat mengikuti kelas, seminar, training atau baca buku. Banyak orang berharap langsung bisa selesai ikut training. Banyak yang berharap langsung bisa setelah baca buku. Padahal untuk sampai ke level bisa, kita perlu tahu dan paham dulu.

Level tahu bisa kita dapatkan cukup dengan membaca atau ikut seminar. Untuk paham, kita perlu membuat catatan, skema, mencorat-coret, menghubungkan dengan apa yang sudah kita tahu, menghubungkan dengan pengalaman kita, berdiskusi, nanya-nanya, membuat hipotesis, memvalidasinya dan berbagai proses belajar aktif lainnya. Setelah itu, barulah kita paham. Kita akan mendapatkan Aha! Moment atau insight. Kita bisa melihat gambaran besar sekaligus elemen-elemen detailnya di dalam benak kita dengan jelas dan clear. Setelah itu, apakah kita langsung bisa menerapkannya di dunia nyata? Belum tentu. Untuk sampai ke level bisa kita perlu mempraktikkan dan melatihnya berulang-ulang. Kita perlu masukan (feedback; umpan balik) dari praktisi yang sudah melakukan (senior, mentor, coach siapapun). Setelah melalui minimal 20 jam praktik, barulah kita bisa mulai menerapkannya dengan lumayan. Kalau kita ingin sampai di level ahli (world-class performer) bahkan kita perlu melatihnya selama minimul 10.000 jam!

Jadi, saat mengikuti pelatihan, membaca buku atau belajar apapun, pastikan kita menetapkan target yang realistis. Kejar tahu dulu, lalu aktiflah bertanya dan berpikir supaya paham, setelah itu jangan lupa untuk melatihnya, mempraktikkannya. Dengan demikian, Anda akan ahli di bidang Anda. Apapun bidang yang Anda pilih.

Apa yang Orang Sukses Lakukan Sebelum Sarapan.

Pagi hari seringkali menjadi waktu paling menghebohkan dalam setiap rumah tangga. Mulai dari menyiapkan sarapan, bersitegang dg anak-anak utk ke sekolah, bermacet-macet ke tempat kerja. Akibatnya, pagi yg seharusnya menjadi waktu paling menyegarkan justru jadi memusingkan. Tenaga dan pikiran kita habis utk aktivitas yg tidak begitu produktif.

Menariknya, hampir setiap orang sukses memanfaatkan waktu paginya dengan baik. Cara kita memanfaatkan pagi kita lah yg membedakan antara kesuksesan dan kekacauan. Dengan sedikit penyesuaian kita masih dapat mengatur pagi di tengah rutinitas kehebohan pagi.

Waktu pagi adalah waktu yg sangat berharga. Di pagi hari kapasitas willpower kita berada di puncaknya. Artinya kita siap melakukan hal-hal kreatif dan produktif. Sangat disayangkan bila kita menyia-nyiakan potensi ini.

Idealnya kita menjadwalkan dan menjalankan prioritas tertinggi kita di pagi hari. Terutama untuk hal-hal penting namun tidak mendesak dalam hidup kita.

Orang sukses memanfaatkan pagi mereka untuk mengerjakan hal-hal berikut:

1. Mengembangkan bisnis/karier. Menyusun strategi dan pekerjaan yg terfokus.

2. Mempererat hubungan. Memberikan yg terbaik utk keluarga dan teman.

3. Memperhatikan diri sendiri. Melakukan olah raga, olah pikir dan olah jiwa.

Seorang penulis misalnya. Bangun lebih pagi kemudian menulis sebelum melakukan aktivitas rutin lainnya.

Beberapa pebisnis meluangkan paginya utk meditasi, olahraga dan membaca sebelum berangkat ke kantornya.

Bahkan ada yg berkata, apa yg dilakukan orang sukses sebelum jam 9 pagi jauh lebih banyak daripada yg dilakukan oleh orang rata-rata.

Lalu, bagaimana cara mengubah pagi kita? Ikuti proses lima langkah berikut ini.

1. Lacak waktu Anda.

Kita memiliki 168 jam dalam seminggu. Kita gunakan utk apa saja ke-168 jam ini?

2. Bayangkan pagi yg sempurna.

Seperti apakah pagi sempurna Anda? Pikirkan dan rancang dalam benak Anda seideal mungkin. Lalu tuliskan di kertas.

3. Pahami hal-hal terkait logistik.

Dukungan, alat bantu, peralatan dan perlengkapan apa saja yg Anda perlukan utk pagi sempurna Anda?

4. Ciptakan kebiasaan

Ciptakan ritual pagi Anda. Mulai dari hal kecil. Ingin rutin membaca di pagi hari? Mulai dengan 1 paragraf atau 1 menit. Lalu tingkatkan setiap hari.

5. Lakukan perubahan sesuai kebutuhan.

Hidup berubah. Ritual pun dapat berubah. Sesuaikan sesuai kebutuhan Anda.

Mengubah pagi Anda akan mengubah hidup Anda secara keseluruhan. Pertanyaannya: ritual pagi apa yg akan mulai Anda ciptakan?

FOCUS: The Hidden Driver of Excellence

Fokus adalah rahasia keunggulan. Hampir semua orang yang sukses di bidangnya memiliki kemampuan untuk fokus. Fokus berarti memberikan atensi penuh pada satu hal dan mengabaikan gangguan di sekitarnya.

Seorang atlit tennis misalnya, mereka perlu memiliki kemampuan untuk hadir utuh di pertandingan. Mengabaikan teriakan-teriakan penonton yang dapat mendistraksi kemampuannya.

Seorang penjual yang hebat memiliki kemampuan untuk fokus pada calon pelanggannya saat melakukan presentasi penjualan.

Seorang pemimpin bisnis, perlu kemampuan untuk fokus pada dinamika perubahan yang terkait dengan industrinya. Sehingga ia bisa beradaptasi dan mengambil keputusan strategis yang tepat.

Di era yang penuh distraksi dan banjir informasi seperti ini, kemampuan fokus kita melemah. Attention span manusia menjadi sangat pendek. Kita dengan mudah teralihkan perhatian oleh sosmed, gadget dan sebagainya. Kemampuan fokus menjadi keterampilan penting di era yang penuh distraksi dan banjir informasi seperti saat ini.

Jika dilihat dari ilmu neurologi, kemampuan fokus terkait dengan fungsi PFC (Pre-Frontal Cortex). PFC adalah CEO dari otak kita. Berfungsi tidak hanya mengatur atensi, namun juga mengambil keputusan, mengelola willpower, juga membedakan baik dan buruk. Tidak heran, bila kemampuan fokus seseorang berkorelasi positif dengan kemampuan-kemampuan ini. Semakin terampil seseorang untuk mengelola atensi/fokus-nya semakin terampil ia mengambil keputusan, mengelola willpower, dan membedakan baik dan buruk. Secara ringkas, fokus membuat seseorang mampu menuntaskan apa yang sudah dimulainya.

Daniel Goleman, dalam bukunya FOCUS: The Hidden Driver of Excellence, menyebutkan ada tiga area fokus.

Pertama, inner focus.

Kemampuan seseorang mengenali pikiran, perasaan dan tubuhnya sendiri. Istilah lainnya adalah Self-Awareness (kesadaran diri). Ini merupakan kunci untuk Self-Regulation, Self-Management, dan Self-Control (pengaturan, pengelolaan, dan pengendalian diri). Kita dapat melatih inner focus dengan banyak hal. Misalnya: meditasi, zhan zhuang, tai chi, sholat khusyu, atau mempraktikkan mindfulness. Tidak heran bila ada sebuah ayat menjelaskan bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (Al Ankabut: 45). Secara sains, shalat (yang khusyu) melatih Self-Awareness dan Self-Awareness meningkatkan kemampuan Self-Control.

Sementara jika ditilik dari kacamata NLP, kita dapat melatih inner focus dengan melatih internal sensory acuity. Di kelas NLP Essential, Anda akan belajar banyak tentang hal ini.

Kedua, other focus.

Kemampuan seseorang mengenali pikiran dan perasaan orang lain. Ini adalah dasar dari empati dan rapport. Ada tiga area dari other focus:

  * Cognitive empathy: berpikir dari sudut pandang orang lain.
  * Emotional empathy: merasakan apa yang dirasakan orang lain.
  * Emphatic concern: kepedulian dan rasa welas asih terhadap orang lain.

Bila dilihat dari kacamata NLP, kita dapat melatih other focus dengan melatih external sensory acuity dan callibration.

Ketiga, outer focus.

Kemampuan seseorang mengenali pola dalam kekacauan dan kesadaran terhadap sistem yang lebih luas. Saya berpendapat, kesadaran terhadap ekologi dan Neuro-Logical Level dalam NLP dapat digunakan untuk melatih outer focus ini.

Maka, bila kita ingin menjadi seorang leader yang efektif, mau tidak mau kita perlu melatih tiga macam fokus ini: inner, other, dan outer. Dari ketiga macam fokus ini, mana yang Anda rasa masih kurang tajam? Lalu bagaimana Anda akan melatihnya?

Execution is the strategy

4 Premis Strategi:

1. Interdependency
Kesalingbergantungan antara goal, strategi dan taktik
2. Fluidity
Strategi perlu memfasilitasi taktik yg fleksibel
3. Speed
Strategi perlu dieksekusi dg cepat agar efektif
4. Validity

Strategi perlu tepat dan kuat

4 Kunci Eksekusi Strategi yg Efektif

L = Leverage
Talent/resources
E = Environment
Culture/Engagement
A = Alignment
Communication/Productivity
D = Drive

Speed/agility

LEVERAGE

Organisasi yg efisien beroperasi dg pengungkit.

1. Input/force/gaya = leader
2. Pengungkit = tim
3. Titik tumpu = alat bantu/sumber daya

4. Beban = organisasi

Memaksimalkan leadership

1. Delegasi otoritas
2. Mendemonstrasikan trust. Menghindari micromanagement.

3. Memimpin dg keteladanan. Menjadi model.

Menguatkan tim

1. Merekrut talent yg sesuai dg kebutuhan.
2. Meluangkan waktu mengcoaching tim.

3. Menyediakan training yg diperlukan.

Meningkatkan sumber daya

1. Menyediakan perlengkapan yg diperlukan tim utk mengerjakan tugasnya.
2. Menekankan pemikiran lintas fungsi antar tim.

3. Mencari kemitraan utk melengkapi keahlian yg tdk kita miliki.

ENVIRONMENT

Bangun budaya yg mendukung tim utk memberikan performa terbaik.

Membangun budaya

1. Mengencourage setiap org utk memberikan yg terbaik.
2. Menekankan pentingnya akuntabilitas.
3. Menciptakan atmosfir kolaboratif.

Merangkul perubahan

1. Terbuka pada perubahan.
2. Mendukung inovasi, kreativitas dan pengambilan risiko yg terukur.
3. Menekankan pentingnya peningkatan berkelanjutan.

Melibatkan tim

1. Mendukung tim berinisiatif.
2. Menguatkan tanggung jawab pribadi.
3. Menciptakan rasa kepemilikan dari tim.

Taktik dalam perubahan:

1. Fokus ke manfaat.
2. Reframe tantangan sbg peluang.
3. Lakukan secara bertahap.

ALIGNMENT

Menyelaraskan antara tujuan strategis dengan aktivitas harian tim.

Tim perlu tahu

1. Mengapa mereka perlu peduli?
2. Apa goalnya?
3. Bagaimana cara kita sampai ke sana?

Merencanakan Pencapaian Tujuan

1. Menetapkan ekspektasi performa yg jelas utk masing2 anggota tim.
2. Membantu tim membuat rencana project utk capai tujuan.
3. Memastikan taktik dan tindakan harian akan membantu perwujudan tujuan jangka panjang.

Membawa tim dalam misi

1. Memahami motivasi tiap anggota tim.
2. Menunjukkan apresiasi yg tulus utk kerja keras mereka.
3. Mengkomunikasikan tujuan dan kegembiraan terkait misi.

Mengukur Kemajuan

1. Melacak pencapaian goal individu.
2. Mengukur kemajuan tim secara berkala. Mereview key milestone secara teratur.
3. Menyiapkan rencana cadangan utk menghadapi krisis potensial.

DRIVE

Menggerakkan tim.

Mengeliminasi pembuang waktu

1. Membantu tim bekerja sesuai prioritas.
2. Meluangkan waktu rapat secara produktif.
3. Mendukung keseimbangan work/life yg masuk akal.

 

Menambahkan enablers

1. Membantu tim mengeliminasi distraksi. Memberi mereka waktu utk berpikir dan fokus.
2. Menciptakan protokol komunikasi. Panduan utk chat, email dll.
3. Mengeleminasi aktivitas yg tdk mendukung prioritas strategis.

Menyingkirkan hambatan

1. Menyingkirkan penghambat yg melambatkan tim.
2. Menguatkan kebutuhan utk urgensi dan efisiensi.
3. Membuat keputusan dg cepat

The Life-Changing Magic of Tidying Up

Marie Kondo The Life-Changing Magic of Tidying Up.

Buku ini membahas bagaimana beres-beres rumah alias berbenah dapat mengubah hidup.

Menurut Kondo, merapikan rumah artinya merapikan aspek kehidupan kita lainnya.

Saat rumah rapi, urusan pekerjaan dan keluarga pun ikut rapi.

Dengan menata ulang rumah kita secara menyeluruh, gaya hidup kita dan pola pikir kita ikut berubah drastis.

Kita akan mengalami transformasi besar dalam diri dan kehidupan kita.

Bila Anda merasa hidup Anda berantakan, mulailah dengan menata kembali rumah Anda.

Membereskan rumah juga berarti membereskan masa lalu kita. Anda akan bisa melihat dg lebih jernih apa yg sebenarnya Anda butuhkan dan apa yg tidak Anda butuhkan dalam hidup.

Mengapa demikian? Karena Anda berhasil menyingkirkan berbagai penghalang (baca: sampah) dari rumah Anda.

Orang Jepang meyakini bahwa kamar tidur yg rapi dan kamar mandi yg bersih mendatangkan keberuntungan.

Prinsip Fengshui Tiongkok pun sama. Rumah yg berantakan menghambat aliran energi, menjauhkan kita dari kekayaan dan keberuntungan.

Prinsip beres-beres Konmari Method adalah mulai dengan membuang lalu rapikan ruangan Anda secara menyeluruh, sekaligus, dalam satu waktu.

Pernah merasa Anda sudah beres-beres ketika rumah berantakan namun dalam waktu singkat rumah Anda berantakan kembali?

Ini terjadi karena Anda hanya merapikan dan menyimpan.

Anda tidak benar-benar membuang barang yg tidak diperlukan.

Menurut Kondo, berbenah sedikit-sedikit tiap hari berarti berbenah tanpa henti. Dan ini melelahkan.

Piawai menyimpan saja tidak cukup. Anda perlu membuang sekaligus barang-barang yg tidak Anda perlukan.

Piawai menyimpan sama dengan menimbun.

Kita terbiasa menyimpan barang di tempat yg tak terlihat. Ini memunculkan ilusi seakan-akan situasi yg amburadul sudah teratasi. Padahal tidak.

Kondo menyarankan agar kita berbenah bersdasarkan kategori. Bukan berdasar lokasi.

Mulailah dg membuang semuanya sekaligus, tanpa ampun dan sampai tuntas.

Jangan menyimpan barang jika kita belum selesai membuang.

Kriteria seleksinya mudah: apakah barang ini membangkitkan kegembiraan saya atau tidak?

Pilih barang yg ingin Anda simpan. Bukan pilih barang yg ingin Anda buang

Kita berat hati membuang barang setidaknya karena 3 alasan.

1. Nilai fungsional - barang tsb masih bisa kita gunakan.

2. Nilai informatif - barang tsb memuat informasi yg bermanfaat.

3. Nilai emosional - barang tsb memiliki kenangan.

Kategori urutan yang disarankan adalah sbb:

1. Pakaian
2. Buku
3. Kertas
4. Pernak pernik
5. Barang kenangan

Mulailah dg membuang barang milik Anda sendiri. Keinginan menegur org lain yg tidak rapi adalah pertanda bahwa Anda melalaikan ruang pribadi Anda sendiri.

Berbenah adalah dialog dg diri sendiri. Waktu terbaik adalah di pagi hari. Udara pagi yg segar menjernihkan benak Anda dan menajamkan penilaian Anda.

Sewaktu memilih barang yg mau dibuang, penghambat utama adalah pikiran rasional kita. Meski secara intuitif barang tsb sdh tidak menarik namun kita berpikir "siapa tahu aku membutuhkannya kapan-kapan." Ini adalah hambatan terbesar dalam berbenah.

Agar bisa sepenuh hati mensyukuri apa yg paling penting bagi kita, pertama-tama kita harus membuang barang-barang yg sudah tidak bermanfaat.

Membereskan pakaian.

Urutan:
1. Atasan
2. Bawahan
3. Pakaian yg digantung (mantel, jas, jaket)
4. Kaus kaki
5. Baju dalam
6. Tas
7. Aksesori
8. Pakaian khusus (baju renang dsb)
9. Sepatu

Letakkan setiap lembar pakaian di lantai. Pegang satu per satu. Tanyakan: apakah ini membangkitkan kegembiraan?

Dilarang mengalihfungsikan pakaian menjadi "baju rumah"

Apa yg Anda kenakan di rumah memengaruhi citra diri Anda.

Dalam budaya Jepang, melipat baju itu mengalirkan energi positif pada pakaian.

Saat melipat usapkan telapak tangan pada baju, munculkan rasa syukur dan salurkan rasa cinta ke baju Anda.

Kunci menyimpan pakaian agar rapi: memberdirikan bukan menidurkan.

Bukan ditumpuk melainkan dijejer.

Agar dapat disimpan dg berdiri, Anda perlu melipatnya dalam bentuk kotak. Seperti tutorial di atas

Setiap pakaian dilipat dg cara yg paling pas dengan "kepribadian" mereka.

Bahan tipis lembut berbeda dg bahan tebal mengembang.

Mengapa banyak lemari pakaian berantakan:

1. Terlalu banyak isi yg dijejalkan.
2. Tidak tahu cara menyimpan/menatanya.

Kunci lemari rapi:
Tata pakaian hingga menaik ke kanan.

Garis naik ke kanan membuat kita merasa nyaman.

Ini dapat menggembirakan hati setiap kali kita membukanya.

Perlakukan kaos kaki dan stoking dg hormat. Jangan pernah menggulungnya. Lipatlah dg baik.

Laci bertingkat lebih direkomendasikan sbg tempat penyimpanan.

Buku adalah salah satu jenis barang yang paling sukar diikhlaskan oleh orang-orang, termasuk saya.

Cara menyortir buku sama dengan menyortir barang lainnya. Tanyakan: "apakah buku ini mendatangkan kegembiraan atau tidak saat disentuh?"

Kita tidak membuang buku karena meyakini: siapa tahu aku bakal membacanya lagi. Kenyataannya sedikit sekali buku milik kita yang kita baca ulang.

Buku pada dasarnya hanyalah kertas yang memuat huruf-huruf cetak dan dijilid menjadi satu. Kegunaan hakikinya adalah untuk dibaca, untuk menyampaikan informasi kepada pembaca. Makna buku terletak pada informasi yang dikandungnya. Buku tidaklah bermakna bila dibiarkan menganggur di rak.

Buku yang akan dibaca kapan-kapan artinya tidak akan dibaca sampai kapanpun.

Buku yang disimpan cukuplah buku favorit sepanjang masa.

Kali pertama menjumpai sebuah buku adalah saat paling tepat untuk membacanya.

Menyortir kertas - patokan umum: buang semuanya. Kecuali:

1. Masih dipakai.
2. Masih diperlukan selama kurun waktu tertentu.
3. Harus disimpan hingga waktu tak terbatas.

Simpan semua kertas dalam satu tempat. Jangan biarkan bertebaran di area lain di rumah.

Kertas ditata menurut tiga kategori:
1. Harus diurus.
2. Harus disimpan (dokumen kontrak)
3. Harus disimpan (lain-lain).

Menyortir komono (pernak-pernik) - simpan barang yang Anda sukai, bukan menyimpan karena ingin saja.

Urutan memilah komono:
1. CD, DVD
2. Produk perawatan kulit
3. Rias wajah
4. Aksesori
5. Barang berharga (paspor, kartu-kartu)
6. Alat elektronik kecil (kamera, kabel dll)
7. Peralatan rumah tangga (alat tulis, alat jahit)
8. Perlengkapan rumah tangga (barang sekali pakai: obat, deterjen, tisu dll)
9. Alat dapur atau alat makan
10. Lain-lain (uang receh, pajangan dll)

Buang dus barang elektronik, kabel tak jelas, barang rusak dll.

Masukkan uang receh di satu tempat.

Membuang barang kenangan tidak membuang kenangan kita. Masa lalu, seindah apapun tidak dapat dijalani kembali, yang lebih penting adalah kegembiaraan yang kita rasakan di sini saat ini.

Buang dan kurangi barang yang Anda miliki sampai terasa pas.

Asal mengikuti intuisi semua pasti beres.

Kenyataan bahwa Anda memiliki barang berlebih yang tidak tega Anda buang bukanlah bukti bahwa Anda merawat barang tersebut baik-baik, melainkan justru sebaliknya.

MENYIMPAN SECARA APIK

Buang dulu, simpan belakangan.

Pastikan setiap barang memiliki tempatnya sendiri.

Tidak ada rumah yang tidak cukup untuk menyimpan barang. Yang ada adalah kita menyimpan barang melampaui yang kita butuhkan atau inginkan.

Simpanlah barang dengan tatanan sesederhana mungkin.

Aturan menyimpan barang:

1. Simpan semua barang sejenis di satu tempat.
2. Jangan menyimpan di tempat yang tersebar-sebar.

Mudah untuk menyimpan, bukan mudah untuk mengambil.

Keadaan menjadi berantakan karena kita gagal menyimpan barang ke tempatnya. Maka, dalam urusan menyimpan barang seharusnya yang dipermudah adalah usaha kita ketika kita mengembalikannya bukan saat mengambilnya.

Ketika memilih hendak menyimpan apa, tanya hati Anda. Ketika memilih hendak menyimpan dimana, tanya rumah Anda.

Simpan secara vertikal, jangan ditumpuk.

Menumpuk membebani barang yang paling bawah.

Manfaatkan kotak sepatu/box apapun untuk menata barang Anda.

Simpan tas di dalam tas lain.

Kosongkan tas setiap hari setelah dipakai.

Barang yang bertebaran di lantai semestinya disimpan di lemari.

Keengganan kita membuang barang tertentu sejatinya hanya berakar dari dua penyebab: keterikatan pada masa lalu dan kekhawatiran pada masa depan.

Think Smarter

"Udah, jangan kebanyakan mikir, action saja"

Pernah dengar pernyataan seperti ini?

Pernyataan ini seringkali membuat kita mendiskreditkan proses berpikir. Seakan-akan banyak berpikir itu salah dan tidak tepat.

Menariknya, nasihat ini sering kita dengar dalam berbagai konteks yg berbeda.

Termasuk dalam konteks bisnis.

Buat apa berpikir? Kita tidak dibayar hanya dengan berpikir.

Akhirnya kita melompat ke kesimpulan: dalam bisnis, berpikir itu tidak penting.

Menariknya, kesimpulan ini justru bertentangan dg nasihat dari Keith Cunningham (mentornya pak Heppy Trenggono).

Menurut Cunningham, berpikir adalah pekerjaan utama seorang pebisnis.

Setiap pebisnis perlu menyisihkan waktu khusus untuk berpikir.

Tidak banyak pebisnis dan timnya yg mau berpikir (yg berkualitas). Kita cenderung asal-asalan dalam berpikir. Semrawut, tidak menggali lebih dalam, buru-buru mengambil kesimpulan dsb.

Mengapa? Karena berpikir yg baik memerlukan keahlian. Dan keahlian memerlukan latihan. Utk berlatih kita membutuhkan metode dan alat yg tepat.

Buku ini mengajarkan tentang Critical Thinking. Sebagai istilah untuk  membedakan dengan proses berpikir sehari-hari yg bersifat otomatis (automatic thinking).

Apa yg dimaksud dg Critical Thinking?

1. CT adalah berpikir manual (non otomatis)
2. CT adalah berpikir yang bertujuan
3. CT adalah berpikir sadar
4. CT merupakan proses
5. CT menggunakan framework dan tool set tertentu

Kapan CT dilakukan? Ketika situasi yg perlu dipecahkan itu substansial. Artinya hasil dari berpikir kita (keputusan misalnya) memberikan perbedaan signifikan dalam hidup/bisnis kita.

Setidaknya ada tiga manfaat melatih CT.

1. Melihat masalah dari sudut pandang yg berbrda.
2. Mencegah dan mengklarifikasi distorsi dalam menerima informasi.
3. Memberikan kerangka kerja utk berpikir secara lebih efektif.

CT adalah berpikir secara sadar dan bertujuan menggunakan serangkaian framework dan tool tertentu.

Framework CT:

1. CT dimulai dengan mendapatkan CLARITY (Kejelasan).

2. Dilanjutkan dengan menemukan CONCLUSION (Kesimpulan).

3. Diakhiri dengan mengambil DECISION (Keputusan).

CLARITY

Ini adalah tahap mendapatkan kejelasan ttg isu, masalah atau tujuan yg akan kita pecahkan. Tanpa kejelasan, solusi (baca: cara) tidak akan mudah didapatkan.

Banyak orang sibuk memikirkan cara memecahkan masalah yg mereka hadapi. Namun mereka sendiri sebenarnya belum clear dg masalahnya. Mereka tdk merumuskan masalahnya dg baik. Mereka tidak mengisolasi dan mendefinisikan masalahnya dg tepat. Tentu saja hal ini akan membuat proses penemuan solusinya menjadi ngawur.

Ada juga yg sibuk mencari cara untuk mencapai tujuannya. Namun tujuan mereka masih ambigu, abstrak, tidak terdefinisikan dg jelas. Ini pun akan membuat proses untuk menemukan cara mencapai tujuan tersebut menjadi sulit.

Tentukan dulu kita mau kemana dg jelas, barulah kita pikirkan cara menuju ke sana.

Tools untuk mendapatkan CLARITY ini ada banyak. Kallet merekomendasikan 10 tools:

1. Bucket list
2. Inspection
3. Why?
4. So what?
5. Need
6. What's next
7. What else?
8. Ingredients diagram
9. Vision
10. Thinking coach

Tentu saja saya tidak bisa bahas satu per satu di sini. Rekomendasi saya: beli bukunya 😁

Atau bagi yg sudah belajar NLP, dalami kembali tiga materi pokok:
1. Meta model
2. WFO (well-formed outcome)
3. NLL (Neuro Logical Level).

Tiga materi ini cukup membantu kita dalam menemukan clarity.

Dari 10 tools ini,

1. Bucket list
2. Inspection
3. Why?
4. So what?
5. Need
6. What's next
7. What else?
8. Ingredients diagram
9. Vision
10. Thinking coach

Saya akan bahas tools nomor 2: inspection.

Dalam definisi saya, inspeksi adalah proses berpikir untuk mengubah pemikiran yg abstrak menjadi pemikiran yg lebih kongkrit.

Caranya dengan mengajukan pertanyaan presisi. Sehingga kata benda yg umum menjadi lebih spesifik, kata kerja yg abstrak menjadi kata kerja operasional kongkrit.

Contoh:

Kita perlu meningkatkan kualitas layanan.

Ini adalah ide yg terlalu umum dan abstrak.

Dengan inspeksi, kita ajukan pertanyaan:

- kita: siapa yg dimaksud dg kita? Divisi pelayanan? Seluruh orang di perusahaan? Termasuk suplier? Konsumen? Siapa persisnya?

- perlu: Harus? Atau ingin?

- meningkatkan: dari berapa ke berapa? Apa ukurannya? Bagaimana persisnya yg dimaksud dengan meningkat?

- kualitas: apa yg dimaksud dg kualitas? Apa kriterianya?

- layanan: layanan yg mana? Apakah semua layanan? Atau sekadar persepsi thd layanan secara umum? Atau bahkan hanya survei kepuasan thd layanan?

Dengan demikian tujuan yg kabur menjadi lebih spesifik dan kongkrit.

Sehingga setiap orang di organisasi yang mendengarnya memiliki persepsi yg sama dengan pernyataan tujuan tersebut.

Tujuan dari tahap CLARITY adalah kita bisa melihat situasi dengan jernih dan jelas.

Kita perlu sabar meluangkan waktu di tahap ini dan tidak terburu-buru bergeser ke tahap berikutnya.

Tahap CLARITY memang tidak memecahkan masalah apapun. Tahap ini hanya bertujuan memetakan masalah yg perlu dipecahkan sejelas-jelasnya.

Alasan terbesar kenapa sebuah masalah, ide, proyek tidak tertuntaskan adalah karena KETIDAKJELASAN sejak awal mulanya.

Kapan tahap CLARITY kita anggap selesai sehingga kita dapat bergeser ke tahap berikutnya?

Tanyakan pertanyaan ini:

“Apakah saya/orang yg terlibat telah memiliki definisi yang konsisten tentang apa artinya, mengapa kita mengerjakannya, siapa yang harus dilibatkan, mengapa itu perlu dipecahkan, dan seperti apa keberhasilan ketika dipecahkan?”

Jika jawabannya YA, barulah kita bergeser ke tahap berikutnya.

Bila kita tidak meluangkan cukup waktu di tahap CLARITY dan terburu-buru masuk ke tahap CONCLUSION, khawatirnya kita justru menyasar dan memecahkan masalah yg salah

CONCLUISON adalah tentang PREMIS.

Premis = pernyataan yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan.

Ingat bahasan penalaran saat kita sekolah?

Ada dua macam penalaran:

1. Deduktif
2. Induktif

Contoh penalaran deduktif:

Semua manusia akan mati pada waktunya.
Saya manusia.
Saya akan mati pada waktunya.

Dalam penalaran deduktif, kalimat awal merupakan pernyataan yang dianggap benar.

Sayangnya, tidak semua pernyataan yang dianggap benar, benar benar benar.

Pernyataan awal yang dianggap benar ini diistilahkan dengan premis umum.

Pada contoh di atas:

Semua manusia akan mati pada waktunya —> Premis Umum
Saya manusia —> Premis Khusus
Saya akan mati pada waktunya —> Kesimpulan (istilahnya silogisme)

Penalaran deduktif akan salah hasilnya bila premis umum yang digunakan "salah".

Contoh:

Semua ustadz berpeci putih.
Roni berpeci putih.
Roni adalah ustadz.

Ini adalah silogisme yang salah nalar.

Sekarang kita bahas penalaran induktif. Penalaran induktif adalah proses menarik kesimpulan umum berdasarkan bukti/fakta khusus.

Contoh:

Andi adalah seorang coach, ia pintar.
Budi adalah seorang coach, ia pintar.
Cahya adalah seorang coach, ia pintar.
Kesimpulan: semua coach pintar.

Tiga pernyataan awal di atas disebut dengan premis.
Pernyataan keempat disebut dengan konklusi (kesimpulan).

Sebagian besar proses berpikir kita adalah penalaran induktif. Kita menyimpulkan banyak hal melalui proses induktif ini.

Semakin kokoh premis awalnya, semakin besar kemungkinan kesimpulannya benar.

Ada 5 macam premis: fakta, observasi, pengalaman, keyakinan, dan asumsi.

Keyakinan adalah kumpulan asumsi-asumsi yang kita gunakan dan kita membangun asumsi menggunakan fakta, observasi, serta pengalaman.

Dalam CT, kita perlu terampil membedakan mana fakta dan mana yang bukan fakta.

Observasi adalah apa yang kita baca dan dengar. Tidak semua hasil observasi itu fakta.

Kita pun perlu terampil membedakan mana fakta mana observasi agar penilaian kita akurat.

Pengalaman adalah sesuatu yang pernah kita alami sendiri. Semakin Anda berpengalaman di satu isu tertentu, semakin kokoh premis yang Anda gunakan.

Premis dengan fakta akan sangat kuat dan kokoh. Premis yang hanya didasari hasil observasi tidak sekuat premis yang didasari oleh pengalaman kita sendiri.

Belief adalah kumpulan premis yang tidak kita sadari menjadi landasan dalam menyimpulkan dan memutuskan sesuatu.

Asalnya dari asumsi yang kita buat. Pemikiran yang kita anggap benar berdasarkan pengalaman, observasi, dan fakta-fakta yang kita dapatkan.

Dalam Automatic Thinking, kita menerima asumsi begitu saja.

Dalam Critical Thinking, kita perlu mempertanyakan asumsi yang kita gunakan.

Perhatikan bagaimana kelima hal di atas mempengaruhi kesimpulan kita:

Situasi: Saya sedang di Jakarta dan berencana pulang ke Bandung esok hari. Namun, tiket Kereta Api habis. Apa yang perlu saya lakukan?

Fakta: Tiket KAI habis. Besok Jum'at dan Long Wiken.

Observasi: Menurut berita, puncak kemacetan Jakarta-Bandung akan berlangsung Jum'at besok.

Pengalaman: Tahun lalu, saat long wiken perjalanan Jakarta-Bandung mencapai 7 jam.

Asumsi: Besok akan macet, perjalanan bisa mencapai 7 jam.

Keyakinan: kenyamanan lebih penting daripada uang.

KONKLUSI: Saya perpanjang menginap di Jakarta, beli tiket KA untuk Ahad pagi, menghubungi rekan untuk ketemu besok (supaya nggak nganggur-nganggur amat).

Semakin kuat premisnya, semakin dapat diandalkan kesimpulannya, semakin percaya diri kita memutuskannya.

Sayangnya, sebagian besar dari kita sering langsung melompat ke kesimpulan. Tidak meneliti premis yang digunakan. Langsung menyimpulkan begitu saja.

Setelah tahap CONCLUSION barulah kita bergeser ke tahap DECISION.

Saya tidak akan bahas banyak terkait tahap ini. Silakan langsung merujuk ke bukunya 😁

Sekian bahasan dari buku Think Smarter ini. Rekomendasi saya, beli dan baca buku ini. Apa yang saya bedah mungkin baru mencover 10% dari buku tersebut (bahkan mungkin kurang).

Attention Management.

Untuk menuntaskan sesuatu kita memerlukan dua sumber daya utama:

Pertama, waktu.
Kedua, atensi (perhatian atau fokus)

Tuntas = Waktu + Atensi

Mengerjakan sesuatu tanpa atensi yang tepat, cenderung memberikan hasil yang tidak kita inginkan.

Seringkali yang terjadi adalah kita punya waktu namun kita tidak punya atensi yang dibutuhkan untuk mengerjakan sesuatu. Mengerjakan proposal (atau menulis, membuat konten marketing dsb) misalnya. Kita punya waktu untuk mengerjakannya, bahkan meluangkan waktu khusus. Namun, bila pada waktu yang ditentukan kita kehilangan atensi, kita tidak akan mampu mengerjakannya dengan baik. Akibatnya, pekerjaan pun tidak terselesaikan. Waktu pun terbuang.

Inilah pentingnya mengelola atensi yang kita miliki.

Graham Allcot, penulis buku ini membagi atensi menjadi tiga macam:

1. Proactive Attention: Kondisi ketika kita sadar penuh, fokus , nge-flow dan siap mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup.

2. Active Attention: Kondisi ketika kita fokus namun kadang-kadang terdistraksi oleh hal lain.

3. Passive Attention: Ketika kita kehilangan fokus, tidak bisa berpikir, lelah.

Dalam sehari, mode atensi kita berpindah-pindah dari active-proactive-passive. Pola setiap orang berbeda.

8-9 A, 9-11 P, 11-1 A, lunch-3 inactiv, 3-4 P, 4-5 A, 5-6 P, 6-7 inactiv

Sebagai latihan, Anda dapat mencatat pola Anda dengan format seperti di atas. Dengan demikian, Anda akan mengenal pola Anda sendiri dengan lebih baik.

Apa manfaat mengenali pola atensi Anda? Anda akan dapat menyesuaikan pola kerja Anda.

Gunakan mode Proactive Attention untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kreatif, mengatur prioritas, dan mengambil keputusan penting.

Gunakan mode Active Attention untuk merencanakan, membuat to-do list, mengatur dan mendelegasikan, riset internet, memproses email, menghadiri rapat.

Gunakan mode Passive Attention untuk mencatat ide, informasi, atau lintasan pikiran apapun yang muncul, menata meja kerja, mengarsipkan, menghapus email, membuat kopi.

Berikut 4 langkah mengelola atensi Anda.

1. Scheduling: Jadwalkan pekerjaan Anda berdasarkan pola atensi Anda.
2. Protecting: Lindungi atensi Anda dari interupsi dan distraksi.
3. Increasing: Tingkatkan zona atensi Anda. Dari passive menjadi active, dari active menjadi proactive.
4. Creating: Perbarui atensi Anda dengan berjalan-jalan, baca buku, ngobrol, dan ngopi.

Problem Solving 101

Buku Problem Solving 101 ini ditulis oleh Ken Watanabe. Beliau adalah konsultan di Mc Kinsey yang kemudian resign karena merasa terpanggil untuk mengajarkan keterampilan pemecahan masalah untuk anak-anak di Jepang. Selama ini banyak politisi dan pakar di Jepang mendiskusikan bagaimana mengubah fokus pendidikan dari menghapal fakta ke pemecahan masalah, namun tidak ada langkah kongkrit yang dilakukan. Watanabe merasa terpanggil untuk memenuhi perannya di sana.

Menurut penulis, pemecahan masalah bukan sekadar keterampilan. Ini adalah sebuah whole mind-set. Semacam identitas diri. Kita perlu melabeli diri kita sebagai problem solver agar mampu memecahkan masalah yang kita hadapi sehari-hari dengan efektif.

Bahasan awal dimulai dengan tipe-tipe orang saat menghadapi masalah. Menurut penulis setidaknya ada lima tipe.
Miss Sigh (Nona Pengeluh)
Mr. Critic (Tuan Kritik)
Miss Dreamer (Nona Pemimpi)
Mr. Go Getter (Tuan Maju Terus)
Problem Solving Kids (Anak-anak Pemecah Masalah)

Nona Pengeluh adalah tipe orang yang cepat menyerah ketika menghadapi tantangan, meskipun kecil. Dia langsung menyimpulkan “Saya tidak akan pernah bisa melakukannya.” Dia tidak pernah mencoba.
Nona pengeluh tidak mampu mengendalikan hidupnya. Sebaliknya dia merasa menjadi korban. Dia menyalahkan orang lain atas apapun yang terjadi padanya.

Kalimat favorit Nona Pengeluh adalah:
-  Percuma, saya tidak berbakat.
-  Saya tidak akan mencobanya, bagaimana kalau nanti gagal?
-  Ini semua salah mereka

Tuan Kritik sebaliknya, dia tidak pernah takut berbicara. Dia adalah pengkritik ulung. Apapun rencana yang ia lihat atau dengar, ia mampu menemukan kesalahannya. Ketika kegagalan terjadi, dia akan langsung berkata “Saya sudah pernah bilang…”

Dia banyak sekali menemukan kesalahan orang lain. Tetapi dia tidak pernah melakukan apapun untuk dirinya sendiri. Mengkritik itu memang mudah, benar-benar mengerjakan sesuatu tidak semudah mengatakannya.

Kalimat favorit Tuan Kritik adalah:
-  Itu ide bodoh, nggak akan jalan.
-  Aku sudah bilang, ini semua salahmu.
-  Sudahlah, rencana ini tidak akan berjalan baik.

Nona Pemimpi hidup di dunia khayalnya. Ia memiliki banyak ide, namun tidak ada satu pun yang ia jalankan. Dia tidak pernah benar-benar berusaha mengubah ide dan impiannya menjadi rencana tindakan nyata. Dia hidup ideal, di dalam khayalannya, bukan di dunia nyata.

Kalimat favorit Nona Pemimpi adalah:
-  Saya akan menulis buku (tapi tidak mulai menulis juga)
-  Pasti hebat kalau saya memulai bisnis pertama saya (namun tidak satu rencana pun dibuatnya)
-  Saya ini pencipta ide, jangan ganggu saya dengan detail-detailnya

Tuan Maju Terus nampak seperti pemecah masalah awalnya. Bagi dia masalah bukanlah masalah. Ketika ada masalah terjadi, dia langsung bertindak. Motonya “Saya tidak bisa mengubah masa lalu, namun saya bisa melakukan sesuatu sekarang.”

Sayangnya, sering kali Tuan Maju Terus melakukan tindakannya tanpa berpikir terlebih dulu. Baginya, berpikir hanya membuang waktu. Bertindak jauh lebih berharga daripada berpikir. Mungkin, bila dia meluangkan sedikit waktu untuk berpikir, hasilnya akan berbeda. Hasilnya akan jauh lebih baik.

Nah, mana tipe yang menyerupai diri kita?

Pemecah Masalah berbeda dengan keempat tipe sebelumnya. Mereka fokus pada solusi. Mereka menghadapi masalah. Menetapkan tujuan dan rencana yang realistis untuk menyelesaikannya. Meluangkan waktu untuk memikirkan solusi sebelum kemudian menjalankan solusnya.

Kalimat para pemecah masalah akan nampak seperti berikut ini:
-  Ok, saya akan mencapainya dalam tiga bulan.
-  Ok, ini adalah masalah. Daripada saya mencemaskannya, saya akan mencari tahu bagaimana memecahkannya.
-  Untuk menyelesaikan ini, kita memerlukan X, Y dan Z. Mari kita coba.
-  Apa yang sudah berjalan dengan baik? Apa yang tidak berjalan dengan baik? Bagaimana cara melakukan hal ini lebih baik di masa depan?

Proses problem solving dapat dipecah menjadi 4 langkah:

1. Pahami situasi yg ada. Akui bahwa memang ada masalah.

2. Identifikasi akar masalahnya.

3. Buat rencana tindakan utk menyelesaikannya.

4. Eksekusi rencananya sampai masalah terselesaikan, modifikasi bila diperlukan.

Jadi, problem solving adalah kombinasi antara berpikir dan bertindak. Prosesnya sangat sederhana. Namun sering kali kita justru melupakan hal-hal yg sederhana.

Seorang siswa memiliki masalah: nilai matematikanya turun.

Kita tdk bisa menyelesaikan masalah tersebut jika tidak mengidentifikasi penyebabnya.

Utk memecahkannya, kita bisa pecah matematika menjadi beberapa kategori. Misalnya: aljabar, pecahan, dan geometri. Apakah ketiga kategori ini nilainya turun? Atau hanya salah satu? Katakanlah ternyata hanya nilai geometri yg turun. Maka kita bisa pecah geometri menjadi beberapa sub kategori, misalnya: simetri, sudut, dan luas. Mana di antara ketiga sub kategori ini yg turun? Bila ternyata masalahnya di simetri, maka kita perlu gali mengapa sub kategori ini bisa turun sementara lainnya tidak? Dengan demikian kita akan dapat merancang solusi utk mengatasi masalah ini.

Dalam konsep pemecahan masalah, teknik ini disebut dg logic tree.

Lihat, problem solving tidaklah kompleks. Apa yg perlu kita lakukan hanya memahami situasinya, mengidentifikasi akar masalahnya, merancang rencana tindakan dan mengeksekusinya.

Bahkan bila masalah yg Anda hadapi sangat besar dan kompleks, jika Anda belajar bagaimana memecahnya ke bagian-bagian yg lebih kecil dan lebih dapat dikelola, Anda akan dapat memecahkannya.

GET CLIENTS NOW!

Ada tiga bagian besar di buku GET CLIENTS NOW!

1. Setup - membahas pondasi dan hal-hal mendasar dalam pemasaran jasa. Juga kesalahan-kesalahan umum yg sering dilakukan.
2. System - membahas detail tindakan yg diperlukan untuk menjalankan sistem pemasaran yg efektif. Termasuk di dalamnya terdapat program 28 hari utk memasarkan layanan Anda secara lebih efektif.
3. Strategy - membahas empat kebiasaan pemasaran yg memastikan bisnis Anda berkesinambungan.

Banyak orang menganggap pemasaran adalah hal yg rumit. Mereka tidak sepenuhnya salah, namun tidak akurat juga.

Pemasaran adalah tentang memberitahu kepada orang-orang tentang apa yang Anda lakukan, lagi dan lagi.

Ada banyak cara utk memberitahu orang-orang. Dengan bertatap muka, melalui telepon, tulisan, web, medsos dsb.

Pertanyaannya, apakah mereka menerima pesan Anda? Apakah mereka memperhatikan pesan Anda? Ini yg perlu kita sadari.

Sebaliknya, bila kita tanya ke praktisi (trainer, coach, konsultan, leader MLM, insurance agent, property agent) yg sukses memasarkan layanannya. Apa kunci keberhasilan mereka? Mereka akan menjawab: referal, networking, follow up, getok tular.

Lalu, bagaimana membuat semua elemen ini menyatu dalam sebuah sistem yg terpadu?

Inilah yg akan dijawab oleh buku ini.

Marketing adalah sistem. Bukan event yg terjadi sesekali. Kita perlu membuat sistem ini berjalan bila kita ingin mendapatkan klien secara teratur.

Sistem dari GCN (Get Clients Now!) ini membongkar sistem marketing menjadi beberapa langkah sederhana sehingga kita tahu persis dari mana memulainya dan segera mendapatkan klien yg kita inginkan.

Rahasia pertama pemasaran yg sukses adalah memilih serangkaian hal sederhana untuk dilakukan namun efektif (berdampak) pada tujuan pemasaran kita. Kemudian melakukannya secara konsisten.

Maka, kita perlu memilah mana hal-hal yg efektif dan mana yg tidak efektif dalam memasarkan bisnis kita.

Baca: mana hal yg benar-benar mendatangkan klien dan mana yg hanya membuang-buang tenaga, waktu dan uang.

Secara umum ada 6 strategi dalam marketing.

1. Kontak langsung dan follow up.
2. Networking.
3. Public speaking.
4. Publisitas.
5. Event promosi.
6. Iklan.

Dan dari gambar di atas, kita bisa melihat strategi mana yg efektif mendatangkan klien dan mana yg tidak.

Strategi 1 dan 2 sangat efektif. Sementara 5 dan 6 tidak efektif dalam mendatangkan klien.

Dalam sistem GCN, masing-masing strategi dibreakdown menjadi beberapa taktik.

Misalnya utk kontak langsung: janji temu, lunch, personal email dll.

Networking: menghadiri seminar, bergabung di komunitas, stategic alliance dll.

Meski tidak efektif bukan berarti strategi 5 dan 6 ditinggalkan sama sekali. Mereka masih bermanfaat utk menciptakan visibility.

Menjalankan keseluruhan strategi dg tepat akan membuat calon klien tahu, suka dan percaya kepada Anda. Hingga akhirnya mereka akan mau berbisnis dengan Anda.

Sistem GCN mengcover semua strategi ini dan memberi pilihan taktik yg paling memungkinkan utk dijalankan.

Namu, strategi barulah satu elemen dari program GCN. Ada enam elemen yg perlu Anda siapkan utk menjalankan sistem marketing Anda.

1. Strategi
2. Tahapan (ada 4 tahap)
3. Tujuan
4. Bahan baku sukses
5. Tindakan harian
6. "Izin" spesial

Tambahan dikit: intinya kalau kita independen profesional yg menjual layanan customized, buku ini cocok banget. Karena pemasaran jasa berbeda dg pemasaran produk fisik.

TRIGGERS

Buku TRIGGERS ini ditulis oleh Marshall Goldsmith. Salah satu executive coach termahal di dunia. Kita sempat membahas salah satu bukunya beberapa waktu yang lalu.

Buku ini membahas tentang perubahan perilaku. Seperti kita ketahui bersama, mengubah perilaku tidaklah mudah, bahkan sulit. Perubahan perilaku tidak akan terjadi sampai kita benar-benar ingin berubah.

Mengutip dari Charless Duhigg di buku fenomenalnya: Habits, menurut Goldsmith perilaku itu memiliki struktur/pola. Strukturnya adalah: ABC

A = Antecendent = Pemicu
B = Behavior = Perilaku
C = Consequences = Imbalan

Maka, langkah awal dalam mengubah perilaku adalah mengidentifikasi pemicunya.

Pemicu ini dikenal juga dengan istilah trigger - segala stimulus yang berdampak pada perilaku.

Pemicu ini ada yang dari dalam dan dari luar, ada yang kita sadari ada yang tidak kita sadari, ada yang kita siapkan ada yang tidak sengaja muncul, ada yang memicu perilaku positif ada juga yang memicu perilaku negatif.

Pemicu dari luar adalah lingkungan kita. Apa yang lihat, apa yang kita dengar, siapa yang ada di depan kita, dimana kita berada. Semua hal dari luar ini secara disadari atau tidak memengaruhi perilaku kita.

Lingkungan 'membentuk' perilaku kita. Entah membentuk kita menjadi orang yang produktif, atau sebaliknya. Maka, sadari lingkungan di sekitar kita. Apa yang memicu perilaku produktif? Apa yang memicu perilaku tak produktif? Lalu, atur lingkungan Anda untuk mengatur perilaku Anda.

Lalu, bagaimana bila kita tidak 'berkuasa' mengatur lingkungan kita? Bagaimana bila lingkungan tersebut ada di luar kendali kita?

Inilah uniknya manusia, lingkungan sebenarnya tidak secara langsung memengaruhi perilaku kita. Di antara stimulus (lingkungan pemicu) dan respon (perilaku kita) ada jeda berupa kebebasan memilih.

Polanya bukan:

Pemicu —> Perilaku

Namun:

Pemicu —> (impuls —> kesadaran —> pilihan) —> Perilaku

Proses internal berupa kesadaran akan pemicu dan pilihan ini terjadi sangat singkat. Mungkin hanya sepersekian detik. Tugas kita adalah berlatih untuk menyadarinya.

Kuncinya adalah melatih kesadaran kita. Menyadari apa gambar dan suara yang muncul dalam benak kita sesaat setelah pemicu tersebut muncul. Dalam jeda singkat inilah, kesadaran kita diuji. Semakin terlatih kita, semakin mudah kita menyadarinya.

Search Inside Yourself

Buku Search Inside Yourself ini adalah buku tentang bagaimana melatih kecerdasan emosional berbasis mindfulness. Ditulis oleh seorang analis sistem di Google bernama Chade-Meng Tan. Pelatihannya merupakan pelatihan wajib untuk semua pegawai Google.

Menurut penulisnya, kecerdasan emosional berdampak positif pada:

1. Performa/kinerja
2. Leadership/pengaruh
3. Kebahagiaan

Yang menarik dari buku ini, paparan tentang kecerdasan emosional dibahas dari sudut pandang praktik mindfulness dan kajian neurosains.

Lalu, apa yang dimaksud dengan mindfulness? Mindfulness adalah keadaan diri saat kita hadir utuh di sini saat ini, menyadari penuh diri dan lingkungan di sekitar kita. Melihat, mendengar dan merasa apa adanya tanpa menilai dan menghakiminya.

Menurut Meng, ada tiga langkah yang perlu dilatih untuk mengasah kecerdasan emosional.

Pertama, melatih perhatian.
Kedua, melatih kesadaran dan penguasaan diri.
Ketiga, menciptakan kebiasaan mental yang baik.

Perhatian (atensi) adalah pintu masuk dari pikiran (persepsi). Kemampuan mengelola perhatian sejalan dnegan kemampuan mengelola pikiran. Bila kita ingin mampu mengelola pikiran, kita perlu mampu mengelola perhatian kita terlebih dulu.

Perhatian juga sangat terkait dengan pengelolaan diri. Kemana kita memperhatikan memengaruhi bagaimana kita mengelola respon emosional kita.

Jika kita melihat fisiologi otak kita, perhatian dan pengendalian diri diatur oleh bagian otak yang sama: Pre Frontal Cortex (PFC). Seseorang dengan PFC yang kuat akan mampu mengelola respon emosional yang dipicu oleh amigdala.

Bagaimana cara melatihnya? Cara termudah adalah dengan meditasi napas selama dua menit. Caranya:

1. Duduk tenang (di kursi atau bersila). Pastikan badan rileks namun tetap sadar.
2. Perhatikan napas yang kita lakukan.
3. Bila ada pikiran yang meloncat-loncat, biarkan saja. Cukup amati dan biarkan dia pergi.

Melalukan meditasi semacam ini secara teratur terbukti secara sains meningkatkan performa PFC kita.

Kita pun dapat melakukan meditasi bergerak. Caranya adalah dengan memberikan kesadaran penuh pada apapun yang kita lakukan. Entah saat menyapu, mencuci, mandi, atau makan. Beri perhatian penuh, lihat-dengar-rasakan sensasinya secara utuh.

Bagi yang muslim, melakukan shalat secara khusyu' pun melatih PFC. Ada ayat menyebutkan shalat mencegah fahsya & munkar (fahsya = perbuatan jelek yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi; munkar = perbuatan jelek yang dilakukan secara terang-terangan). Artinya shalat yang khusyu' memiliki efek meditatif, melatih PFC, meningkatkan kemampuan pengendalian diri.

(ini nggak ada di bukunya Meng yak, hipotesis pribadi)

Kesadaran diri dilatih dengan memperhatikan dan menyadari pikiran, perasaan dan tubuh kita. Saat kita marah (atau merasakan emosi lainnya), perhatikan sensasi apa yang muncul di tubuh kita? di bagian mana? pikiran apa yang terlintas? gambar apa yang kita lihat di dalam benak kita? suara apa yang muncul di dalam pikiran kita?

Bila kita mampu menyadari pikiran dan perasaan yang muncul, maka kita akan lebih mudah mengelolanya. Pengelolaan diri diawali dari kesadaran diri.

Setelah menyadari, sematkan nama yang tepat bagi emosi yang Anda rasakan: marah kah? kesal kah? kecewa kah? memberi nama adalah awal yang termudah untuk mengelolanya. Lalu pisahkan rasa tersebut dari diri Anda. Katakan "saya merasakan amarah di tubuh saya" bukan "saya marah" - dengan demikian Anda akan lebih mudah dalam mengelolanya.

(di dalam NLP, ini disebut dengan nominalisasi - membendakan sebuah proses. Setelah dibendakan, kita akan lebih mudah untuk memisahkan emosi tersebut dari diri kita (istilah teknis di NLP: disosiasi)

Latihan berikutnya adalah berlatih hadir utuh saat berinteraksi dengan orang lain. Ada tiga komponen yang perlu dilatih.

Pertama, listening - mendengarkan dengan kesadaran penuh. Curahkan perhatian secara penuh kepada kawan bicara kita. Simak apa yang ia katakan tanpa memberikan penilaian: benar-salah, baik-buruk dsb.

Kedua, looping - mengulangi apa yang kita dengar dari mereka. Memastikan kita memahami apa yang mereka sampaikan.

Ketiga, dipping - menyadari diri sendiri selama mendengarkan. Mengakui pikiran dan perasaan yang muncul dalam diri tanpa kehilangan perhatian pada kawan bicara kita.

Kalau kita kembalikan ke bahasan awal, tujuan dari latihan-latihan ini adalah mengasah kecerdasan emosional. Mengutip dari Daniel Goleman, ada lima domain dari kecerdasan emosional.

1. Kesadaran Diri: pemahaman akan keadaan internal, kecenderungan, dan sumber daya diri.
2. Pengelolaan Diri: pengelolaan dari keadaan internal, impuls dan sumber daya diri.
3. Motivasi: kecenderungan emosional yang memudahkan pencapaian tujuan.
4. Empati: kesadaran akan perasaan, kebutuhan dan kecemasan orang lain.
5. Keterampilan sosial: keahlian dalam memancing respon yang diharapkan dari orang lain.

Di area kesadaran diri sendiri ada tiga kompetensi yang perlu dikuasai:

1. Kesadaran emosional: kemampuan menyadari emosi diri serta dampaknya pada diri sendiri dan orang lain.
2. Penilaian diri yang akurat: kemampuan memahami kekuatan dan batasan yang kita miliki.
3. Kepercayaan diri: pemahaman akan nilai dan kemampuan diri sendiri.

Kepercayaan diri akan muncul secara alamiah bila kita mampu menyadari diri dan menilai diri secara akurat.

Fokus

Kita hidup di dunia yang penuh dengan distraksi. Dari luar, arus informasi begitu deras, dari dalam tujuan dan keinginan kita pun tak terbatas. Akibatnya, produktivitas kita menurun. Kita sibuk, namun tidak menghasilkan apa-apa.

Kunci untuk menghadapi ini semua sebenarnya sangat sederhana: fokus. Fokus pada hal yang sedikit, fokus pada hal-hal yang penting, fokus pada hal-hal yang berdampak. Ini akan menyederhanakan hidup kita dan memudahkan kita mencapai tujuan yang benar-benar penting dalam hidup kita.

Arus informasi yang begitu derasnya menciptakan kecanduan tanpa kita sadari. Kita merasakan dorongan untuk mengecek WA, FB, IG, Email. Dan saat kita melakukannya, tubuh kita mengeluarkan endorfin - hormon yang memicu perasaan lega dan nyaman. Beberapa menit kemudian, dorongan itu pun muncul kembali. Kita pun mengecek dan merasa lega. Siklus ini berlangsung terus menerus hingga akhirnya menciptakan kecanduan dalam diri kita.

Ratusan channel TV, siaran Youtube, berita di internet, status sosmed, berbagai iklan dan penawaran - semua berusaha mendapatkan perhatian kita. Kita mengalami banjir informasi sehingga akhirnya kelimpungan, kewalahan, kebingungan. Kita pun menjadi begitu mudah terdistraksi. Seakan-akan kehilangan kemampuan alami kita untuk fokus.

Kita menjadi sibuk mengkonsumi dan menyerap informasi, juga sibuk berkomunikasi. Akibatnya, kita kehilangan waktu untuk berkreasi. Kita gagal mencipta karya. Kalaupun mencipta, kita menciptakan karya-karya yang dangkal - karya yang seadanya.

Pablo Picaso mengatakan: “Without great solitude no serious work is possible” -  Kita tidak akan menghasilkan sebuah karya yang serius - karya yang hebat tanpa mau menyepi dan menyendiri.

Dampak lainnya adalah berkurangnya kadar kebahagiaan kita. Aktivitas menyepi yang direncenakan akan meningkatkan kadar kebahagiaan seseorang.

Sesekali, rasakanlah betapa tenangnya hidup tanpa distraksi dan interupsi. Matikan koneksi internet Anda. Simpan gadget Anda. Berbincanglah dengan pasangan, anak-anak atau kawan-kawan Anda. Diiringi secangkir teh hangat atau harumnya kopi. Anda akan merasakan hidup yang sebenarnya.

Lalu, bagaimana cara kita mengurangi distraksi?

1. Batasi arus informasi yang memapar diri Anda.
2. Batasi jumlah waktu Anda untuk memproses komunikasi (chat, email dsb).
3. Lepaskan keinginan untuk selalu "update" di sosmed Anda.
4. Matikan semua notifikasi.

Mengurangi distraksi adalah kunci untuk fokus. Tips lain yang dapat Anda lakukan untuk fokus adalah:
- Rapikan meja kerja dan hal berantakan lainnya.
- Pelankan ritme Anda, nikmati apa yang Anda kerjakan.
- Ikuti alirannya. Sadari bahwa kita tidak bisa mengendalikan semuanya. Ikuti dan manfaatkan apapun yang terjadi di sekitar Anda. Nikmati hidup sepenuhnya dengan suka dukanya, kekacauan dan keindahannya.
- Berlatih hadir utuh di sini saat ini.
- Lepaskan keinginan untuk mengendalikan.
- Sederhanakan hidup Anda.

- Praktikkan single-tasking, bukan multi-tasking. Kerjakan satu hal satu waktu.
- Pisahkan waktu untuk mengkonsumsi informasi, berkomunikasi dan berkreasi. Ketiganya tidak dapat dilakukan bersamaan.
- Berlatihlah untuk membaca secara mendalam, bukan hanya membaca di permukaan. Lakukan riset. Nikmati proses ini untuk mendongkrak kualitas diri kita.

WGYHWGYT

Buku WGYHWGYT ini ditulis oleh Marshall Goldsmith. Konon katanya, beliau ini Executive Coach termahal di Amerika Serikat. Coaching dengan timnya saja bsia dikenakan fee paling murah Rp.200juta-an per tahunnya.

Ada 4 bagian di buku ini.

1. Masalah dengan sukses
2. 20 Kebiasaan yang menghambat Anda menuju puncak
3. Bagaimana kita dapat berubah ke lebih baik
4. Bagaimana memulainya

Sukses menimbulkan masalah. Apa masalah terbesar yang dibawa oleh kesuksesan? Kita merasa sudah sukses (success delusion) dan tidak mau berubah. Akibatnya, kita tidak bisa meraih kesuksesan yang lebih besar. Kita berhenti di titik ini saat ini, tanpa mampu naik ke tahap berikutnya.

Di titik ini, kita merasa tahu segalanya - sementara orang lain merasa kita arogan.
Kita merasa sudah melakukan delegasi secara efektif, orang lain merasa kita tidak responsif.
Kita mengembangkan kemampuan tim dengan membiarkan mereka berpikir memecahkan masalahnya sendiri, namun tim kita berpikir bahwa kita mengabaikan mereka.

Sebagian besar masalah yang menggelayuti orang-orang sukses adalah masalah *perilaku* bukan masalah teknis. Secara teknis, orang-orang sukses sangat menguasai. Namun secara perilaku, seringkali mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan bisa jadi justru menyinggung orang lain dan menghambat mereka naik ke tangga sukses berikutnya.

Ada perbedaan mendasar antara karena dan meskipun - saat kita memiliki perilaku X dan sukses, pertanyaan dasarnya: itu karena atau meskipun?

Karena perilaku X Anda sukses atau meskipun Anda punya perilaku X Anda tetap sukses? Ini adalah dua hal yang sangat berbeda.

Misal: Anda merasa sukses karena Anda keras kepala. Pertanyaannya: Anda sukses karena Anda keras kepala atau meskipun Anda keras kepala Anda tetap sukses?

Coba tanyakan pertanyaan karena vs meskipun ini pada perilaku yang Anda anggap benar saat ini.

Perilaku yang membawa seseorang ke titik suksesnya saat ini tidak akan membawa mereka ke titik sukses berikutnya.

Apa saja contoh perilaku yang menghambat Anda naik ke level sukses berikutnya? Saya akan bahas 4 dari 20 kebiasaan yang disebut oleh Marshall Goldsmith di bukunya.

Oya, menurut Goldsmith, untuk naik level yang kita perlukan adalah TO STOP LIST bukan TO DO LIST - karena sebagian besar kita tahu apa yang perlu dilakukan untuk naik level. Namun yang menghambat kita adalah kita tidak tahu apa yang perlu kita hentikan.

Kebiasaan #1: Winning too Much

Keinginan untuk selalu menang di setiap situasi. Kompetitif adalah oke, inilah yang membawa seseorang sampai di titik suksesnya saat ini. Namun overkompetitif adalah masalah.

Suka ingin menang debat (entah dengan tim atau dengan kolega)? Merasa lebih tahu dan ingin orang mengikuti apapun kata kita? Ini adalah penyakit dari Winning too Much.

Kebiasaan #2: Adding too Much Value

Untuk sukses, Anda perlu menambahkan nilai ke orang lain. Anda perlu memberikan ide-ide baru, masukan, saran, apapun yang bernilai untuk tim atau atasan Anda. Namun sampai di titik sukses saat ini, Anda perlu mulai menguranginya.

Coba bayangkan, apa yang akan terjadi di tim Anda bila Anda terus menerus menyuapi mereka dengan ide-ide Anda? Mereka tidak akan berkembang. Akibatnya, Anda pun sama. Anda berhenti di titik mereka berhenti.

Kebiasaan #3: Passing Judgement

Kebiasaan memberi penilaian: baik buruk, benar salah. Biasanya terjadi ketika kita diberi masukan (atau kritik) oleh orang lain, alih-alih menerima masukan mereka, kita malah menilai kualitas masukan mereka.

Saat kita diberi masukan oleh orang lain berlatihlah untuk merespon dengan senyum dan ucapkan: "terima kasih masukannya, saya perlu masukan-masukan seperti ini" - tidak mudah memang. Apalagi ketika kita merasa lebih sukses daripada mereka yang memberi masukan.

Kebiasaan #4: Making Destructive Comment

Komentar yang menyinggung orang lain, merendahkan mereka, atau sekadar menunjukkan bahwa posisi kita lebih tinggi dari mereka. Kadang kala kita tidak menyadari bahwa cara kita berkomentar dapat mengisyaratkan hal-hal itu. Maka sebelum mengomentari apapun, tanyakan: Apakah komentar saya membantu mereka?

Setahun kemarin saya bergulat dengan empat kebiasaan ini. Saya tidak menyadarinya, namun kebiasaan ini terjadi. Betapa sulitnya menerima masukan dari orang lain lalu tersenyum dan mengatakan terima kasih. Betapa sulitnya untuk diam tidak mengomentari kesalahan paparan seseorang. Betapa sulitnya berhenti memberi ide ke orang lain yang menyebabkan ide mereka berhenti berkembang.

Semua kebiasaan ini berakar dari: arogansi akan pengetahuan. Kita merasa sudah tahu banyak. Kita merasa bisa menjelaskan kenapa hal itu tidak berhasil. Kita merasa lebih pintar daripada mereka.

Bagaimana terapinya? Ada empat perilaku yang perlu dilatih.

Pertama, terbuka terhadap feedback - umpan balik. Berterimakasihlah saat ada seseorang memberi umpan balik kepada Anda. Umpan balik itu mahal.

Kedua, minta maaf. Jika Anda merasa salah atau orang lain menganggap Anda salah. katakan tiga hal:

1. "Maafkan saya"
2. "Saya akan lakukan lebih baik di masa depan"
3. Diam. Jangan tambahkan penjelasan mengapa begini mengapa begitu.

Ketiga, listening. Berlatih mendengarkan, menyimak dengan sungguh-sungguh apa yang orang katakan.

Keempat, berterima kasih.