Kamis, 31 Mei 2018

Problem Solving 101

Buku Problem Solving 101 ini ditulis oleh Ken Watanabe. Beliau adalah konsultan di Mc Kinsey yang kemudian resign karena merasa terpanggil untuk mengajarkan keterampilan pemecahan masalah untuk anak-anak di Jepang. Selama ini banyak politisi dan pakar di Jepang mendiskusikan bagaimana mengubah fokus pendidikan dari menghapal fakta ke pemecahan masalah, namun tidak ada langkah kongkrit yang dilakukan. Watanabe merasa terpanggil untuk memenuhi perannya di sana.

Menurut penulis, pemecahan masalah bukan sekadar keterampilan. Ini adalah sebuah whole mind-set. Semacam identitas diri. Kita perlu melabeli diri kita sebagai problem solver agar mampu memecahkan masalah yang kita hadapi sehari-hari dengan efektif.

Bahasan awal dimulai dengan tipe-tipe orang saat menghadapi masalah. Menurut penulis setidaknya ada lima tipe.
Miss Sigh (Nona Pengeluh)
Mr. Critic (Tuan Kritik)
Miss Dreamer (Nona Pemimpi)
Mr. Go Getter (Tuan Maju Terus)
Problem Solving Kids (Anak-anak Pemecah Masalah)

Nona Pengeluh adalah tipe orang yang cepat menyerah ketika menghadapi tantangan, meskipun kecil. Dia langsung menyimpulkan “Saya tidak akan pernah bisa melakukannya.” Dia tidak pernah mencoba.
Nona pengeluh tidak mampu mengendalikan hidupnya. Sebaliknya dia merasa menjadi korban. Dia menyalahkan orang lain atas apapun yang terjadi padanya.

Kalimat favorit Nona Pengeluh adalah:
-  Percuma, saya tidak berbakat.
-  Saya tidak akan mencobanya, bagaimana kalau nanti gagal?
-  Ini semua salah mereka

Tuan Kritik sebaliknya, dia tidak pernah takut berbicara. Dia adalah pengkritik ulung. Apapun rencana yang ia lihat atau dengar, ia mampu menemukan kesalahannya. Ketika kegagalan terjadi, dia akan langsung berkata “Saya sudah pernah bilang…”

Dia banyak sekali menemukan kesalahan orang lain. Tetapi dia tidak pernah melakukan apapun untuk dirinya sendiri. Mengkritik itu memang mudah, benar-benar mengerjakan sesuatu tidak semudah mengatakannya.

Kalimat favorit Tuan Kritik adalah:
-  Itu ide bodoh, nggak akan jalan.
-  Aku sudah bilang, ini semua salahmu.
-  Sudahlah, rencana ini tidak akan berjalan baik.

Nona Pemimpi hidup di dunia khayalnya. Ia memiliki banyak ide, namun tidak ada satu pun yang ia jalankan. Dia tidak pernah benar-benar berusaha mengubah ide dan impiannya menjadi rencana tindakan nyata. Dia hidup ideal, di dalam khayalannya, bukan di dunia nyata.

Kalimat favorit Nona Pemimpi adalah:
-  Saya akan menulis buku (tapi tidak mulai menulis juga)
-  Pasti hebat kalau saya memulai bisnis pertama saya (namun tidak satu rencana pun dibuatnya)
-  Saya ini pencipta ide, jangan ganggu saya dengan detail-detailnya

Tuan Maju Terus nampak seperti pemecah masalah awalnya. Bagi dia masalah bukanlah masalah. Ketika ada masalah terjadi, dia langsung bertindak. Motonya “Saya tidak bisa mengubah masa lalu, namun saya bisa melakukan sesuatu sekarang.”

Sayangnya, sering kali Tuan Maju Terus melakukan tindakannya tanpa berpikir terlebih dulu. Baginya, berpikir hanya membuang waktu. Bertindak jauh lebih berharga daripada berpikir. Mungkin, bila dia meluangkan sedikit waktu untuk berpikir, hasilnya akan berbeda. Hasilnya akan jauh lebih baik.

Nah, mana tipe yang menyerupai diri kita?

Pemecah Masalah berbeda dengan keempat tipe sebelumnya. Mereka fokus pada solusi. Mereka menghadapi masalah. Menetapkan tujuan dan rencana yang realistis untuk menyelesaikannya. Meluangkan waktu untuk memikirkan solusi sebelum kemudian menjalankan solusnya.

Kalimat para pemecah masalah akan nampak seperti berikut ini:
-  Ok, saya akan mencapainya dalam tiga bulan.
-  Ok, ini adalah masalah. Daripada saya mencemaskannya, saya akan mencari tahu bagaimana memecahkannya.
-  Untuk menyelesaikan ini, kita memerlukan X, Y dan Z. Mari kita coba.
-  Apa yang sudah berjalan dengan baik? Apa yang tidak berjalan dengan baik? Bagaimana cara melakukan hal ini lebih baik di masa depan?

Proses problem solving dapat dipecah menjadi 4 langkah:

1. Pahami situasi yg ada. Akui bahwa memang ada masalah.

2. Identifikasi akar masalahnya.

3. Buat rencana tindakan utk menyelesaikannya.

4. Eksekusi rencananya sampai masalah terselesaikan, modifikasi bila diperlukan.

Jadi, problem solving adalah kombinasi antara berpikir dan bertindak. Prosesnya sangat sederhana. Namun sering kali kita justru melupakan hal-hal yg sederhana.

Seorang siswa memiliki masalah: nilai matematikanya turun.

Kita tdk bisa menyelesaikan masalah tersebut jika tidak mengidentifikasi penyebabnya.

Utk memecahkannya, kita bisa pecah matematika menjadi beberapa kategori. Misalnya: aljabar, pecahan, dan geometri. Apakah ketiga kategori ini nilainya turun? Atau hanya salah satu? Katakanlah ternyata hanya nilai geometri yg turun. Maka kita bisa pecah geometri menjadi beberapa sub kategori, misalnya: simetri, sudut, dan luas. Mana di antara ketiga sub kategori ini yg turun? Bila ternyata masalahnya di simetri, maka kita perlu gali mengapa sub kategori ini bisa turun sementara lainnya tidak? Dengan demikian kita akan dapat merancang solusi utk mengatasi masalah ini.

Dalam konsep pemecahan masalah, teknik ini disebut dg logic tree.

Lihat, problem solving tidaklah kompleks. Apa yg perlu kita lakukan hanya memahami situasinya, mengidentifikasi akar masalahnya, merancang rencana tindakan dan mengeksekusinya.

Bahkan bila masalah yg Anda hadapi sangat besar dan kompleks, jika Anda belajar bagaimana memecahnya ke bagian-bagian yg lebih kecil dan lebih dapat dikelola, Anda akan dapat memecahkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar