Kamis, 31 Mei 2018

Think Smarter

"Udah, jangan kebanyakan mikir, action saja"

Pernah dengar pernyataan seperti ini?

Pernyataan ini seringkali membuat kita mendiskreditkan proses berpikir. Seakan-akan banyak berpikir itu salah dan tidak tepat.

Menariknya, nasihat ini sering kita dengar dalam berbagai konteks yg berbeda.

Termasuk dalam konteks bisnis.

Buat apa berpikir? Kita tidak dibayar hanya dengan berpikir.

Akhirnya kita melompat ke kesimpulan: dalam bisnis, berpikir itu tidak penting.

Menariknya, kesimpulan ini justru bertentangan dg nasihat dari Keith Cunningham (mentornya pak Heppy Trenggono).

Menurut Cunningham, berpikir adalah pekerjaan utama seorang pebisnis.

Setiap pebisnis perlu menyisihkan waktu khusus untuk berpikir.

Tidak banyak pebisnis dan timnya yg mau berpikir (yg berkualitas). Kita cenderung asal-asalan dalam berpikir. Semrawut, tidak menggali lebih dalam, buru-buru mengambil kesimpulan dsb.

Mengapa? Karena berpikir yg baik memerlukan keahlian. Dan keahlian memerlukan latihan. Utk berlatih kita membutuhkan metode dan alat yg tepat.

Buku ini mengajarkan tentang Critical Thinking. Sebagai istilah untuk  membedakan dengan proses berpikir sehari-hari yg bersifat otomatis (automatic thinking).

Apa yg dimaksud dg Critical Thinking?

1. CT adalah berpikir manual (non otomatis)
2. CT adalah berpikir yang bertujuan
3. CT adalah berpikir sadar
4. CT merupakan proses
5. CT menggunakan framework dan tool set tertentu

Kapan CT dilakukan? Ketika situasi yg perlu dipecahkan itu substansial. Artinya hasil dari berpikir kita (keputusan misalnya) memberikan perbedaan signifikan dalam hidup/bisnis kita.

Setidaknya ada tiga manfaat melatih CT.

1. Melihat masalah dari sudut pandang yg berbrda.
2. Mencegah dan mengklarifikasi distorsi dalam menerima informasi.
3. Memberikan kerangka kerja utk berpikir secara lebih efektif.

CT adalah berpikir secara sadar dan bertujuan menggunakan serangkaian framework dan tool tertentu.

Framework CT:

1. CT dimulai dengan mendapatkan CLARITY (Kejelasan).

2. Dilanjutkan dengan menemukan CONCLUSION (Kesimpulan).

3. Diakhiri dengan mengambil DECISION (Keputusan).

CLARITY

Ini adalah tahap mendapatkan kejelasan ttg isu, masalah atau tujuan yg akan kita pecahkan. Tanpa kejelasan, solusi (baca: cara) tidak akan mudah didapatkan.

Banyak orang sibuk memikirkan cara memecahkan masalah yg mereka hadapi. Namun mereka sendiri sebenarnya belum clear dg masalahnya. Mereka tdk merumuskan masalahnya dg baik. Mereka tidak mengisolasi dan mendefinisikan masalahnya dg tepat. Tentu saja hal ini akan membuat proses penemuan solusinya menjadi ngawur.

Ada juga yg sibuk mencari cara untuk mencapai tujuannya. Namun tujuan mereka masih ambigu, abstrak, tidak terdefinisikan dg jelas. Ini pun akan membuat proses untuk menemukan cara mencapai tujuan tersebut menjadi sulit.

Tentukan dulu kita mau kemana dg jelas, barulah kita pikirkan cara menuju ke sana.

Tools untuk mendapatkan CLARITY ini ada banyak. Kallet merekomendasikan 10 tools:

1. Bucket list
2. Inspection
3. Why?
4. So what?
5. Need
6. What's next
7. What else?
8. Ingredients diagram
9. Vision
10. Thinking coach

Tentu saja saya tidak bisa bahas satu per satu di sini. Rekomendasi saya: beli bukunya 😁

Atau bagi yg sudah belajar NLP, dalami kembali tiga materi pokok:
1. Meta model
2. WFO (well-formed outcome)
3. NLL (Neuro Logical Level).

Tiga materi ini cukup membantu kita dalam menemukan clarity.

Dari 10 tools ini,

1. Bucket list
2. Inspection
3. Why?
4. So what?
5. Need
6. What's next
7. What else?
8. Ingredients diagram
9. Vision
10. Thinking coach

Saya akan bahas tools nomor 2: inspection.

Dalam definisi saya, inspeksi adalah proses berpikir untuk mengubah pemikiran yg abstrak menjadi pemikiran yg lebih kongkrit.

Caranya dengan mengajukan pertanyaan presisi. Sehingga kata benda yg umum menjadi lebih spesifik, kata kerja yg abstrak menjadi kata kerja operasional kongkrit.

Contoh:

Kita perlu meningkatkan kualitas layanan.

Ini adalah ide yg terlalu umum dan abstrak.

Dengan inspeksi, kita ajukan pertanyaan:

- kita: siapa yg dimaksud dg kita? Divisi pelayanan? Seluruh orang di perusahaan? Termasuk suplier? Konsumen? Siapa persisnya?

- perlu: Harus? Atau ingin?

- meningkatkan: dari berapa ke berapa? Apa ukurannya? Bagaimana persisnya yg dimaksud dengan meningkat?

- kualitas: apa yg dimaksud dg kualitas? Apa kriterianya?

- layanan: layanan yg mana? Apakah semua layanan? Atau sekadar persepsi thd layanan secara umum? Atau bahkan hanya survei kepuasan thd layanan?

Dengan demikian tujuan yg kabur menjadi lebih spesifik dan kongkrit.

Sehingga setiap orang di organisasi yang mendengarnya memiliki persepsi yg sama dengan pernyataan tujuan tersebut.

Tujuan dari tahap CLARITY adalah kita bisa melihat situasi dengan jernih dan jelas.

Kita perlu sabar meluangkan waktu di tahap ini dan tidak terburu-buru bergeser ke tahap berikutnya.

Tahap CLARITY memang tidak memecahkan masalah apapun. Tahap ini hanya bertujuan memetakan masalah yg perlu dipecahkan sejelas-jelasnya.

Alasan terbesar kenapa sebuah masalah, ide, proyek tidak tertuntaskan adalah karena KETIDAKJELASAN sejak awal mulanya.

Kapan tahap CLARITY kita anggap selesai sehingga kita dapat bergeser ke tahap berikutnya?

Tanyakan pertanyaan ini:

“Apakah saya/orang yg terlibat telah memiliki definisi yang konsisten tentang apa artinya, mengapa kita mengerjakannya, siapa yang harus dilibatkan, mengapa itu perlu dipecahkan, dan seperti apa keberhasilan ketika dipecahkan?”

Jika jawabannya YA, barulah kita bergeser ke tahap berikutnya.

Bila kita tidak meluangkan cukup waktu di tahap CLARITY dan terburu-buru masuk ke tahap CONCLUSION, khawatirnya kita justru menyasar dan memecahkan masalah yg salah

CONCLUISON adalah tentang PREMIS.

Premis = pernyataan yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan.

Ingat bahasan penalaran saat kita sekolah?

Ada dua macam penalaran:

1. Deduktif
2. Induktif

Contoh penalaran deduktif:

Semua manusia akan mati pada waktunya.
Saya manusia.
Saya akan mati pada waktunya.

Dalam penalaran deduktif, kalimat awal merupakan pernyataan yang dianggap benar.

Sayangnya, tidak semua pernyataan yang dianggap benar, benar benar benar.

Pernyataan awal yang dianggap benar ini diistilahkan dengan premis umum.

Pada contoh di atas:

Semua manusia akan mati pada waktunya —> Premis Umum
Saya manusia —> Premis Khusus
Saya akan mati pada waktunya —> Kesimpulan (istilahnya silogisme)

Penalaran deduktif akan salah hasilnya bila premis umum yang digunakan "salah".

Contoh:

Semua ustadz berpeci putih.
Roni berpeci putih.
Roni adalah ustadz.

Ini adalah silogisme yang salah nalar.

Sekarang kita bahas penalaran induktif. Penalaran induktif adalah proses menarik kesimpulan umum berdasarkan bukti/fakta khusus.

Contoh:

Andi adalah seorang coach, ia pintar.
Budi adalah seorang coach, ia pintar.
Cahya adalah seorang coach, ia pintar.
Kesimpulan: semua coach pintar.

Tiga pernyataan awal di atas disebut dengan premis.
Pernyataan keempat disebut dengan konklusi (kesimpulan).

Sebagian besar proses berpikir kita adalah penalaran induktif. Kita menyimpulkan banyak hal melalui proses induktif ini.

Semakin kokoh premis awalnya, semakin besar kemungkinan kesimpulannya benar.

Ada 5 macam premis: fakta, observasi, pengalaman, keyakinan, dan asumsi.

Keyakinan adalah kumpulan asumsi-asumsi yang kita gunakan dan kita membangun asumsi menggunakan fakta, observasi, serta pengalaman.

Dalam CT, kita perlu terampil membedakan mana fakta dan mana yang bukan fakta.

Observasi adalah apa yang kita baca dan dengar. Tidak semua hasil observasi itu fakta.

Kita pun perlu terampil membedakan mana fakta mana observasi agar penilaian kita akurat.

Pengalaman adalah sesuatu yang pernah kita alami sendiri. Semakin Anda berpengalaman di satu isu tertentu, semakin kokoh premis yang Anda gunakan.

Premis dengan fakta akan sangat kuat dan kokoh. Premis yang hanya didasari hasil observasi tidak sekuat premis yang didasari oleh pengalaman kita sendiri.

Belief adalah kumpulan premis yang tidak kita sadari menjadi landasan dalam menyimpulkan dan memutuskan sesuatu.

Asalnya dari asumsi yang kita buat. Pemikiran yang kita anggap benar berdasarkan pengalaman, observasi, dan fakta-fakta yang kita dapatkan.

Dalam Automatic Thinking, kita menerima asumsi begitu saja.

Dalam Critical Thinking, kita perlu mempertanyakan asumsi yang kita gunakan.

Perhatikan bagaimana kelima hal di atas mempengaruhi kesimpulan kita:

Situasi: Saya sedang di Jakarta dan berencana pulang ke Bandung esok hari. Namun, tiket Kereta Api habis. Apa yang perlu saya lakukan?

Fakta: Tiket KAI habis. Besok Jum'at dan Long Wiken.

Observasi: Menurut berita, puncak kemacetan Jakarta-Bandung akan berlangsung Jum'at besok.

Pengalaman: Tahun lalu, saat long wiken perjalanan Jakarta-Bandung mencapai 7 jam.

Asumsi: Besok akan macet, perjalanan bisa mencapai 7 jam.

Keyakinan: kenyamanan lebih penting daripada uang.

KONKLUSI: Saya perpanjang menginap di Jakarta, beli tiket KA untuk Ahad pagi, menghubungi rekan untuk ketemu besok (supaya nggak nganggur-nganggur amat).

Semakin kuat premisnya, semakin dapat diandalkan kesimpulannya, semakin percaya diri kita memutuskannya.

Sayangnya, sebagian besar dari kita sering langsung melompat ke kesimpulan. Tidak meneliti premis yang digunakan. Langsung menyimpulkan begitu saja.

Setelah tahap CONCLUSION barulah kita bergeser ke tahap DECISION.

Saya tidak akan bahas banyak terkait tahap ini. Silakan langsung merujuk ke bukunya 😁

Sekian bahasan dari buku Think Smarter ini. Rekomendasi saya, beli dan baca buku ini. Apa yang saya bedah mungkin baru mencover 10% dari buku tersebut (bahkan mungkin kurang).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar