Psycho-Cybernetics karya Maxwell Maltz. Buku ini merupakan buku klasik terbitan tahun 1969.
Maxwell Maltz adalah seorang dokter bedah. Dia banyak melakukan bedah wajah untuk kecantikan. Dia mengamati, orang-orang yang sudah dibedah wajahnya, menjadi jauh lebih percaya diri. Sikap, perilaku bahkan cara berpikirnya pun berubah. Namun dia menyimpulkan, perubahan itu bukan terjadi karena perubahan image luar-nya saja, perubahan itu terjadi karena self-image dari orang tersebut berubah. Dari sinilah dia kemudian tertarik untuk mendalami psikologi Self-Image untuk kehidupan yang lebih baik.
Bila kita amati, perilaku kita, apa yang sering kita temui dan hasil-hasil yang sering kita dapatkan itu bisa diprediksi. Memiliki semacam kecenderungan. Seperti ada polanya.
Mereka yang sering terlambat masuk kantor, biasanya cenderung untuk selalu terlambat. Bahkan ketika dia berniat untuk tidak terlambat, seakan-akan alam semesta berkonspirasi untuk membuat dia tetap terlambat.
Demikian pula mereka yang sering kehabisan uang di tengah bulan. Berapapun yang dihasilkan, uangnya cenderung akan habis di tengah bulan. Bahkan ketika ada sisa pun, entah apa yang terjadi tiba-tiba ia menemukan cara untuk kehabisan uang di tengah bulan itu.
Keberutungan pun sama. Mereka yang sering sial, cenderung selalu sial. Sementara mereka yang sering beruntung, cenderung selalu beruntung. Seakan-akan ada sebuah servomechanism yang mengatur itu semua.
*Servomechanisme = mekanisme otomatis untuk mengoreksi jika sebuah tindakan keluar jalur.
Bayangkan sebuah peluru kendali. Saat dia sudah disetting untuk menghancurkan target tertentu, maka ia akan bergerak menuju target tersebut. Namun, apakah dia selalu bergerak lurus menuju targetnya? Tidak. Kadang ia sedikit melenceng, entah karena tekanan udara, angin dsb. Namun, di dalam peluru kendali tersebut terdapat servomechanism yang dapat mengoreksi arah peluru. Sehingga setiap kali dia melenceng, servomechanisme-nya akan mengoreksi supaya peluru kendali kembali ke jalur sebelumnya. Perilaku kita pun sama.
Itulah sebabnya, kita cenderung menemui hal-hal yang memang kita sering temui. Itulah sebabnya kita cenderung mendapatkan hasil sesuai dengan hasil-hasil yang sering kita dapatkan. Tentu saja, jika hal yang sering kita temui positif, itu oke. Jika hasil yang sering kita dapatkan bagus dan luar biasa, itu oke. Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika yang sering kita temui justru kesialan? Bagaimana jika hasil yang sering kita dapatkan adalah kegagalan?
Dan bila kita amati, semakin sering kita mendapatkan satu hal, semakin “terlatih”-lah kita mendapatkan hal yang sama.
Semakin sering sakit, kita semakin terlatih untuk sakit. Mulai dari sakit yang ringan, lama-lama menjadi terlatih dengan sakit yang lebih berat.
Semakin sering berhutang, semakin berbakat kita melakukannya. Sehingga kita menjadi ahli dalam berhutang.
Inilah servomechanism.
Saat ini terjadi, seakan-akan “nasib” kita terkunci. Semua perilaku dan lingkungan kita mengarahkan kita ke “nasib” tersebut.
Lalu, bagaimana memutus rantainya? Bagaimana pula membentuk servomechanism yang memberdayakan hidup kita?
Maltz menjelaskan bahwa servomechanism ini tidak terbentuk begitu saja. Setiap servomechanism memerlukan “settingan awal” yang jelas. Settingan awal dari servomechanisme dalam hidup kita adalah Self-Image.
Self-Image adalah cara kita melihat dan menilai diri kita sendiri. Self-Image terbentuk dari kumpulan keyakinan (belief) tentang diri kita, orang lain dan cara dunia bekerja. Self-image ini akan mengendalikan sikap, pemikiran, perasaan dan perilaku kita.
Jika kita memiliki self-image: “saya orang yang tidak menarik”. Lalu kita hadir di sebuah pesta dan berniat untuk berkenalan dengan orang baru. Maka self-image kita akan segera menghapus niat kita dengan memunculkan self-talk: “ah, orang-orang hanya akan mau berkenalan dengan orang yang menarik. Kamu itu nggak menarik. Nggak akan ada yang mau berkenalan denganmu.” Maka, kita pun cenderung menyendiri dan “gagal” berkenalan dengan orang baru.
Demikian pula sebaliknya, bila kita berpikir: “ah, paling nanti juga nggak ada yang memperhatikan saya.” Maka self-image kita akan menguatkan dengan memunculkan self-talk: “betul. Untuk orang tidak menarik seperti kamu, lebih baik kamu menyendiri saja. Masih banyak hal lain yang lebih menarik dibandingkan dengan berkenalan dengan orang baru.”
Apapun yang kita pikirkan, self-image kita seakan-akan menyetel servomekanisme ke setelan awal.
Maka, jika kita melihat diri kita sebagai orang yang sial, servomekanisme kesialan lah yang akan aktif.
Jika kita melihat diri kita sebagai orang yang beruntung, servomekanisme keberuntungan lah akan aktif.
Bagaimana jika tercampur? Kadang kita melihat diri sebagai orang sial kadang beruntung? Di sinilah servomekanisme kita akan mengalami kebingungan. Pada akhirnya dia akan bergerak ke arah yang lebih kita yakini.
Jika kita ingin menjadi orang yang beruntung namun self-image kita bertentangan – dalam hati kita meyakini bahwa itu tidak mungkin, maka servomekanisme yang berjalan adalah servo kesialan.
Jika kita ingin menjadi orang yang sukses namun self-image kita bertentangan – dalam hati kita meyakini bahwa itu tidak mungkin, maka servomekanisme yang berjalan adalah servo kegagalan.
Lalu, bagaimana solusinya? Solusinya adalah membentuk self-image baru. Caranya?
Pertama, tulis dengan detail apa yang Anda inginkan. Misal, Anda ingin menjadi pribadi yang beruntung. Seperti apa kelihatannya? Seperti apa kedengarannya? Seperti apa perasaannya?
Kedua, bayangkan Anda melihat diri Anda yang sudah menjadi pribadi yang beruntung di depan sana. Apa yang Anda lihat? Apa yang Anda dengar? Apa yang Anda rasakan?
Ketiga, biarkan ide-ide muncul dari pikiran kreatif Anda.
Keempat, lakukan tindakan-tindakan spontan terkait dengan ide kreatif tersebut.
Kelima, praktikkan keempat hal di atas berulang-ulang setiap hari dengan santai dan tanpa beban (effortless).
Bagaimana bila self-image lama masih muncul dan self-talk negatif datang mengganggu?
Praktikkan metode CRAFT
Misal Anda ingin mengubah pola sakit yang Anda miliki dan menjadi pribadi yang lebih sehat.
CANCEL
Saat tiba-tiba muncul pikiran “duh, naga-naganya mau sakit nih, sudah bersin tiga kali” segeral lakukan cancel. Katakan “cancel, batal!” atau Anda bisa gunakan kode yang Anda buat sendiri (misal mengatakan “Wuzzz” atau membayangkan menekan tombol “Ctrl + Z”)
REPLACE
Ganti dengan pemikiran yang lebih memberdayakan. Misalnya: “Allah memberi saya karunia tubuh yang sehat dan mampu menyembuhkan diri sendiri”
AFFIRM
Kuatkan dengan mengatakan kalimat afirmasi Anda. Misalnya: “semakin hari saya semakin sehat, bugar dan kuat” – katakan berulang-ulang dengan mantap.
FOCUS
Luangkan setiap hari untuk melakukan visualisasi – membayangkan diri Anda yang sehat, bugar dan kuat
TRAIN
Jangan bosan melatihnya. Meskipun Anda belum sehat, bergayalah seakan-akan Anda sehat. Seperti kata pepatah Barat “fake it till you make it” – berpura-puralah sampai pura-pura itu menjadi nyata!
Pertanyaannya: self-image seperti apa yang ingin Anda bentuk? Mulailah membentuknya, sekarang!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar