Ada 7 Kebiasaan agar kita menjadi manusia yg efektif.
Kebiasaan 1-3 terkait kemenangan pribadi. Kebiasaan 4-6 terkait kemenangan publik. Kebiasaan 7 terkait "memelihara angsa" kita.
7 Kebiasaan:
1. Menjadi Proaktif
2. Mulai dari akhir di dalam pikiran
3. Dahulukan yg utama
4. Berpikir menang/menang
5. Pahami orang lain dulu, baru minta dipahami
6. Bersinergi
7. Asah gergaji
Kebiasaan #1
Menjadi Proaktif
Ada dua pilihan dalam hidup:
1. Reaktif
2. Proaktif
Reaktif artinya membiarkan orang lain, lingkungan dan masa lalu mempengaruhi kita. Percaya bahwa diri kita saat ini adalah bentukan dari orang tua, gen, tanggal lahir, shio dan kita tidak punya kuasa sedikitpun utk mengubahnya.
Sementara proaktif adalah menyadari bahwa selalu ada pilihan dalam hidup. Kita hidup menurut bayang-bayang dan cetakan orang lain atau kita memilih untuk memenuhi takdir kita sendiri.
Orang yg reaktif meyakini bahwa respon mereka dikendalikan oleh stimulus yg mereka terima.
Sementara orang yg proaktif meyakini bahwa di antara stimulus dan respon terdapat sebuah ruang kebebasan untuk memilih. Ruang inilah yg membuat manusia unik. Ruang ini yg membuat seseorang memiliki responsibility - ability to choose response.
Kita memiliki ruang kebebasan memilih karena kita memiliki
1. Kesadaran diri - kemampuan utk melihat dan mengevaluasi diri sendiri
2. Imajinasi - kemampuan berpikir kreatif dan menciptakan sesuatu yg belum ada
3. Conscience - hati nurani utk membedakan baik dan buruk
4. Independent will - kehendak bebas yg membuat kita mampu menentukan perilaku kita sendiri
Orang proaktif menjadi subyek dan pelaku dalam hidupnya. Sementara mereka yg reaktif merasa menjadi obyek dan korban.
Perhatikan perbedaan bahasa orang reaktif dan proaktif:
Reaktif: tidak ada yg bisa kita lakukan
Proaktif: mari kita cari alternatif lain
Re: saya harus melakukannya
Pro: saya memilih utk melakukannya
Re: dia membuat saya marah
Pro: tidak ada yg dapat membuat saya marah tanpa izin saya
Orang reaktif fokus pada lingkar kepedulian mereka. Orang proaktif fokus pada lingkar pengaruh mereka.
Lingkar kepedulian: apapun yg kita pedulikan
Lingkar pengaruh: apa yg dapat kita lakukan dan pengaruhi
Perhatikan kehidupan kita, sudahkah kita menjadi pribadi yg proaktif?
Kebiasaan #2
Mulai dari akhir di dalam pikiran
Segala sesuatu diciptakan dua kali. Pertama secara mental (di dalam pikiran), kedua secara fisik (diwujudkan).
Ada dua pilihan menjalani hidup
1. By design (berdasarkan rencana) - secara proaktif mendesain hidup kita. Menetapkan kemana hidup kita akan diarahkan.
2. By default - reaktif, mengikuti rencana orang lain. Menjalani hidup tanpa kesadaran akan tujuan.
Mulai dari akhir di dalam pikiran berarti menyadari tujuan - hasil akhir yg diinginkan sebelum menjalani/melakukan sesuatu.
Salah satu bentuknya adalah dengan merancang Misi Hidup. Sebuah pernyataan yg menjawab tentang siapa kita, apa makna keberadaan kita, apa yg kita wujudkan di muka bumi ini.
Beberapa orang mengistilahkannya dengan Visi Hidup. Mau dibawa kemana hidup kita dan mengapa kita ingin ke sana.
Pikirkan karakter, kontribusi, dan pencapaian yg ingin Anda wujudkan di tiap peran.
Langkah berikutnya adalah menetapkan peran dan tujuan yg ingin dicapai di masing-masing peran.
Bagi rekan-rekan yg tertarik lebih mendalam terkait hal ini bisa merujuk ke buku ketiga saya juga: Life by Design.
Kebiasaan #3
Dahulukan yang Utama
Kebiasaan #3 adalah buah dari kebiasaan #1 dan #2
Kebiasaan #1 berkata bahwa kita bertanggungjawab terhadap kehidupan kita. Kita desainer hidup kita.
Kebiasaan #2 adalah penciptaan secara mental - desain awal di dalam benak kita.
Kebiasaan #3 adalah penciptaan secara fisik - pewujudannya di dunia nyata.
Dahulukan yang utama - prioritaskan aktivitas-aktivitas yg selaras dan paling berdampak terhadap misi dan visi kita.
Di kebiasaan #3 kita diminta untuk mengevaluasi aktivitas kita. Tindakan harian kita. Sudahkah selaras dengan misi dan visi hidup kita?
Kuadran aktivitas.
Kita dapat membagi aktivitas dalam hidup dengan dua kriteria:
- Berdasarkan tingkat kepentingan
- Berdasarkan tingkat kemendesakan
Dari dua kriteria ini, kita dapat bagi aktivitas hidup kita dalam empat kategori:
1. Penting dan mendesak: deadline, krisis, masalah mendesak.
2. Penting namun tidak mendesak: perencanaan, pencegahan, perawatan, pengembangan diri.
3. Tidak penting namun mendesak: interupsi, telp mendesak, rapat tak penting dll.
4. Tidak penting dan tidak mendesak: scrolling timeline FB, chit chat tanpa tujuan, dsb.
Bila kita menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk aktivitas kuadran I, hidup kita akan stressful. Kita dihantui okeh deadline, kita mengerjakan sesuatu menunggu batas akhir.
Bila kita meluangkan sebagian besar waktu di kuadran III, hidup kita seperti dikendalikan pihak luar. Kita mengerjakan sesuatu sekadar karena itu mendesak. Bukan karena itu penting.
Bila waktu kita habis di kuadra III, kita tidak akan menghasilkan apa-apa.
Idealnya, kita luangkan waktu khusus utk kuadran II: aktivitas yg penting namun belum mendesak. Ini akan membuat Anda merasa dalam kendali, seimbang, disiplin dan minim krisis.
Pertanyaannya, di kuadran mana sebagian besar waktu Anda habiskan?
Bagaimana praktik dari kebiasaan #3 ini?
1. Petakan peran-peran Anda
2. Tentukan tujuan pekanan dari masing-masing peran
3. Jadwalkan aktivitas kuadran II dari masing-masing peran dalam jadwal pekanan Anda
Kebiasaan 1-3 adalah tentang kemenangan pribadi. Kemenangan pribadi mendahului kemenangan publik. Inilah paradigma kesalingbergantungan. Kesalingbergantungan (interdependence) yg sebenarnya lahir dari pondasi kemandirian (independence).
Inilah sebabnya, sepasang suami-istri yg sama-sama kuat akan saling menguatkan. Dan bila sama-sama lemah akan saling melemahkan. Ingat, tugas seorang pasangan bukanlah menutupi kelemahan pasangannya. Tugas masing-masing adalah menjadi pribadi yg kuat agar saat berpasangan kita menjadi saling menguatkan.
Setelah melalui kebiasaan 1-3 barulah kita masuk ke kebiasaan 4-6. Kebiasaan 4-6 ini terkait hubungan kita dengan orang lain. Agar kita mampu memahami, memimpin dan memengaruhi mereka.
Rekening Bank Emosional (RBE) adalah metafora yg menggambarkan kondisi hubungan kita dengan orang lain.
Persis seperti rekening bank pada umumnya, hubungan kita dengan orang lain ada saldonya. Bedanya, saldo RBE bisa plus, bisa juga minus.
Kita dapat menambah saldo (deposit) dengan berbuat baik, mendengarkan saat mereka bicara, jujur, memberikan perhatian tulus dsb.
Kita pun dapat menarik saldo saat kita berbohong, menunjukkan sikap tak hormat, mengabaikan dsb.
Hubungan penting kita dengan orang lain (pernikahan, atau hubungan dg anak misalnya) memerlukan deposit yg terus menerus. Menyuruh, memerintah, dan meminta terus menerus menghasilkan efek sebaliknya - ini akan mengurangi saldo RBE Anda.
Ada 6 cara deposit utama untuk meningkatkan saldo RBE Anda
1. Memahami keunikan individu
2. Memperhatikan hal-hal kecil
3. Menjaga komitmen
4. Mengklarifikasi harapan/ekspektasi
5. Menunjukkan integritas pribadi
6. Meminta maaf dengan tulus saat kita melakukan penarikan (penarikan saldo RBE)
Intisari dari buku ini:
1. Perubahan dimulai dari dalam. Bila kita ingin mengubah hasil-hasil yg kita dapatkan maka kita perlu mengubah tindakan kita. Dan untuk mengubah tindakan kita, kita perlu mengubah cara berpikir kita.
2. Untuk memimpin orang lain secara efektif, kita perlu memimpin diri sendiri secara efektif terlebih dulu. Sukses dengan diri sendiri mendahului sukses dengan orang lain.
3. Kebiasaan kita menentukan nasib kita. Awalnya adalah pikiran, lalu berubah menjadi perasaan, perasaan menjadi tindakan, tindakan menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter, karakter menjadi nasib.
Maka, untuk menjadi pribadi yg efektif kita perlu mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yg mendukung ke arah sana. Covey merumuskan setidaknya ada 7 Kebiasaan yg perlu dilatih dan dijadikan bagian dalam hidup kita.
7 Kebiasaan tersebut adalah:
1. Jadilah proaktif
2. Mulai dari tujuan akhir
3. Dahulukan yang utama
Tiga kebiasaan ini menjadikan kita pribadi yg mandiri, pemimpin diri.
4. Berpikir menang menang
5. Berusaha memahami dulu baru minta dipahami
6. Bersinergilah
Tiga kebiasaan berikutnya menjadikan kita sebagai pribadi yg efektif dalam berhubungan dengan orang lain. Memimpin orang lain.
7. Asah gergaji
Kebiasaan terakhir ini tentang mengembangkan diri. Memastikan sumberdaya yg kita miliki (fisik, mental, emosional, spiritual) selalu terawat dan terbaharui.
Kebiasaan 1 - Jadilah Proaktif, adalah tentang bertanggungjawab terhadap respon kita sendiri. Lawannya adalah reaktif, menyalahkan orang lain atau lingkungan atas apa yg terjadi pada hidup kita.
Kebiasaan 2 - mulai dari tujuan akhir, adalah tentang penentuan tujuan sebelum melakukan segala sesuatu. Maka, setelah kita proaktif - bertanggungjawab dengan diri, kita perlu menentukan tujuan kita, arah hidup kita, ingin menjadi pribadi seperti apa ke depannya.
Kebiasaan 3 - dahulukan yg utama, adalah tentang mengambil tindakan. Karena orang yg proaktif bertanggungjawab dengan diri dan nasibnya (kebiasaan 1), maka ia menentukan tujuan/arah hidupnya (kebiasaan 2). Ia pun memastikan setiap tindakannya selaras dengan tujuannya (kebiasaan 3). Percuma memiliki visi besar jika setiap hari ia hanya melakukan hal-hal remeh yg tak penting, jika tindakan hariannya tidak mengarahkan dia ke visinya.
Kebiasaan 1, 2, 3 memastikan kita menjadi pribadi yang mandiri. Menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Tanpa hal ini, kita tidak akan mungkin mampu memimpin orang lain.
Kebiasaan 4 - berpikir menang/menang. Ini adalah tentang niat pada saat kita berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain.
Saat membangun hubungan atau berkomunikasi dengan orang lain pastikan kita awali dengan niat baik: menang/menang. Orang lain menang, kita pun menang.
Bukan menang/kalah yg membuat kita ingin mendominasi/mengalahkan orang lain.
Bukan kalah/menang yg membuat kita didominasi orang lain.
Bukan pula kalah/kalah yg membuat kita dan orang lain sama-sama menjadi abu.
Kebiasaan 5 - berusaha memahami dulu baru minta dipahami adalah tentang mendengarkan. Mendengarkan untuk memahami. Mendengarkan apa yg penting bagi orang lain. Apa yg dianggap baik dan benar oleh mereka. Tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum kita menyodorkan sudut pandang kita.
Kebiasaan 6 - bersinergilah adalah tentang menemukan cara yg lebih baik utk bekerjasama dengan orang lain. Bukan caraku, bukan caranya melainkan cara kita yg lebih baik.
Saat niat kita baik (kebiasaan 4), kita akan mau berusaha memahami sudut pandang orang lain (kebiasaan 5). Ini semua memudahkan kita menemukan cara untuk bekerjasama secara sinergis dengan mereka (kebiasaan 6). Ini adalah kunci dalam mempengaruhi dan memimpin orang lain.
Kebiasaan 7 - mengasah gergaji, adalah tentang merawat aset yg kita punya: fisik, mental, emosional, spiritual.
Setiap pekan usahakan utk merawat dan mengasah aset kita ini.
Dengan berolahraga, membaca, bercengkerama, mengkaji ayat-ayat-Nya dsb.
Tanpa kebiasaan ini, aset kita menjadi tumpul. Kita menjadi kurang peka terhadap diri sendiri dan orang lain. Kita menjadi tidak efektif melakukan kebiasaan 1-6.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar