Buku Search Inside Yourself ini adalah buku tentang bagaimana melatih kecerdasan emosional berbasis mindfulness. Ditulis oleh seorang analis sistem di Google bernama Chade-Meng Tan. Pelatihannya merupakan pelatihan wajib untuk semua pegawai Google.
Menurut penulisnya, kecerdasan emosional berdampak positif pada:
1. Performa/kinerja
2. Leadership/pengaruh
3. Kebahagiaan
Yang menarik dari buku ini, paparan tentang kecerdasan emosional dibahas dari sudut pandang praktik mindfulness dan kajian neurosains.
Lalu, apa yang dimaksud dengan mindfulness? Mindfulness adalah keadaan diri saat kita hadir utuh di sini saat ini, menyadari penuh diri dan lingkungan di sekitar kita. Melihat, mendengar dan merasa apa adanya tanpa menilai dan menghakiminya.
Menurut Meng, ada tiga langkah yang perlu dilatih untuk mengasah kecerdasan emosional.
Pertama, melatih perhatian.
Kedua, melatih kesadaran dan penguasaan diri.
Ketiga, menciptakan kebiasaan mental yang baik.
Perhatian (atensi) adalah pintu masuk dari pikiran (persepsi). Kemampuan mengelola perhatian sejalan dnegan kemampuan mengelola pikiran. Bila kita ingin mampu mengelola pikiran, kita perlu mampu mengelola perhatian kita terlebih dulu.
Perhatian juga sangat terkait dengan pengelolaan diri. Kemana kita memperhatikan memengaruhi bagaimana kita mengelola respon emosional kita.
Jika kita melihat fisiologi otak kita, perhatian dan pengendalian diri diatur oleh bagian otak yang sama: Pre Frontal Cortex (PFC). Seseorang dengan PFC yang kuat akan mampu mengelola respon emosional yang dipicu oleh amigdala.
Bagaimana cara melatihnya? Cara termudah adalah dengan meditasi napas selama dua menit. Caranya:
1. Duduk tenang (di kursi atau bersila). Pastikan badan rileks namun tetap sadar.
2. Perhatikan napas yang kita lakukan.
3. Bila ada pikiran yang meloncat-loncat, biarkan saja. Cukup amati dan biarkan dia pergi.
Melalukan meditasi semacam ini secara teratur terbukti secara sains meningkatkan performa PFC kita.
Kita pun dapat melakukan meditasi bergerak. Caranya adalah dengan memberikan kesadaran penuh pada apapun yang kita lakukan. Entah saat menyapu, mencuci, mandi, atau makan. Beri perhatian penuh, lihat-dengar-rasakan sensasinya secara utuh.
Bagi yang muslim, melakukan shalat secara khusyu' pun melatih PFC. Ada ayat menyebutkan shalat mencegah fahsya & munkar (fahsya = perbuatan jelek yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi; munkar = perbuatan jelek yang dilakukan secara terang-terangan). Artinya shalat yang khusyu' memiliki efek meditatif, melatih PFC, meningkatkan kemampuan pengendalian diri.
(ini nggak ada di bukunya Meng yak, hipotesis pribadi)
Kesadaran diri dilatih dengan memperhatikan dan menyadari pikiran, perasaan dan tubuh kita. Saat kita marah (atau merasakan emosi lainnya), perhatikan sensasi apa yang muncul di tubuh kita? di bagian mana? pikiran apa yang terlintas? gambar apa yang kita lihat di dalam benak kita? suara apa yang muncul di dalam pikiran kita?
Bila kita mampu menyadari pikiran dan perasaan yang muncul, maka kita akan lebih mudah mengelolanya. Pengelolaan diri diawali dari kesadaran diri.
Setelah menyadari, sematkan nama yang tepat bagi emosi yang Anda rasakan: marah kah? kesal kah? kecewa kah? memberi nama adalah awal yang termudah untuk mengelolanya. Lalu pisahkan rasa tersebut dari diri Anda. Katakan "saya merasakan amarah di tubuh saya" bukan "saya marah" - dengan demikian Anda akan lebih mudah dalam mengelolanya.
(di dalam NLP, ini disebut dengan nominalisasi - membendakan sebuah proses. Setelah dibendakan, kita akan lebih mudah untuk memisahkan emosi tersebut dari diri kita (istilah teknis di NLP: disosiasi)
Latihan berikutnya adalah berlatih hadir utuh saat berinteraksi dengan orang lain. Ada tiga komponen yang perlu dilatih.
Pertama, listening - mendengarkan dengan kesadaran penuh. Curahkan perhatian secara penuh kepada kawan bicara kita. Simak apa yang ia katakan tanpa memberikan penilaian: benar-salah, baik-buruk dsb.
Kedua, looping - mengulangi apa yang kita dengar dari mereka. Memastikan kita memahami apa yang mereka sampaikan.
Ketiga, dipping - menyadari diri sendiri selama mendengarkan. Mengakui pikiran dan perasaan yang muncul dalam diri tanpa kehilangan perhatian pada kawan bicara kita.
Kalau kita kembalikan ke bahasan awal, tujuan dari latihan-latihan ini adalah mengasah kecerdasan emosional. Mengutip dari Daniel Goleman, ada lima domain dari kecerdasan emosional.
1. Kesadaran Diri: pemahaman akan keadaan internal, kecenderungan, dan sumber daya diri.
2. Pengelolaan Diri: pengelolaan dari keadaan internal, impuls dan sumber daya diri.
3. Motivasi: kecenderungan emosional yang memudahkan pencapaian tujuan.
4. Empati: kesadaran akan perasaan, kebutuhan dan kecemasan orang lain.
5. Keterampilan sosial: keahlian dalam memancing respon yang diharapkan dari orang lain.
Di area kesadaran diri sendiri ada tiga kompetensi yang perlu dikuasai:
1. Kesadaran emosional: kemampuan menyadari emosi diri serta dampaknya pada diri sendiri dan orang lain.
2. Penilaian diri yang akurat: kemampuan memahami kekuatan dan batasan yang kita miliki.
3. Kepercayaan diri: pemahaman akan nilai dan kemampuan diri sendiri.
Kepercayaan diri akan muncul secara alamiah bila kita mampu menyadari diri dan menilai diri secara akurat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar