Rabu, 30 Mei 2018

The power of less

Banyak orang merasa perlu melakukan lebih banyak, padahal kunci dari kebahagiaan dan keteraturan adalah melakukan lebih sedikit.

Kita hidup di dunia yang penuh dengan distraksi dan banjir informasi. Satu-satunya cara untuk tetap waras adalah memilih secara sadar apa yang kita masukkan ke kepala kita.

Dengan membuat batasan, kita "terpaksa" hanya akan fokus pada hal-hal yang penting. Hal-hal yang esensial.

Dengan membuat batasan, kita hanya akan fokus pada hal-hal yang berdampak besar, bukan hanya hal-hal yang menyibukkan kita.

Membuat batasan menyederhanakan hidup kita.

Coba pikirkan salah satu area hidup yang membuat Anda kelimpungan. Ini terjadi karena Anda tidak membuat batasan. Anda perlu menyederhanakannya.

Batasi keinginan memiliki terlalu banyak, batasi keinginan menyimpan terlalu banyak. batasi keinginan menerima informasi lebih banyak, batasi menerima tanggung jawab lebih banyak.

Maka, apa yang bisa mulai Anda batasi saat ini? Waktu chat di medsos? Membaca informasi sampah? Mengerjakan hal-hal rutin yang tidak berdampak? Atau apa?

Setelah membuat batasan, langkah selanjutnya adalah memilih hal yg esensial dan mengeliminasi hal-hal yg non esensial.

Apa kriteria hal yg esensial?

Sederhana, hal yg esensial biasanya hal yg berdampak besar bila dilakukan.

Fokuskan pikiran dan tenaga kita utk hal-hal esensial saja.

Di sinilah penting bagi kita memiliki keterampilan utk fokus.

Fokus pada apa yg penting.
Fokus pada tujuan.
Fokus melakukan satu tugas, satu waktu.

Langkah terakhir adalah memulai kebiasaan baru terkait hal-hal esensial dalam hidup kita.

Mulailah kebiasaan secara bertahap. Mulai dari yg mudah, kecil dan sedikit.

Katakanlah Anda memutuskan "menulis buku" sebagai hal yg esensial dalam karier Anda. Maka, mulailah menciptakan kebiasaan menulis.

Jangan terlalu ambisius. Mulailah dengan kebiasaan kecil. Misalnya menulis 1 paragraf sehari atau menulis 10 menit per hari.

Intinya mulailah kebiasaan yg sangat-sangat mudah Anda mulai. Kebiasaan yg tidak perlu mengandalkan motivasi tinggi utk melakukannya.

Olahraga masuk hal esensial? Mulailah dengan 2 push up setiap bangun tidur misalnya.

Membaca buku masuk hal esensial? Mulailah dg membaca 1 paragraf setiap selesai shalat shubuh misalnya.

Mulailah kebiasaan baru utk memastikan Anda berinvestasi di hal-hal yg esensial dalam hidup Anda.

Menurut Fogg, ada tiga elemen perubahan perilaku.

1. Motivasi (motivation)
2. Kemampuan (ablity)
3. Pemicu (trigger)

Ketiganya perlu bertemu di momen yang sama, barulah perilaku akan muncul. Bila salah satunya hilang, perilaku pun tidak akan muncul.

Mengubah perilaku memerlukan motivasi. Berolahraga misalnya, motivasinya bisa untuk sehat, agar terlihat keren, atau supaya bisa kongkow dengan teman.

Mengubah perilaku juga memerlukan kemampuan. Kemampuan dan motivasi sangat berhubungan. Semakin sulit perilaku dilakukan, semakin besar motivasi yang diperlukan untuk melakukannya. Sebaliknya, semakin mudah perilaku dilakukan, semakin sedikit motivasi yang diperlukan untuk melakukannya.

Terakhir, mengubah perilaku memerlukan pemicu. Sesuatu yang mengatakan kepada Anda: sekaranglah waktu untuk melakukannya!

Menurut Fogg ada tiga macam motivasi:

1. Sensasi - kenikmatan/kesengsaraan.
2. Antisipasi - ketakutan/harapan
3. Rasa dimiliki (kata aslinya 'belonging' - susah cari padanan katanya dalam bahasa Indonesia hehe) - penolakan/penerimaan oleh orang lain

Kita bisa menggunakan salah satu dari tiga macam motivasi di atas untuk mengubah perilaku.

Elemen kedua adalah kemampuan. Sudah tentu, kita memerlukan kemampuan untuk melakukan sesuatu.

Ada dua cara meningkatkan kemampuan:

1. Cara sulit: melatih diri supaya mampu melakukan perilaku yang diharapkan.
2. Cara mudah: menurunkan target perilakunya supaya kita mampu melakukannya.

BJ Fogg menyarankan cara kedua.

Contoh:

Kita ingin berolahraga rutin. Kita bisa saja menargetkan berolahraga 30 menit per hari. Namun, bila belum terbiasa. Target ini akan sangat sulit. Bagaimana bila diturunkan jadi 1 menit per hari? Lebih mudah bukan?

Seiring waktu, kita tambahkan jadi 2 menit, 4 menit, 10 menit sampai target yang kita inginkan tercapai.

Kuncinya adalah bagaimana perilaku yang diinginkan bisa segera kita mulai. Tanpa menunggu nanti.

Elemen terakhir adalah pemicu. Apa hal yang dapat membantu kita untuk memulai perilaku tersebut? Kita bisa gunakan pengingat, penanda atau kebiasaan yang sudah jadi.

Gunakan format:

Setelah...., saya akan ...
Sebelum..., saya akan ...

Contoh:

Setelah shalat dhuhur, saya akan membaca 1 paragraf.
Sebelum mandi pagi, saya akan push up 2x

Ini membuat rantai perilaku lebih mudah terbentuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar