Rabu, 30 Mei 2018

TALENT IS OVERRATED

Judul bukunya TALENT IS OVERRATED artinya kurang lebih: BAKAT TERLALU DILEBIH-LEBIHKAN atau BAKAT DINILAI TERLALU TINGGI

Awal buku dimulai dari sebuah cerita menarik. Cerita dua orang pemuda, karyawan baru di P&G. Mereka bertugas menjual produk snack-nya P&G. Meskipun cukup cerdas (satu lulusan Harvard, satu lagi lulusan Dartmouth), namun prestasi mereka biasa-biasa saja.

Tidak ada bedanya dengan karyawan lainnya di perusahaan tersebut. Karyawan lain di perusahaan ini pun lulusan universitas ternama.

Bisa dibilang mereka hanya karyawan yang mengerjakan tugas harian seperti karyawan lain. Kerjanya membuat memo dari satu bagian ke bagian lainnya. Tidak punya ambisi dan tidak punya rencana karier yang jelas.

Bahkan salah satu mereka pernah berkata suatu hari "Kami terpilih sebagai dua pria yang paling tidak punya potensi untuk sukses" - menyedihkan 😁

Cerita menjadi menarik karena sebelum mereka berumur 50 tahun, masing-masing pemuda tersebut berhasil menjadi CEO di perusahaan papan atas dunia. Kedua pemuda tersebut: Jeffrey Immelt menjadi CEO General Electric dan Steven Ballmer menjadi CEO Microsoft!

Pertanyaannya adalah: BAGAIMANA mereka melakukannya? Apa rahasianya?

Apa karena BAKAT? Jelas tidak, pada umur 20-an tidak nampak tanda-tanda bahwa mereka berbakat.

Apa karena OTAKnya? Mereka memang cerdas, lulusan universitas ternama, lalu apa yang membedakan mereka dengan lulusan lainnya?

Apa karena KERJA KERAS? Sudah jelas, dari cara mereka bekerja di P&G mereka jauh dari kerja keras.

Bila kita ingin sukses di bidang kita, maka kita perlu menjadi seorang GREAT PERFORMER - pemain hebat, bukan pemain rata-rata.

Lalu apa yang membedakan antara pemain hebat dengan pemain rata-rata? Apakah pengalaman? Bakat? Kecerdasan secara umum?

LIhat di sekeliling Anda. Berapa banyak orang yang sudah berpengalaman 10, 20 bahkan 30 tahun di pekerjaan/profesinya namun prestasi mereka biasa saja? Banyak bukan? Mereka tetap menjadi pemain rata-rata. Ini menandakan pengalaman saja tidak dapat membuat seseorang menjadi pemain hebat.

Bakat? Berapa banyak pula orang yang disebut berbakat sewaktu kecil/mudanya namun saat ia dewasa mereka tidak menjadi pemain hebat? Banyak juga bukan?

Kecerdasan? Memori? IQ? Sudah banyak riset yang menunjukkan tidak ada korelasi nyata antara hal-hal ini dengan keberhasilan seseorang dalam sebuah bidang.

Lalu, apa rahasia yang membedakan antara pemain hebat dengan pemain rata-rata?

Melalui riset yang ektensif kepada para pemain musik, olahragawan, dan profesional yang masuk kategori pemain hebat - Anders Ericson menyimpulkan rahasianya ada pada DELIBERATE PRACTICE.

DELIBERATE PRACTICE = latihan yang terencana.

Semua pemain hebat menginvestasikan waktunya untuk melakukan DELIBERATE PRACTICE.

Seperti apakah deliberate practice itu? Kita akan bahas sebentar lagi setelah saya membahas tentang Jerry Rice.

Jerry Rice dikenal sebagai pemain NFL terhebat di dunia. Posisinya di olahraga football adalah sebagai receiver, dia dikenal sebagai receiver terhebat di sepanjang sejarah football dunia. Apa yang membuat Rice menjadi sangat hebat?

1. Dia meluangkan sedikit waktu untuk bermain football. Seorang pemain hebat, lebih banyak meluangkan waktu untuk berlatih daripada tampil. Namun saat mereka tampil, mereka tampil dengan permainan terbaik mereka.

2. Dia merancang latihannya untuk mencapai sebuah kebutuhan spesifik tertentu. Dia tidak bernafsu untuk menguasai semua skill dalam football secara hebat. Dia fokus pada skill sepsifik yang terkait perannya seorang receiver.

3. Dia lebih banyak berlatih sendiri. Tidak bergantung pada tim maupun pelatihnya. Ia menerima umpan balik dari pelatihnya, lalu melatihnya berulang-ulang sendiri sebelum bertemu dengan pelatihnya lagi.

4. Latihannya tidak menyenangkan. Latihan yang ia lakukan melelahkan secara fisik maupun mental, namun ia tetap melakukannya.

Apa yang dikakukan oleh Rice ini serupa dengan apa yang dilakukan oleh pemain hebat lainnya. Coba bayangkan seorang master kungfu, polanya akan sama.

1. Mereka meluangkan lebih banyak berlatih daripada bertarung.
2. Mereka melatih jurus yang spesifik.
3. Mereka lebih banyak berlatih sendiri.
4. Latihan yang mereka lakukan tidak menyenangkan, melelahkan.

Ini semua selaras dengan konsep deliberate practice.

Ciri dari deliberate practice:

Pertama, didesain secara spesifik untuk meningkatkan performa. Jadi bukan sekadar latihan biasa yang tanpa target spesifik.
Kedua, pengulangan dalam jumlah yang banyak.
Ketiga, ada umpan balik. Punya standar mana yang tepat, mana yang tidak - dan ada umpan balik terkait latihannya apakah sudah tepat atau belum.
Keempat, melelahkan secara fisik dan mental. Pemain hebat meluangkan waktu berlatih minimal 2 jam sehari, sementara pemain rata-rata hanya 15 menit saja.
Kelima, tidak menyenangkan.

Pertanyaan kuncinya: kita ingin hebat dalam bidang apa?

Sudahkah kita mendesain latihan spesifik kita?

Berapa jam per hari kita melatihnya?

Apakah kita hanya mengulang-ulang latihan yang sama atau mengulang dengan umpan balik dan perbaikan?

Bila kita tidak mau berinvestasi untuk berlatih yang melelahkan seperti ini, jangan bermimpi menjadi pemain hebat di bidang Anda. Bertahanlah sebagai pemain rata-rata dan nikmati standar rata-rata ini di sepanjang hidup Anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar