Kamis, 31 Mei 2018

The Life-Changing Magic of Tidying Up

Marie Kondo The Life-Changing Magic of Tidying Up.

Buku ini membahas bagaimana beres-beres rumah alias berbenah dapat mengubah hidup.

Menurut Kondo, merapikan rumah artinya merapikan aspek kehidupan kita lainnya.

Saat rumah rapi, urusan pekerjaan dan keluarga pun ikut rapi.

Dengan menata ulang rumah kita secara menyeluruh, gaya hidup kita dan pola pikir kita ikut berubah drastis.

Kita akan mengalami transformasi besar dalam diri dan kehidupan kita.

Bila Anda merasa hidup Anda berantakan, mulailah dengan menata kembali rumah Anda.

Membereskan rumah juga berarti membereskan masa lalu kita. Anda akan bisa melihat dg lebih jernih apa yg sebenarnya Anda butuhkan dan apa yg tidak Anda butuhkan dalam hidup.

Mengapa demikian? Karena Anda berhasil menyingkirkan berbagai penghalang (baca: sampah) dari rumah Anda.

Orang Jepang meyakini bahwa kamar tidur yg rapi dan kamar mandi yg bersih mendatangkan keberuntungan.

Prinsip Fengshui Tiongkok pun sama. Rumah yg berantakan menghambat aliran energi, menjauhkan kita dari kekayaan dan keberuntungan.

Prinsip beres-beres Konmari Method adalah mulai dengan membuang lalu rapikan ruangan Anda secara menyeluruh, sekaligus, dalam satu waktu.

Pernah merasa Anda sudah beres-beres ketika rumah berantakan namun dalam waktu singkat rumah Anda berantakan kembali?

Ini terjadi karena Anda hanya merapikan dan menyimpan.

Anda tidak benar-benar membuang barang yg tidak diperlukan.

Menurut Kondo, berbenah sedikit-sedikit tiap hari berarti berbenah tanpa henti. Dan ini melelahkan.

Piawai menyimpan saja tidak cukup. Anda perlu membuang sekaligus barang-barang yg tidak Anda perlukan.

Piawai menyimpan sama dengan menimbun.

Kita terbiasa menyimpan barang di tempat yg tak terlihat. Ini memunculkan ilusi seakan-akan situasi yg amburadul sudah teratasi. Padahal tidak.

Kondo menyarankan agar kita berbenah bersdasarkan kategori. Bukan berdasar lokasi.

Mulailah dg membuang semuanya sekaligus, tanpa ampun dan sampai tuntas.

Jangan menyimpan barang jika kita belum selesai membuang.

Kriteria seleksinya mudah: apakah barang ini membangkitkan kegembiraan saya atau tidak?

Pilih barang yg ingin Anda simpan. Bukan pilih barang yg ingin Anda buang

Kita berat hati membuang barang setidaknya karena 3 alasan.

1. Nilai fungsional - barang tsb masih bisa kita gunakan.

2. Nilai informatif - barang tsb memuat informasi yg bermanfaat.

3. Nilai emosional - barang tsb memiliki kenangan.

Kategori urutan yang disarankan adalah sbb:

1. Pakaian
2. Buku
3. Kertas
4. Pernak pernik
5. Barang kenangan

Mulailah dg membuang barang milik Anda sendiri. Keinginan menegur org lain yg tidak rapi adalah pertanda bahwa Anda melalaikan ruang pribadi Anda sendiri.

Berbenah adalah dialog dg diri sendiri. Waktu terbaik adalah di pagi hari. Udara pagi yg segar menjernihkan benak Anda dan menajamkan penilaian Anda.

Sewaktu memilih barang yg mau dibuang, penghambat utama adalah pikiran rasional kita. Meski secara intuitif barang tsb sdh tidak menarik namun kita berpikir "siapa tahu aku membutuhkannya kapan-kapan." Ini adalah hambatan terbesar dalam berbenah.

Agar bisa sepenuh hati mensyukuri apa yg paling penting bagi kita, pertama-tama kita harus membuang barang-barang yg sudah tidak bermanfaat.

Membereskan pakaian.

Urutan:
1. Atasan
2. Bawahan
3. Pakaian yg digantung (mantel, jas, jaket)
4. Kaus kaki
5. Baju dalam
6. Tas
7. Aksesori
8. Pakaian khusus (baju renang dsb)
9. Sepatu

Letakkan setiap lembar pakaian di lantai. Pegang satu per satu. Tanyakan: apakah ini membangkitkan kegembiraan?

Dilarang mengalihfungsikan pakaian menjadi "baju rumah"

Apa yg Anda kenakan di rumah memengaruhi citra diri Anda.

Dalam budaya Jepang, melipat baju itu mengalirkan energi positif pada pakaian.

Saat melipat usapkan telapak tangan pada baju, munculkan rasa syukur dan salurkan rasa cinta ke baju Anda.

Kunci menyimpan pakaian agar rapi: memberdirikan bukan menidurkan.

Bukan ditumpuk melainkan dijejer.

Agar dapat disimpan dg berdiri, Anda perlu melipatnya dalam bentuk kotak. Seperti tutorial di atas

Setiap pakaian dilipat dg cara yg paling pas dengan "kepribadian" mereka.

Bahan tipis lembut berbeda dg bahan tebal mengembang.

Mengapa banyak lemari pakaian berantakan:

1. Terlalu banyak isi yg dijejalkan.
2. Tidak tahu cara menyimpan/menatanya.

Kunci lemari rapi:
Tata pakaian hingga menaik ke kanan.

Garis naik ke kanan membuat kita merasa nyaman.

Ini dapat menggembirakan hati setiap kali kita membukanya.

Perlakukan kaos kaki dan stoking dg hormat. Jangan pernah menggulungnya. Lipatlah dg baik.

Laci bertingkat lebih direkomendasikan sbg tempat penyimpanan.

Buku adalah salah satu jenis barang yang paling sukar diikhlaskan oleh orang-orang, termasuk saya.

Cara menyortir buku sama dengan menyortir barang lainnya. Tanyakan: "apakah buku ini mendatangkan kegembiraan atau tidak saat disentuh?"

Kita tidak membuang buku karena meyakini: siapa tahu aku bakal membacanya lagi. Kenyataannya sedikit sekali buku milik kita yang kita baca ulang.

Buku pada dasarnya hanyalah kertas yang memuat huruf-huruf cetak dan dijilid menjadi satu. Kegunaan hakikinya adalah untuk dibaca, untuk menyampaikan informasi kepada pembaca. Makna buku terletak pada informasi yang dikandungnya. Buku tidaklah bermakna bila dibiarkan menganggur di rak.

Buku yang akan dibaca kapan-kapan artinya tidak akan dibaca sampai kapanpun.

Buku yang disimpan cukuplah buku favorit sepanjang masa.

Kali pertama menjumpai sebuah buku adalah saat paling tepat untuk membacanya.

Menyortir kertas - patokan umum: buang semuanya. Kecuali:

1. Masih dipakai.
2. Masih diperlukan selama kurun waktu tertentu.
3. Harus disimpan hingga waktu tak terbatas.

Simpan semua kertas dalam satu tempat. Jangan biarkan bertebaran di area lain di rumah.

Kertas ditata menurut tiga kategori:
1. Harus diurus.
2. Harus disimpan (dokumen kontrak)
3. Harus disimpan (lain-lain).

Menyortir komono (pernak-pernik) - simpan barang yang Anda sukai, bukan menyimpan karena ingin saja.

Urutan memilah komono:
1. CD, DVD
2. Produk perawatan kulit
3. Rias wajah
4. Aksesori
5. Barang berharga (paspor, kartu-kartu)
6. Alat elektronik kecil (kamera, kabel dll)
7. Peralatan rumah tangga (alat tulis, alat jahit)
8. Perlengkapan rumah tangga (barang sekali pakai: obat, deterjen, tisu dll)
9. Alat dapur atau alat makan
10. Lain-lain (uang receh, pajangan dll)

Buang dus barang elektronik, kabel tak jelas, barang rusak dll.

Masukkan uang receh di satu tempat.

Membuang barang kenangan tidak membuang kenangan kita. Masa lalu, seindah apapun tidak dapat dijalani kembali, yang lebih penting adalah kegembiaraan yang kita rasakan di sini saat ini.

Buang dan kurangi barang yang Anda miliki sampai terasa pas.

Asal mengikuti intuisi semua pasti beres.

Kenyataan bahwa Anda memiliki barang berlebih yang tidak tega Anda buang bukanlah bukti bahwa Anda merawat barang tersebut baik-baik, melainkan justru sebaliknya.

MENYIMPAN SECARA APIK

Buang dulu, simpan belakangan.

Pastikan setiap barang memiliki tempatnya sendiri.

Tidak ada rumah yang tidak cukup untuk menyimpan barang. Yang ada adalah kita menyimpan barang melampaui yang kita butuhkan atau inginkan.

Simpanlah barang dengan tatanan sesederhana mungkin.

Aturan menyimpan barang:

1. Simpan semua barang sejenis di satu tempat.
2. Jangan menyimpan di tempat yang tersebar-sebar.

Mudah untuk menyimpan, bukan mudah untuk mengambil.

Keadaan menjadi berantakan karena kita gagal menyimpan barang ke tempatnya. Maka, dalam urusan menyimpan barang seharusnya yang dipermudah adalah usaha kita ketika kita mengembalikannya bukan saat mengambilnya.

Ketika memilih hendak menyimpan apa, tanya hati Anda. Ketika memilih hendak menyimpan dimana, tanya rumah Anda.

Simpan secara vertikal, jangan ditumpuk.

Menumpuk membebani barang yang paling bawah.

Manfaatkan kotak sepatu/box apapun untuk menata barang Anda.

Simpan tas di dalam tas lain.

Kosongkan tas setiap hari setelah dipakai.

Barang yang bertebaran di lantai semestinya disimpan di lemari.

Keengganan kita membuang barang tertentu sejatinya hanya berakar dari dua penyebab: keterikatan pada masa lalu dan kekhawatiran pada masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar